Berikut adalah hasil penyuntingan naskah dengan gaya penceritaan light novel / urban fantasy yang sinematik, presisi, serta mempertegas kedalaman emosi, atmosferik pantai malam, dan dinamika taktis antar karakter:
Pembersihan luka gores di lengan Sora—kenang-kenangan kecil dari duel sengit melawan Katsuragi—baru saja usai ketika alat komunikasi Ayah mendadak menjerit nyaring, memecah kesunyian malam.
"Rin?" Ayah merespons cepat. Raut wajahnya mengeras, menangkap desakan intuitif dari intonasi di ujung saluran. "Ada apa? Kau terdengar—"
"Asteria dan Haru baru saja dikepung di Hokkaido," potong Rin tanpa basa-basi, suaranya cepat dan dibalut ketegangan murni. "Mereka selamat, tapi ada pemicu baru yang teramat krusial. Aku sambungkan langsung ke saluran mereka."
Bip pendek terdengar. Suara Asteria muda menggantikan Rin. Kendati napasnya masih menyisakan jejak kelelahan yang berat, artikulasinya tetap terdengar tajam.
"Yuuto, Shin, dengarkan baik-baik," tegas Asteria. "Sang Direktur mengutus wakilnya untuk menawarkan gencatan senjata sementara. Dan... dia menuntut untuk bertemu Yuuto secara langsung."
Aku dan Ayah saling melempar pandang. Keterkejutan melintas di antara kami seketika.
"Bertemu untuk apa?" desakku.
"Mereka tak membeberkan detailnya," sahut Asteria muda. "Namun mereka mengklaim ini vital. Sesuatu yang kabarnya memaksa sang Direktur mengkaji ulang seluruh kalkulasi rencananya sejak insiden di Ruang Genesis."
Sora, yang terduduk pasrah seraya membiarkan kain kasa membebat lengannya, mengerutkan dahi dalam-dalam. "Itu berbau jebakan."
"Mungkin," gumam Ayah. Pandangannya menerawang tajam. "Tapi bisa jadi tidak. Direktur bukan tipe manajerial yang sudi menghamburkan sumber daya berharga demi sebuah jebakan destruktif—yang sejatinya bisa ia eksekusi dengan cara yang jauh lebih efisien."
"Lantas, apa opsi kita?" tanyaku, meski instingku sudah membaca arah pemikiran Ayah.
"Itu keputusanmu, Yuuto," sahut Ayah, menyajikan respons yang melebihi perkiraanku. "Bukan aku. Kau yang ditunjuk dalam negosiasi ini, bukan diriku."
Aku menatapnya lekat-lekat. "Ayah tak berniat melarangku?"
"Aku akan bertindak sebagai pengawalmu jika kau memilih melangkah," tutur Ayah mantap. "Namun, aku tak akan mendikte pilihan ini. Kau sudah cukup dewasa untuk memikul bobot keputusan besar—kau telah membuktikannya berulang kali sejak malam pertama Xien memicu kekacauan di kelasmu."
Pandanganku mengarah ke hamparan laut Okinawa yang kian ditelan kegelapan malam, menimbang setiap probabilitas berdarah yang menanti di balik undangan tersebut.