Tangan raksasa itu tidak bergerak layaknya makhluk hidup.
Gerakannya lebih menyerupai sesuatu yang sedang mengeja ulang memorinya—lambat, ragu, jari demi jari merayap keluar dari celah angkasa. Seolah setelah ribuan tahun terbelenggu di balik retakan, otot-ototnya lupa cara menjalankan fungsi dasarnya.
Namun, tiap kali satu ruas jarinya menembus batas retakan, seluruh atmosfer Tokyo bergetar hebat.
“Semua unit, mundur dari zona tengah!” jerit Reika melalui alat komunikasi dengan wajah pias tanpa darah. “Apa pun itu, jangan ada yang menyerang tanpa perintah!”
“Sudah terlambat,” gumam Daichi dingin.
Ia telah melepaskan tiga tombak baja raksasa langsung ke arah jari raksasa terdekat. Tombak-tombak itu meluncur deras dengan bobot dan kecepatan yang sanggup melubangi gedung beton enam lantai.
Senjata itu menghantam telak permukaan jarinya, dan—
Nihil.
Bukan membal, bukan pula hancur. Tombak-tombak baja itu hanya... lenyap. Begitu menyentuh permukaan kulit raksasa tersebut, logam padat itu menghilang layaknya sejemput garam yang larut dalam gumpalan air.
“Apa...?” bisik Daichi melongo, matanya membelalak tak percaya.
“Makhluk itu menyerapnya,” cetus Asteria tua dari atap seberang. Tongkat sihirnya terangkat tinggi dengan genggaman memutih. “Dia tidak menangkis. Dia memang memangsanya.”
“Seperti Penjaga Sejarah?” tanyaku menyela.
“Bukan.” Xien menatap langit tanpa berkedip sedikit pun. “Penjaga Sejarah bertugas meniadakan energi. Tapi yang ini...” Ia menelan ludah dengan susah payah. “...ini seperti sesuatu yang kelaparan.”
Seakan mampu menyimak obrolan kami, jemari raksasa di atas sana mendadak bergerak lebih presisi. Keraguannya sirna, berganti sapuan merayap yang mengarah lurus pada satu titik tujuan pasti.
Menara Kagura di tepi teluk.
“Dia mengincar generator itu,” gumam Reika seraya mengusap layar hologramnya dengan jari yang gemetar. “Atau tepatnya... mengincar apa yang tersimpan di dalamnya.”
“Authority dari para subjek yang tak selamat,” sahut ayahku pelan. “Dia hendak memangsa sisa-sisa entitas itu.”
Aku mengepalkan tangan erat-erat, membiarkan debar jantungku memburu liar. “Kalau tangan itu sampai menyentuh Menara Kagura...”
“Kita tidak tahu bencana apa yang akan meletus,” potong ayahku. “Namun yang pasti, tak ada satu pun hal baik di baliknya.”
Kami pun melesat berlari.
Tak ada lagi waktu untuk mematangkan strategi. Hanya ada satu kenyataan pahit: jika tangan raksasa itu menyentuh Menara Kagura lebih dulu dari kami, sesuatu yang tak bisa dibatalkan akan merusak dunia selamanya.
Gelombang makhluk berzirah hitam masih memadati jalan-jalan utama. Namun kini, tim kami bergerak sebagai satu kesatuan utuh—menembus barisan demi barisan musuh melalui sinergi yang telah menempa kami di berbagai pertempuran mati-matian.
Sora membelah jalur depan menggunakan gelombang air bertekanan tinggi. Haru membekukan dinding-dinding jalan agar musuh tak sanggup mengepung dari rusuk samping. Di barisan belakang, Rin dan Yuki menyatukan authority mereka secara presisi—pendar ungu pekat dan pendar putih lembut berpilin harmonis, membentangkan perisai kokoh yang menahan tiap gempuran dari arah belakang.
“Bakatmu luar biasa,” puji Rin di tengah deru pertempuran.