The Last Wizard: Change The Fate

Ariaria
Chapter #33

CHAPTER 33: RAHASIA DI BALIK PANTAI OKINAWA

Okinawa menyambut kami dengan hembusan udara hangat yang terasa begitu asing—sebuah kontras tajam setelah berhari-hari paru-paru kami disesaki dinginnya beton markas rahasia dan debu reruntuhan fasilitas milik organisasi.

"Titik koordinat terakhir subjek terdeteksi di sini," ucap Ayah seraya mengetuk layar ponselnya. Sebuah peta digital memperlihatkan lokasi tujuan kami: sebuah desa nelayan mungil di pesisir timur pulau, tersudut jauh dari hiruk-pikuk pusat kota.

Kami menyewa sepeda motor tua yang mesinnya agak batuk-batuk dari tempat penyewaan kecil di dekat pelabuhan. Kami melaju menelusuri jalanan pesisir yang diapit deretan pohon kelapa dan hamparan laut biru jernih yang memukau. Rasanya nyaris bagai mimpi, seolah kekacauan berdarah yang baru saja kami lewati hanyalah ilusi belaka.

"Rasanya aneh," gumamku, membiarkan angin laut yang asin menerpa wajah. "Tempat seindah ini... padahal kita ke sini buat nyari korban proyek rahasia."

"Dunia akan terus berputar," sahut Ayah dari balik kemudi, "tak peduli seberapa hancur kekacauan yang tersembunyi di balik layarnya. Itu pelajaran paling pahit yang kupelajari selama delapan tahun terakhir."

Desa itu sunyi. Hanya ada beberapa lusin rumah tradisional beratap genteng merah, sebuah toko kelontong mungil, dan kedai makan sederhana yang tampaknya menjadi jantung kehidupan sosial warga lokal.

"Kita kumpulkan informasi dulu," kata Ayah seraya mematikan mesin motor di pelataran kedai.

Seorang wanita paruh baya di balik konter menyambut kami dengan senyum ramah khas penduduk lokal. Namun, sudut matanya menyipit penuh selidik, menyadari bahwa dua pendatang ini jelas bukan turis yang sedang berlibur.

"Cari siapa?" tanyanya dalam logat Okinawa yang kental.

"Kami sedang mencari seseorang," jawab Ayah, menimbang setiap suku kata dengan hati-hati. "Anak perempuan, usianya mungkin sebaya dengan anak saya ini. Dia kemungkinan baru muncul di desa ini beberapa tahun terakhir tanpa keluarga."

Wanita itu membeku sejenak. Matanya meneliti kami berdua dari ujung kepala hingga ujung kaki.

"Kalian... dari organisasi itu?" tanyanya tiba-tiba. Suara ramahnya menguap, berganti nada dingin yang sarat kewaspadaan.

Aku dan Ayah saling melempar pandang secepat kilat.

"Bukan!" sergapku cepat. "Kami justru ada di sini buat ngelindungin dia dari mereka."

Wanita itu menatap manik mataku dalam-dalam, menimbang kebenaran di balik ucapanku. Akhirnya, ia menghela napas panjang dan meletakkan kain lap yang dipegangnya.

"Namanya Sora," ucapnya pelan. "Empat tahun lalu dia terdampar di pantai ini setelah badai besar. Sejak hari itu, kami merawatnya seperti anak sendiri."

"Di mana dia sekarang?" potong Ayah.

"Biasanya dia menyendiri di pantai utara," jawab wanita itu seraya mengarahkan dagunya ke arah bukit. "Dia... berbeda dari anak-anak seusianya. Pendiam. Tapi dia anak yang sangat baik."

"Berbeda bagaimana?" tanyaku, meski firasatku sudah menebak arah pembicaraan ini.

Wanita itu ragu sejenak. "Kadang-kadang... kalau dia lagi sedih atau marah, air laut di sekitarnya bisa bergerak sendiri. Tapi kami warga desa sudah terbiasa. Tolong, jangan buat dia takut. Anak itu sudah terlalu banyak melarikan diri sepanjang hidupnya."

Kami berjalan menyusuri jalan setapak tanah menuju pantai utara, membelah rimbunnya semak pandan laut yang tumbuh liar di sepanjang tebing karang rendah.

Lihat selengkapnya