"Dia benar-benar menyerahkan kunci enkripsinya," gumam Xien, memutar-mutar objek logam kecil itu di bawah pendar lampu markas. "Masih sulit dipercaya."
"Verifikasi adalah prioritas sebelum kita melangkah," sela Reika cepat. Jarinya menari lincah di atas papan ketik, meretas sistem pemantauan untuk melacak anomali sinyal di sekitar reruntuhan gedung Kementerian Energi Alternatif. "Jika sang Direktur sungguh menarik seluruh personelnya, harus ada depresi kurva aktivitas yang signifikan."
Kami menanti dalam ketegangan. Layar-layar monitor di hadapan Reika membiaskan garis-garis data yang berganti kilat.
"Ini anomali," gumam Reika usai mengunci data spesifik. "Frekuensi aktivitas di sekitar perimeter reruntuhan merosot tajam sejak semalam—tepat setelah konfrontasimu di taman. Tingkat keberadaannya nyaris nol."
"Buktinya valid," ucapku, merasakan secercah harapan mulai merekah di dalam dada.
"Atau itu skenario perangkapan yang amat rapi," tukas Ayah, kendati agak skeptis dalam intonasi melunak. "Namun secara statistik, ini adalah pola konsisten dari evakuasi penuh, bukan penyiapan perimeter jebakan."
Kami memutuskan untuk mengeksekusi operasi pada keesokan harinya. Komposisi tim kali ini diturunkan dalam skala masif—hampir seluruh personel operasional dikerahkan demi mengantisipasi segala variasi risiko yang mungkin tersembunyi di balik keputusan sang Direktur.
Siang hari membuat reruntuhan gedung Kementerian Energi Alternatif tampak jauh lebih mengerikan dibanding malam penyerbuan kami sebelumnya. Puing-puing beton berukuran raksasa berserakan, sementara atap yang ambruk membiaskan celah-celah gelap menuju kompleks Bawah Tanah Genesis.
"Sunyi," gumam Daichi. Iris matanya menyapu sekeliling dengan ketajaman naluri tempur yang presisi—refleks terlatih dari masa-masanya bertahan hidup sebagai buronan tunggal sebelum Xien dan Reika merangkulnya.
"Terlalu sunyi," timpal Haru seraya mengernyitkan dahi. "Tidak ada jejak patroli atau penjaga otomatis. Puing-puing ini tampak tak tersentuh sejak malam itu."
Dengan sorot lampu senter dan perlengkapan evakuasi lengkap, kami menyusuri celah masuk yang sama. Kami menuruni tangga beton yang retak dengan presisi dan kehati-hatian tinggi.
Di kedalaman, Ruang Genesis yang dulunya megah kini tak ubahnya makam terlupakan. Beberapa kapsul kristal hancur berkeping-keping akibat ledakan sebelumnya, namun sepuluh kapsul tersisa masih berdiri tegap di balik tumpukan puing. Pendar cahaya di dalamnya berdenyut pelan, mirip detak jantung yang enggan padam.
"Masing-masing dari mereka... masih di sana," bisik Sora. Sorot matanya membiaskan perpaduan antara kepedihan dan rasa takjub.
Aku melangkah mendekati kapsul terdekat. Kutempelkan telapak tanganku pada permukaan kristalnya yang dingin, merasai resonansi Authority di dalamnya—lemah, namun berdenyut pasti.