Aku melangkah ke dalam celah itu.
Tanpa dramatisasi. Tanpa alunan musik yang memuncak. Hanya satu langkah sederhana—seperti melewati ambang pintu kamar lama yang telah bertahun-tahun tak kusentuh.
Lalu, ruang putih itu pecah.
Seketika, gemuruh dunia menghantamku sekaligus: dentuman ledakan, jeritan histeris, deru angin yang meliuk, dan di bawah semua kebisingan itu, samar-samar terdengar suara seorang gadis yang memanggil namaku tanpa henti.
"YUUTO! YUUTO!"
Aku membuka mata.
Tubuhku masih mengambang di ketinggian ratusan meter, melayang tepat di depan ujung jari raksasa yang kini diam menanti. Kolom cahaya merah membelit tubuhku seperti pelukan yang terlampau erat. Di bawah sana, Tokyo terhampar bagai lautan api dan pendar lampu darurat. Di tepi teluk, Menara Kagura berdiri merana—tampak bagai paku kecil di tengah kehancuran.
Namun, di dalam kepalaku, sebuah keputusan mendadak terpatri jernih tanpa bisa ditawar lagi.
Aku akan masuk, batinku pada tangan raksasa itu. Tapi bukan sebagai tawanan. Dan bukan sekarang.
Jari raksasa itu bergetar pelan, seolah tengah menimbang.
Beri aku waktu. Biarkan aku menyelesaikan satu urusan di bawah sana.
Cahaya merah perlahan menyurut, menurunkanku secara halus hingga telapak kakiku kembali menapak di atap gedung perkantoran tak jauh dari menara. Di belakangku, tangan raksasa itu menarik diri sedikit, menggantung pasrah di langit malam bagai menahan napas.
Ia memberiku waktu. Aku tak tahu berapa lama.
"YUUTO!"
Xien menerjangku begitu aku mendarat, memelukku teramat erat hingga gagang pedang di punggungku hampir tersangkut. Tubuhnya gemetaran hebat. Jemarinya mencengkeram jaketku rapat-rapat, seakan takut aku bakal menguap menjadi udara.
"Kau idiot," isaknya lirih. "Kau idiot, idiot, idiot..."
"Aku di sini," bisikku seraya merengkuh tubuhnya. "Aku baik-baik saja."
"Kau menghilang!"
"Cuma sebentar."
"Itu sama sekali tidak lucu!"
"Aku tahu," bisikku lagi. "Maafkan aku."
Ayah tiba sedetik kemudian dengan napas memburu dan sepasang pedang kembar yang masih bergetar di tangannya. Ia tak mengucap sepatah kata pun. Jemarinya hanya mendarat sekilas di kepalaku—menyakinkan diri bahwa aku nyata—sebelum membuang napas panjang.
"Katakan," ujarnya tegas. "Apa yang kau lihat?"
Aku menatap mereka semua—tim kami yang berkumpul dengan jelaga, luka-luka baru, dan raut lelah—lalu membeberkan segalanya secepat mungkin. Tentang Sang Penyihir Terakhir yang pertama. Tentang sisi yang dibuang. Tentang tangan raksasa di langit yang sebenarnya bukan penjajah, melainkan entitas yang teramat kesepian.
Serta tentang pilihan ketiga.
Ketika kisahku usai, keheningan menyergap.
"Berdamai?" ulang Reika akhirnya dengan nada datar, seolah tengah merenungkan soal matematika konyol dengan jawaban yang terlalu absurd. "Dengan sesuatu yang membantai ribuan orang malam ini?"
"Aku tahu bagaimana kedengarannya," sahutku pelan.
"Kedengarannya gila," cetus Daichi polos.
"Kedengarannya sangat Yuuto," sela Rin sambil menyilangkan tangan. Sudut bibirnya terangkat tipis. "Seseorang yang menyuapi musuhnya dengan nasi goreng sebelum menanyakan namanya."