Berikut adalah hasil penyuntingan naskah dengan gaya penulisan action-fantasy / light novel yang dinamis, sinematik, serta mempertegas ketegangan atmosferik dan tempo adegan:
Unit pertama menerobos pintu depan dengan benturan masif. Kayu-kayu hancur berkeping-keping, beterbangan membelah udara.
"SEKARANG!" teriak Asteria tua. Permata di tongkatnya merekah terang, memuntahkan gelombang cahaya destruktif yang menghantam telak zirah logam tersebut, melemparnya hingga melayang jauh ke hamparan salju di luar.
Haru merentangkan kedua telapak tangannya. Dalam sekejap, area lantai di sekitar pintu membeku menjadi gumpalan es licin. Dua unit prajurit berikutnya yang mencoba merangsek masuk kehilangan tumpuan dan jatuh terjerembap.
"Tembakan bagus!" seru Asteria muda seraya meluncurkan pilar cahaya ke arah pasukan yang tertahan. "Pertahankan!"
Namun, unit-unit lain bereaksi cepat. Mereka mengepung dari jendela dan menjebol dinding samping, memuntahkan rentetan proyektil energi biru yang menghancurkan interior rumah tua itu dalam hitungan detik.
"Rumahku!" ratap Haru, kendati jemarinya tetap berfokus menjaga domain es di sekeliling mereka.
"Bicarakan urusan renovasi nanti!" tembak Asteria tua seraya membelah dua unit logam dengan sabetan kilatan cahaya dari tongkatnya.
Mereka bertiga menarik diri, memanjat sudut ruangan yang lebih sempit. Taktik itu memaksa unit-unit zirah logam menyerang dalam celah terbatas—merangsek satu per satu alih-alih mengurung dari segala penjuru.
"Taktik cerdik," gumam Asteria muda, terkesan melihat keandalan versi dirinya yang lebih tua dalam mengeksekusi strategi di tengah medan tempur.
"Pengalaman tiga ratus tahun bukan cuma pajangan," sahut Asteria tua mengulas senyum tipis, walau helaan napasnya mulai terdengar berat.
Namun gelombang musuh seolah tak ada habisnya. Mereka terus merangsek melalui setiap celah yang terbuka, mengikis benteng pertahanan ketiganya hingga mulai goyah.
"Berapa lama lagi kita bisa bertahan?!" tanya Haru dengan nada yang mulai dihinggapi panik. Tangannya bergetar hebat akibat kelelahan memanipulasi Authority secara nonstop.
"Selama napas masih berhembus," jawab Asteria tua, walau ia sadar betul jawaban itu tak cukup menenangkan.
Satu unit logam berhasil menerobos celah barikade. Cakar mekanisnya menyambar cepat ke arah Haru yang hilang fokus sejenak.
"AWAS!" Asteria muda melompat, menghempaskan tubuh Haru ke samping. Cakar baja itu menyapu lengannya, merobek kain mantel hingga darah segar merembes cepat.
"Asteria!" jerit Haru dan Asteria tua seraya menoleh serentak.
"Aku tidak apa-apa!" desis Asteria muda menahan nyeri yang menghentak. Ia mengepalkan jemari, mempertahankan posisinya walau tangannya bergetar hebat. "Tetap fokus!"
Di tengah situasi yang kian krisis, sebuah dentum langkah memecah riuh pertempuran—bukan derap logam, melainkan derap langkah manusia. Suaranya tenang, mengintimidasi, dan sarat akan kalkulasi.