The Last Wizard: Change The Fate

Ariaria
Chapter #31

CHAPTER 31: EMPAT LOKASI, EMPAT ARAH

Peta hologram Reika memancarkan empat titik merah yang berkedip pelan. Titik-titik itu tersebar di penjuru peta dunia: satu di Hokkaido, satu di Okinawa, sementara dua lainnya jauh menyeberangi lautan—satu di Korea Selatan, dan satu lagi di sebuah kota kecil di Jerman.

"Empat subjek," kata Reika seraya memperbesar tampilan setiap titik satu per satu. "Data yang kutemukan cuma memberi lokasi umum, bukan alamat pasti. Kita harus menyelidiki lebih dalam begitu sampai di sana."

"Kita nggak bisa mendatangi semuanya sekaligus," gumamku dengan perasaan berat, menatap peta melayang di depan kami. "Empat lokasi, empat arah berbeda—sementara kita cuma satu tim."

"Makanya," potong Ayah, "kita harus berpencar."

Seketika, semua mata tertuju padanya.

"Berpencar?" ulang Xien, nada suaranya tegas menandakan ketidaksetujuan. "Setelah semua yang terjadi di ruang Genesis, kau mau kita berpisah?"

"Aku tahu risikonya," jawab Ayah tenang. "Tapi kalau kita terus bergerak sebagai satu kelompok, kita cuma bisa menyelamatkan satu orang. Tiga lainnya bakal keburu ditemukan organisasi—atau lebih buruk, dijadikan senjata seperti Katsuragi sebelum kita sempat sampai."

Aku kembali menatap peta hologram itu, mencoba menyusun skenario yang paling masuk akal di dalam kepala.

"Berapa tim yang bisa kita bentuk?" tanyaku.

"Tiga," sahut Asteria tua cepat. Tampaknya ia sudah berhitung sejak tadi. "Aku dan Asteria—" ia menoleh ke dirinya yang lebih muda, "—bisa menangani satu lokasi. Sihir kami saling melengkapi, dan kami sudah terbiasa bekerja sebagai satu unit."

"Aku dan Reika bisa ambil lokasi lain," sela Xien. "Kami sudah terbukti efektif bekerja sama di ruang arsip kemarin."

"Itu baru tiga tim untuk empat lokasi," gumamku.

"Aku dan Yuuto yang akan menangani sisanya," kata Ayah. "Authority" gabungan kita masih yang paling kuat di antara semua kombinasi yang ada."

"Berarti dua lokasi untuk kita berdua?" kataku memastikan.

"Kalau memang terpaksa," jawab Ayah. "Tapi mari berharap satu lokasi dulu yang terbukti berhasil, sebelum kita memaksakan diri lebih jauh."

Rin melangkah maju dengan kedua lengan bersedekap. "Aku akan tinggal di sini, tapi bukan cuma untuk menjaga anak-anak kali ini."

"Maksudmu?" tanyaku.

"Orang-orang yang kuhubungi kemarin," jawab Rin, "beberapa dari mereka punya keahlian yang sangat berguna—mantan tentara, mantan teknisi, bahkan ada satu orang yang dulunya bekerja di bidang intelijen sebelum organisasi menghancurkan hidupnya. Aku akan mengoordinasikan mereka dari sini. Jadi kalau ada tim yang butuh bantuan darurat, kita bisa mengirim dukungan lebih cepat."

"Pusat komando!" celetuk Kaito, matanya berbinar-binar di balik kacamata. "Seperti di novel-novel strategi yang biasa kubaca!"

"Kurang lebih begitu," jawab Rin sambil tersenyum kecil melihat antusiasme bocah itu.

Lihat selengkapnya