The Last Wizard: Change The Fate

Ariaria
Chapter #28

CHAPTER 28: SUBJEK GENESIS TIGA

“Lima puluh tahun,” gumam ayahku. Matanya menyipit, mengunci sosok wanita tua yang berdiri tenang di hadapan kami. “Kau sudah memimpin dewan bahkan sebelum aku lahir.”

“Lebih lama dari itu, sebenarnya,” sahut wanita itu dengan lengkungan senyum tipis. “Namun aku tak ingin membuatmu bosan dengan detail usiaku. Panggil saja aku Direktur.”

Puluhan sosok berjubah hitam bergerak mengelilingi kami tanpa suara. Aku menghitung cepat dalam hati—sekurang-kurangnya tiga puluh orang, belum termasuk yang mungkin masih tersembunyi di balik bayang-bayang kapsul kristal.

“Kalian paham betul mengapa kalian tidak bisa menang di tempat ini,” lanjut Direktur. Nadanya teramat santai, mirip seorang pengajar yang sedang menasihati muridnya yang keras kepala. “Jadi, mari menghemat waktu. Serahkan dirimu, Yuuto, dan aku berjanji anak-anak yang ditahan di fasilitas lain akan dibebaskan tanpa syarat.”

“Kau bohong,” potongku tanpa ragu.

“Aku memang bohong,” akuinya datar, tanpa ada guratan malu sedikit pun. “Namun terkadang, kebohongan yang manis jauh lebih berguna daripada kebenaran yang pahit.”

Ayah melangkah maju, memasang badan di depanku dengan pedang yang sudah terhunus rapat. “Kau tidak akan menyentuhnya.”

“Shin…” Direktur menatapnya, memperlihatkan raut kekecewaan yang dibuat-buat. “Kau bisa saja menjadi anggota dewan termuda sepanjang sejarah kami, kau tahu? Namun dua puluh tahun lalu, kau malah memilih kabur dari kesempatan emas itu.”

“Aku memilih menjadi manusia,” balas ayahku dingin. “Kau menyebutnya kabur. Aku menyebutnya selamat.”

Direktur menghela napas, seolah benar-benar menyayangkan keputusan itu. “Baiklah. Kalau begitu, kita pakai cara yang kasar.”

Ia mengangkat sebelah tangannya.

Seketika, seluruh pasukan berjubah hitam itu melesat serentak.

“Asteria, lindungi altar kosong itu!” teriak ayahku seraya melesat menerjang barisan terdepan.

“Kenapa harus altar itu?!” balasku sambil mengayunkan pedang, menangkis tebasan dua penyerang sekaligus.

“Sebab jika mereka memaksa membuka kapsul-kapsul lain dan mengalirkan Authority-nya ke sana, kita akan menghadapi bencana yang jauh lebih mengerikan dibanding sekadar tiga puluh orang ini!”

Aku tak sempat membalas lagi. Dua sosok berjubah menerjang dari arah berlawanan, menyabetkan senjata energi yang mendesis berisik. Aku memutar tubuh, menepis tebasan pertama dengan bilah pedang, lalu memanfaatkan lonjakan Authority untuk mempercepat refleksku sepersekian detik demi menghindari sabetan kedua.

Di dekat altar, Asteria muda berjuang mati-matian. Tongkatnya memancarkan perisai pendar berlapis-lapis yang menahan gelombang serangan bertubi-tubi, meski peluh mulai membasahi dahinya akibat tekanan kekuatan yang terus melonjak.

“Xien! Reika! Situasi darurat!” teriakku pada earpiece, menepis sabetan berikutnya. “Kami butuh bantuan di Ruang Genesis, sekarang!”

Hening sejenak sebelum suara Xien memecah kesunyian, napasnya terdengar memburu. “Kami juga… terdesak di ruang arsip! Tidak bisa—”

Suara desis komunikasi itu mendadak terputus oleh dentuman ledakan yang pekak.

Lihat selengkapnya