Pagi keberangkatan datang jauh lebih cepat dari yang kuharapkan.
Markas rahasia yang biasanya riuh oleh teriakan Nanase dan dentang alat masak Gouta, pagi itu mendadak hening. Seolah anak-anak pun bisa merasakan beratnya perpisahan yang membayang, meski kami tahu ini hanyalah sementara.
Kami berkumpul di halaman belakang pabrik—tiga tim dengan tiga tujuan berbeda. Masing-masing memikul ransel berisi perlengkapan seadanya, serta tumpukan harapan yang terlalu besar untuk ditampung tas mana pun.
"Hokkaido," ucap Asteria tua sambil membeberkan peta kertas cadangan—sebagai antisipasi jika teknologi hologram kami mendadak macet di jalan. "Kami berangkat paling awal. Penerbangan kami siang ini."
"Hati-hati di sana," pesanku. "Katanya cuaca lagi nggak bersahabat."
"Cuaca buruk bukan hal baru buatku," sahut Asteria tua dengan ukiran senyum tipis di bibirnya. "Aku pernah bertahan di tengah badai salju tiga ratus tahun lalu tanpa mantra pemanas modern kalian."
Asteria muda menepuk bahu versi tuanya. "Setidaknya kali ini kita punya jaket tebal."
"Sebuah kemajuan," gumam Asteria tua terkekeh.
Di sudut lain, Xien dan Reika sibuk mengecek ulang perbekalan untuk penerbangan mereka ke Korea Selatan.
"Kau yakin bisa kerja sama bareng Reika tanpa adu mulut?" tanyaku, setengah bergurau namun juga cemas.
"Kami sudah teruji di ruang arsip kemarin," jawab Xien sambil melirik Reika yang tengah tekun memeriksa dokumen perjalanan. "Lagipula, dia jauh lebih tenang dari dugaan awalku."
"Aku dengar, ya," celetuk Reika tanpa menoleh sedikit pun.
"Nah, itu buktinya," balas Xien seraya tersenyum kecil.
Aku menatap Xien cukup lama. Tiba-tiba saja kesadaran itu memukulku: ini bakal jadi kali pertama kami berpisah sejak malam ia melompat masuk lewat jendela kelasku.
"Jaga diri," kataku canggung.