The Last Wizard: Change The Fate

Ariaria
Chapter #38

CHAPTER 38: KEPUTUSAN SANG DIREKTUR

Pilihan kami jatuh pada sebuah taman kota tua di pinggiran Tokyo—sebuah ruang terbuka yang riuh di siang hari, namun lengang menjelang senja. Lokasi ini menawarkan sudut pandang yang luas dan banyak jalur evakuasi, memangkas risiko penyergapan tersembunyi hingga ke taraf paling maksimum.

"Kolam di pusat taman," tunjuk Ayah pada peta yang sudah kami bedah puluhan kali sepanjang perjalanan dari Okinawa. "Area ini terbuka dari empat mata angin. Jika mereka menggerakkan unit taktis, kita akan mendeteksinya dari jarak aman."

Seluruh personel tim kami telah terkonsolidasi penuh. Xien dan Reika baru saja mendarat dari Korea Selatan bersama subjek baru bernama Daichi—seorang pemuda pendiam dengan Authority manipulasi logam. Asteria muda dan tua telah kembali dari Hokkaido mendampingi Haru, sementara Sora, anggota termuda kami, berdiri tegap meski gesturnya menyiratkan kegugupan.

"Komposisi lengkap," gumam Reika, menyisir perimeter taman dengan ketajaman mata mantan analis keamanan. "Setidaknya untuk saat ini."

"Pahami posisi masing-masing," instruksi Ayah, memimpin koordinasi bak komandan lapangan berpengalaman. "Xien dan Reika mengunci perimeter dari lantai atas apartemen utara. Duo Asteria mengamankan rute evakuasi cadangan di sisi selatan. Sora, Haru, dan Daichi bersiap di garis luar untuk memberi dukungan jika situasi memburuk secara drastis."

"Lantas bagaimana dengan Ayah?" tanyaku.

"Aku menyertaimu di garis depan," sahut Ayah tenang. "Namun dalam jarak terukur—cukup dekat untuk merespons ancaman, namun tidak terlalu membentengi hingga terkesan provokatif."

Aku mengangguk, meski perutku melilit tegang seiring detik-detik pertemuan yang kian mendekat.

Sebelum tim membubarkan diri menuju koordinat masing-masing, Xien melangkah mendekat. Tatapannya tertuju lekat pada iris mataku.

"Kau masih memiliki opsi untuk mundur, Yuuto." Ujar gadis tersebut, meski nada suaranya mengindikasikan bahwa ia sudah tahu pasti apa jawabanku.

Aku menyunggingkan senyum tipis. "Aku paham—Tapi aku tidak akan mundur."

Xien mengangguk pelan. Kemudian—seperti gestur spontan di bandara sebelumnya—ia merengkuh tubuhku dalam pelukan singkat, kali ini tanpa kekakuan yang biasanya menyertai interaksi kami.

"Jangan mati," bisiknya tajam. "Aku serius."

"Aku juga serius saat berjanji tidak akan mati," balasku mantap.

Matahari mulai tenggelam di ufuk barat saat sebuah sosok muncul dari balik vegetasi jalan setapak menuju kolam. Sang Direktur melangkah sendirian, tanpa pengawalan visual. Mantel panjangnya melambai pelan diterpa angin sore.

Aku berdiri menantinya di tepi kolam. Ayah mengambil posisi beberapa meter di belakangku—posisi yang netral, namun taktis.

"Kau hadir tanpa pengawal," ucapku saat Direktur menghentikan langkahnya dalam jarak beberapa meter.

"Sesuai kesepakatan," sahutnya datar dan tenang. "Kendati aku sadar betul tim penembakmu telah mengepung taman ini dan mengunci setiap pergerakanku."

"Kalkulasimu tidak salah," balasku tanpa berniat menutupi fakta.

Lihat selengkapnya