Di saat Yuuto dan Shin tengah mempertaruhkan nyawa berhadapan dengan Katsuragi di pesisir Okinawa, ribuan kilometer di utara, salju turun perlahan melintasi jalanan sunyi sebuah kota kecil di pinggiran Sapporo.
Asteria muda menggosok kedua telapak tangannya berkali-kali, mengutuk hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. "Kenapa Authority-ku sama sekali tidak bisa dipakai untuk menghangatkan badan, sih?"
"Sebab kau jauh lebih lihai memicu ledakan ketimbang merakit api unggun," sahut Asteria tua seraya mengulas senyum tipis. Permata di ujung tongkat kayunya berpendar lembut, memancarkan kehangatan magis yang melingkupi area di sekitar mereka.
Langkah kaki mereka membelah hamparan salju menuju sebuah rumah kayu tua di pinggiran kota—koordinat terakhir yang tercatat dalam log data Reika sebelum jejaknya menguap tanpa bekas tiga tahun lalu.
"Data ini sudah lapuk," gumam Asteria muda, mengetuk-ngetuk layar peta di ponselnya. "Semoga saja masih ada petunjuk yang tersisa."
Bangunan kayu di hadapan mereka tampak terbengkalai, jendela-jendelanya ditutup rapat dengan barikade papan. Namun, segumpal asap tipis membubung perlahan dari cerobong—penanda bahwa ada kehidupan di dalamnya, kendati sang penghuni berusaha setengah mati untuk menyembunyikan presensinya.
Asteria tua melangkah maju, mengetuk pintu kayu itu pelan. "Permisi."
Hening. Tak ada sahutan.
Ia mengetuk sekali lagi, kali ini dengan ketukan yang lebih berbobot. "Kami bukan bagian dari Organisasi. Kami datang mencari seseorang bernama Haru."
Jeda sejenak merayap kaku. Lantas, derap langkah ragu terdengar dari balik pintu.
Pintu terkuak tipis. Sepasang mata mengintip curiga dari celah sempit yang menganga.
"Siapa kalian?" desis sebuah suara. Seorang anak laki-laki—mungkin sebaya dengan Yuuto—menatap mereka dengan intonasi yang sarat akan kewaspadaan.
"Kami kawan dari Murokame Shin," jawab Asteria muda. "Dia pernah mengulurkan tangan untuk orang-orang bersubjek seperti kamu."
Pupil mata anak itu sedikit melebar. "Shin? Dia... masih hidup?"
"Sangat hidup," timpal Asteria tua mengulas senyum hangat. "Dan kini, putranya sedang bertaruh nyawa demi membebaskan mereka yang masih diburu oleh Organisasi."
Pintu ditarik lebih lebar, memunculkan sosok pemuda berawakan kurus. Rambut peraknya tampak pucat—bukan jenis perak berkilau seperti milik Asteria, melainkan perak kusam yang menyatu dengan warna salju. Sepasang matanya berwarna abu-abu dingin.
"Masuklah," cetusnya pelan. "Sebelum kalian membeku menjadi patung di luar."