The Last Wizard: Change The Fate

Ariaria
Chapter #29

CHAPTER 29: DIREKTUR YANG MELARIKAN DIRI

Rin melompat menerobos puing pintu yang baru saja dihancurkannya. Cahaya ungu pekat menguar dramatis dari kedua telapak tangannya. Namun, yang membuat semua orang—termasuk aku—terperangah adalah kedatangan empat sosok mungil yang berlari membuntut di belakangnya.

"Nanase?! Kaito?! Kenapa kalian bisa ada di sini?!" seruku tak percaya.

"Kami nggak bisa cuma duduk diam pas Kakak Rin bilang kalian dalam bahaya!" teriak Nanase. Wajahnya pucat dan suaranya bergetar hebat saat menatap entitas raksasa yang menjulang mengancam di tengah ruangan.

"Mereka nekat ikut," gumam Rin gusar. Ia merentangkan kedua tangan, membentangkan barikade energi ungu tepat saat gelombang radiasi merah dari Subjek Genesis Tiga meledak menghantam kami. "Aku bahkan nggak sempat menyuruh mereka pulang!"

Perisai Rin menahan sebagian besar daya hantam, meski gelombang kejutnya cukup keras untuk melemparkan kami hingga terhuyung.

"Anak-anak, berlindung di belakangku!" teriak Ayah. Tanpa membuang waktu, beliau menciptakan perisai lapis kedua di depan anak-anak begitu melihat pasokan tenaga Rin mulai surut.

Kaito, dengan tangan yang bergetar hebat dan paras seputih kertas, buru-buru membuka buku catatannya. "A-aku sudah membaca banyak literatur soal authority liar! Mereka itu tidak punya kesadaran murni, jadi tidak akan bisa ditundukkan pakai kekerasan biasa!"

"Lalu kita harus bagaimana?!" potongku sembari menahan gempuran musuh lain yang mencoba memanfaatkan kekacauan.

"Harus ada orang yang authority-nya cukup dominan untuk 'berkomunikasi' dengan mereka!" seru Kaito dari balik perisai. "Bukan menyerang, tapi merangkul dan menenangkan!"

Aku memaku pandangan pada entitas raksasa itu. Pikiranku mendadak terlempar pada ingatan pada suatu malam—saat aku memulihkan kesadaran gadis di dalam kapsul kaca. Metode yang digunakannya sama: bukan dengan paksaan, melainkan dengan niat tulus.

"Aku bisa mencobanya," gumamku.

"Yuuto, itu terlalu berisiko!" seru Ayah menahan.

"Kita tidak punya opsi lain, Yah!" balasku tegas. Sebelum ada yang sempat mencegah, aku sudah melangkah maju menembus barikade.

Aku berdiri tepat di hadapan Subjek Genesis Tiga. Tanganku terangkat ke udara—bukan dalam posisi siap menyerang, melainkan terbuka lebar, seperti menyambut sosok yang sudah terlalu lama terisolasi dalam ketakutan.

"Hei," panggilku pelan. Suaraku hampir tenggelam di antara dentum energi yang bergejolak di sekelilingnya. "Aku tahu kau tidak pernah minta dibangunkan dengan cara seperti ini."

Bayangan raksasa itu mengangkat tangannya yang masif, bersiap meremukkanku. Namun, gerakannya terhenti selama sepersekian detik—cukup lama untuk membuat seisi ruangan menahan napas.

"Ratusan tahun kau terlelap," lanjutku, memangkas jarak selangkah demi selangkah meski seluruh insting bertahan hidupku menjerit untuk lari. "Dan sekarang mereka membangunkanmu secara paksa hanya untuk dijadikan alat pembunuh. Itu tidak adil."

Entitas itu bergetar hebat. Sebuah raungan rendah yang sarat akan penderitaan mengudara dari balik kabut tebalnya.

"Aku tahu rasanya dikendalikan oleh sesuatu yang lebih besar dari dirimu sendiri," kataku. Authority-ku menguar perlahan, menyentuh kesadarannya secara halus—bukan untuk mendominasi, melainkan untuk menyapa. "Aku juga hampir kehilangan jati diriku karena hal itu."

Direktur, yang sejak tadi menyimak dengan raut tenang, mulai tampak terusik.

"Hentikan dia," perintahnya dingin pada Katsuragi. "Jika dia berhasil menjinakkan Subjek Tiga—"

"Biarkan saja," potong Katsuragi. Ia mengangkat tangan, menahan pergerakan pasukan. Matanya yang merah menatapku dengan kilat ekspresi yang sulit diterjemahkan. "Aku ingin melihat sejauh mana dia bisa melangkah."

Direktur menatap Katsuragi tajam. "Kau ingin berkhianat juga?"

"Belum," sahut Katsuragi tenang. "Aku cuma penasaran."

Aku terus merapat hingga telapak tanganku menyentuh permukaan kabut padat yang membentuk dada Subjek Genesis Tiga. Di balik manifestasi raksasanya yang mengintimidasi, aku merasakan keberadaan yang amat rapuh.

"Kau boleh berhenti sekarang," bisikku lembut. "Bukan karena diperintah oleh mereka, tapi karena kau sendiri yang berhak memilihnya."

Lihat selengkapnya