The Last Wizard: Change The Fate

Ariaria
Chapter #40

CHAPTER 40: RERUNTUHAN TERAKHIR

Langit-langit Ruang Genesis runtuh tepat di atas kepalaku.

Aku sudah memejamkan mata erat-erat, bersiap menyambut benturan dahsyat yang tak terelakkan. Namun, yang mampir ke inderaku hanyalah deru angin kencang serta jeritan pilar logam yang berderit nyaring—seolah ada sosok yang baru saja menahan beban berbobot puluhan ton dengan tangan kosong.

Aku membuka mata perlahan.

Daichi berdiri tepat di sampingku. Kedua tangannya terangkat tinggi ke udara, sementara urat-urat di lehernya menegang parah menahan tekanan yang luar biasa. Tepat di atas kami, balok-balok baja raksasa yang menukik jatuh tertahan di udara, bergetar hebat di bawah kendali authority logam miliknya.

"Aku nggak bisa nahan ini lebih lama!" geramnya dengan gigi terkatup rapat. "Cepat lakukan apa pun yang harus kau lakukan!"

"Terima kasih!" teriakku, langsung melesat menuju dua kapsul terakhir yang masih berkedip panik.

Kapsul kesembilan terbuka jauh lebih mudah dari perkiraanku. Sosok di dalamnya—seorang pria paruh baya yang mengenakan jubah biksu tua—menatapku dengan mata yang menenteramkan. Ia mengangguk pelan, seolah sudah memahami seluruh kekacauan ini tanpa perlu penjelasan.

"Terima kasih, Nak," bisiknya halus, sebelum tubuhnya memudar menjadi pendar cahaya hangat yang melayang naik, menembus celah reruntuhan di atas kami.

Tinggal satu lagi.

Kapsul kesepuluh—yang terakhir—berada dalam kondisi paling mengenaskan. Retakan di permukaannya telah menjalar ke seluruh bagian, sementara pendar cahaya di dalamnya berkedip tidak stabil, nyaris padam total.

"Yuuto!" teriakan Xien menggema dari belakang. "Dinding timur mulai runtuh!"

"Sedikit lagi!" balasku.

Aku menempelkan kedua telapak tanganku pada permukaan kapsul, menyalurkan authority-ku dengan penuh kehati-hatian. Aku berusaha keras agar tidak menekan sosok rapuh di dalamnya yang sudah berada di ambang kehancuran.

Kau boleh berhenti sekarang, bisikku dalam hati. Kau tak perlu bertahan sendirian lagi.

Namun, sebelum kapsul itu sempat terbuka sepenuhnya, dinding timur ruangan meledak dahsyat.

Bukan sekadar runtuh—dinding itu dihancurkan dari luar oleh daya ledak yang jauh melampaui kerusakan struktur biasa.

Tiga sosok berjubah hitam melangkah masuk menembus kepulan debu. Mata mereka menyala dengan pendar yang sama persis seperti para anggota dewan yang pernah kami hadapi di atas bukit. Namun kali ini, jumlah mereka jauh lebih banyak. Belasan pahlawan dewan lainnya bermunculan di belakang mereka, memadati Ruang Genesis yang telah hancur separuh.

"Pengkhianat tidak punya hak mengambil apa yang menjadi milik Dewan," ucap sosok di paling depan yang memiliki mata berwarna ungu pekat. Ia adalah salah satu dari empat anggota yang sempat kami kalahkan di bukit—kini telah pulih sepenuhnya dan tampak jauh lebih murka.

"Merek bukan milik siapa pun!" balasku tegas. Aku menarik pedangku dengan tangan kanan, sementara tangan kiriku tetap menahan struktur kapsul terakhir agar tetap stabil.

"Kau pikir kau punya hak untuk menentukan itu?" desis sosok bermata hijau di sampingnya. "Seorang bocah yang baru beberapa minggu mengenal dunia ini?"

Ayahku dan Xien langsung mengambil posisi, membentuk barisan pertahanan mengelilingiku. Reika berdiri bersiap di sisi lain dengan senjata terangkat, sedangkan kedua Asteria mengambil posisi di sayap kiri dan kanan dengan ujung tongkat yang mulai menyala terang.

"Lindungi Yuuto sampai kapsul terakhir terbuka!" perintah ayahku berwibawa.

Pertempuran meledak seketika.

Hantaman gelombang energi dari berbagai penjuru mengguncang sisa-sisa pilar ruangan. Sora memanggil debit air dari pipa-pipa instalasi yang pecah, membentuk lecutan cambuk panjang yang menyapu beberapa penyerang sekaligus. Di sisi lain, Haru membekukan lantai di sekitar pergerakan musuh, menciptakan hamparan es licin yang menghambat laju serangan mereka.

Aku tidak bisa ikut bertarung. Kedua tanganku terkunci pada kapsul yang hampir hancur ini. Melepaskannya sekarang sama saja dengan mengorbankan sosok di dalamnya selamanya.

"Jangan lepaskan!" teriak ayah seolah sanggup membaca pergolakan batinku. "Kami yang akan menahan mereka selama yang dibutuhkan!"

Namun, jumlah musuh terlalu dominan. Dua anggota dewan berhasil menerobos pertahanan kami, melesat cepat ke arahku dengan senjata energi yang siap menebas.

Aku tak bisa menghindar. Tak bisa mengangkat pedang. Tak bisa—

DUAAAARRR!

Satu ledakan cahaya putih yang menyilaukan menghantam kedua penyerang itu dari samping, melempar tubuh mereka hingga menghantam dinding seberang dengan benturan yang menggetarkan lantai.

Aku menoleh dengan napas tertahan.

Lihat selengkapnya