The Last Wizard: Change The Fate

Ariaria
Chapter #41

CHAPTER 41: HITUNG MUNDUR

Kami memakamkan Kiritani Hanae di sebuah bukit kecil tepat di belakang pabrik, di bawah naungan pohon ginkgo tua yang daun-daunnya baru mulai menguning.

Tak ada upacara megah. Tak ada pidato kehormatan. Hanya kami yang berdiri melingkar dalam keheningan. Rin bersama anak-anak membawa seikat bunga liar yang mereka petik sendiri. Gouta menyelipkan sebungkus onigiri di antara hamparan karangan bunga dengan alasan sederhana: “Orang yang baru berhenti berlari pasti merasa lapar.” Sementara Yuki berlutut paling dekat dengan pusara, jemarinya bergetar menyentuh tanah yang masih basah.

“Lima puluh tahun,” bisiknya halus, lebih ditujukan kepada hembusan angin daripada siapa pun di sana. “Aku tertidur selama lima puluh tahun, dan Kakak menghabiskan seluruh waktunya untuk mencariku... dengan cara yang salah.”

Aku berdiri mematung di belakangnya, bingung harus merangkai kata seperti apa. Ada jenis duka yang tak akan pernah sanggup disembuhkan oleh kalimat penenang, melainkan hanya oleh sebuah kehadiran.

“Dia menyebut namamu di detik-detik terakhirnya,” ucapku akhirnya. “Dan dia tersenyum.”

Yuki mengangguk pelan, bahunya terguncang menahan tangis. “Itu hal yang paling kuingat dari Kakak dulu. Dia jarang tersenyum, tapi begitu dia tersenyum, rasanya seolah seluruh ruangan mendadak terang benderang.”

Ia menyapu air matanya dengan punggung tangan, lalu bangkit berdiri. Tatapan matanya yang tersorot kini bukan lagi milik seorang gadis muda yang linglung.

“Aku ingin membantu,” tegasnya. “Kakak bilang Dewan bisa membuka retakan langit. Aku tidak akan membiarkan pengorbanannya berakhir sia-sia.”

Tiga hari berikutnya berlalu layaknya kabut tebal yang dipenuhi kerja keras tanpa henti.

Reika merombak ruang bawah tanah pabrik menjadi pusat komando darurat. Layar-layar hologram menyala terang dua puluh empat jam penuh, terus-menerus memantau setiap titik anomali di langit Tokyo dan sekitarnya. Kaito—yang ternyata menyimpan bakat luar biasa dalam menganalisis pola—duduk di samping Reika hampir sepanjang hari. Buku catatannya bahkan sudah berganti ke jilid ketiga.

“Retakannya terus bertambah panjang rata-rata dua belas sentimeter setiap jamnya,” lapor Kaito dengan nada suara yang terlalu serius untuk anak seukurannya. “Jika tren ini bertahan, tepi retakan akan melewati batas kritis dalam waktu sembilan hari.”

“Batas kritis?” tanyaku.

“Titik di mana—menurut model kalkulasi Kak Xien—makhluk dari balik sana bisa mulai menerobos masuk,” jawab Kaito. “Bukan sekadar satu atau dua unit seperti malam pertama itu. Tapi satu armada pasukan.”

Xien berdiri di belakangnya dengan tangan terlipat di dada dan raut wajah tegang. “Di garis waktuku yang asli, retakan pertama baru terbuka setelah tiga tahun. Sekarang, segalanya melenceng dipercepat gara-gara ulah Dewan.” Ia mengalihkan pandangannya padaku. “Sembilan hari itu estimasi paling optimistis. Mereka bisa saja memaksa batas itu jebol lebih cepat.”

“Kalau begitu, kita tidak boleh tinggal diam menunggu,” sahut ayahku. “Kita harus menghantam langsung ke sumbernya.”

Lihat selengkapnya