The Last Wizard: Change The Fate

Ariaria
Chapter #34

CHAPTER 34: PERTEMPURAN DI PANTAI LEPAS

Katsuragi tidak membuang waktu.

Sosoknya mendadak raib dari jangkauan mata. Sepersekian detik kemudian, ia sudah bergeming tepat di hadapan Ayah. Tinjunya yang diselimuti pendar energi merah pekat menghantam bilah pedang Ayah yang terangkat sebagai perisai secara brutal.

DUAAAR!

Gelombang kejut yang dahsyat meledak dan menyapu permukaan pantai, menerbangkan jutaan bulir pasir hingga membentuk badai mini. Ayah terdorong mundur beberapa meter, kedua telapak kakinya membajak dua garis dalam di pasir yang basah.

"Refleks yang mengagumkan," puji Katsuragi, mengukir senyum tipis yang meremehkan. "Sayangnya, kau tidak semuda dulu, Shin."

"Aku memang sudah tua," sahut Ayah tenang. Ia mengibaskan tangannya yang sempat gemetar akibat benturan hebat tersebut. "Namun, aku tak lagi bertarung sendirian."

Dari sudut yang tak terduga, aku melesat bagai kilat. Bilah pedangku menyambar lurus menuju rusuk Katsuragi. Dengan refleks mengerikan, pria itu berputar tepat waktu—menangkis tebasanku menggunakan lengan berbalut energi merah.

Percikan api meletup hebat di titik benturan.

"Bocah kecil," gumamnya datar, menatapku dari jarak yang teramat dekat. "Kau berkembang jauh lebih kuat dibanding pertemuan terakhir kita."

"Aku berguru pada yang terbaik," balasku tajam.

Dalam sekejap, gejolak Authority-ku melonjak drastis. Simbol hitam di lenganku membara terang.

Pertarungan sengit tak terelakkan. Kami bertukar gempuran dalam kecepatan tinggi yang mustahil dieja oleh mata telanjang.

Aku dan Ayah berotasi secara presisi—bergantian menyerang dan mengatur pertahanan. Setiap gerakan kami mengalir lancar, bak tarian maut yang telah dilatih ribuan kali. Di sisi lain, meski kewalahan digempur dari dua arah, Katsuragi terus beradaptasi dengan mengerikan. Ia membaca setiap pola serangan kami lalu melancarkan serangan balasan yang presisi.

"Gerakannya makin cepat!" bisikku seraya melompat mundur usai pertukaran sabetan yang nyaris menyayat bahu.

"Dia mempelajari ritme kita," ujar Ayah dengan napas yang mulai tersengal. "Setiap sabetan, setiap pergerakan—semua dicatat di kepalanya."

"Kalau begitu, mari kita ubah ritmenya!"

Aku mengambil jarak beberapa langkah, lalu menoleh ke arah Sora yang masih berdiri gemetar di dekat garis air. Dinding air di sekeliling gadis itu bergejolak tidak stabil.

"Sora!" panggilku kencang. "Kau bisa mengendalikan air laut?!"

"A-aku... terkadang bisa!" sahutnya panik. "Tapi aku tak pernah melakukannya secara sengaja!"

"Coba saja dulu!" teriakku menembus gemuruh angin. "Kami butuh bantuanmu!"

Sora menatap Katsuragi bergantian dengan kedua tangannya yang menggigil. Perang batin terpancar jelas di raut wajahnya—berhadapan dengan rasa takut bertahun-tahun yang berbenturan dengan dorongan kuat dari dalam jiwanya.

"Aku... tidak mau lari lagi," bisiknya pada diri sendiri.

Gadis itu menarik napas panjang, memejamkan mata erat-erat, lalu mengarahkan kedua telapak tangannya ke arah samudra luas.

Seketika, air laut di kejauhan bergejolak hebat.

Bukan sekadar ombak biasa. Dinding gelombang raksasa setinggi bangunan tiga lantai bergulung tajam dari tengah lautan. Menghempas melawan arah angin, tumpah menuju pantai dengan kecepatan yang membunuh.

"Apa-apaan—" Katsuragi menoleh, raut tenangnya retak untuk pertama kali.

"MINGGIR!" teriak Ayah seraya menyambar tubuhku dan Sora, merangkul kami menjauh dari lintasan gelombang.

BRAYAAR!

Lihat selengkapnya