The Last Wizard: Change The Fate

Ariaria
Chapter #30

CHAPTER 30: BABAK BARU

Data yang disedot Xien dan Reika dari hard drive eksternal itu ternyata berkali-kali lipat lebih masif dari perkiraan kami. Itu bukan sekadar dokumen administrasi biasa, melainkan rekam jejak utuh setengah abad Proyek Genesis. Semuanya terinci dari momen awal organisasi itu menyadari potensi authority murniku, hingga detik-detik terakhir sebelum markas utama mereka kami ratakan.

Tiga hari penuh kami mengurung diri di markas rahasia, membedah satu demi satu berkas hologram tersebut. Anak-anak bergantian membawakan cangkir teh dan kudapan. Gouta bahkan dengan percaya diri menyusun jadwal piket konsumsi—seolah kami adalah divisi militer resmi yang beroperasi dengan hierarki ketat.

"Sebelas identitas," celekuk Reika sembari menggeser panel layar yang menampilkan potret para pemilik kapsul. "Sebagian kecil punya riwayat latar belakang yang jelas. Sisanya..." Reika menghela napas berat, "...cuma angka dan tanggal destruksi."

Mata memaku pada salah satu profil: sosok pria tua berjubah kuno yang sempat kubebaskan. Nama aslinya Kagerou, tercatat tewas secara alami pada tahun 1743—sebelum jasad dan jiwanya disita Proyek Genesis untuk dijadikan baterai penampung authority.

"Mereka merampasnya dari kematian," desisku, menahan luapan amarah yang masih mengendap. "Bukan cuma kehidupan yang disenggut, tapi juga hak paling mendasar untuk beristirahat dengan tenang."

Ayah yang duduk di sebelahku menepuk bahuku perlahan. Tanpa bersuara, sentuhan itu sudah cukup menyampaikan simpati dan sokongannya.

Pada malam ketiga, tatkala anak-anak sudah terlelap, aku menyendiri di atap pabrik tua. Dari balik ketinggian, gemerlap lampu kota berpendar tenang—seolah tak pernah tahu betapa dekatnya mereka dengan kehancuran di bawah gedung kementerian beberapa malam lalu.

Langkah kaki Ayah terdengar menyusul. Beliau mengangsurkan secangkir teh hangat ke tanganku sebelum ikut duduk memandangi cakrawala.

"Kau memikirkan ibumu, kan?" tebak Ayah tepat sasaran.

Aku mengangguk lesu. "Aku bingung harus bicara apa padanya. Delapan tahun dia mengira Ayah mati atau kabur, dan sekarang..." Aku mendengus pelan. "Aku bingung harus mulai dari mana."

"Mulailah dari kejujuran," jawab Ayah lugas. "Dia berhak tahu segalanya sekarang."

"Ayah sendiri... takut?"

Beliau menyesap tehnya, membiarkan keheningan menggantung sejenak. "Sangat," akunya jujur. "Lebih menakutkan daripada berhadapan dengan Direktur dan seluruh pasukannya. Tapi rasa takut bukan alasan untuk tetap bersembunyi. Ayah belajar hal itu dengan cara yang amat keras."

Hening kembali merengkuh kami. Setelah menimbang-nimbang, aku menyuarakan keraguan yang mengganjal sejak pertempuran terakhir.

Lihat selengkapnya