The Last Wizard: Change The Fate

Ariaria
Chapter #46

CHAPTER 46: DUNIA YANG DIBUANG

Cahaya merah itu tidak menelanku; ia melepaskanku.

Tiba-tiba tarikan dahsyat lenyap. Tak ada lagi helaan angin, tak ada lagi gemuruh suara dari sudut-sudut Kota Tokyo. Aku menapak di atas sesuatu yang padat. Begitu pandanganku beradaptasi dengan pencahayaan sekitar, aku tersadar tengah menatap sebuah kota.

Atau...

... lebih tepatnya…

... bangkai dari sebuah kota.

Menara-menara miring mencuat dari tanah pekat bagai tulang rusuk raksasa yang mencengkeram langit. Jalan-jalan yang retak membentang tanpa batas, dinaungi langit yang seolah terbalik: lautan awan gelap berputar perlahan, ditusuk ribuan celah tipis berwarna emas—menyerupai jendela-jendela kecil menuju dunia yang baru saja kutinggalkan.

Melalui salah satu celah emas di kejauhan, aku bisa melihat pendar pudar dari kilatan api di Tokyo.

"Jadi… ini rumah kalian," gumamku lirih.

Tak ada sahutan. Namun, udara di sekelilingku bergetar pelan. Aku tahu puluhan pasang mata tengah mengawasi gerak-gerikku.

Satu per satu, mereka menyeruak dari balik reruntuhan.

Mereka tidak datang dalam barisan tempur. Langkah mereka lambat dan ragu-ragu—sosok-sosok bayangan setinggi manusia dengan binar mata merah redup. Sebagian dari mereka memikul luka yang tak meneteskan darah, melainkan mengucurkan pendar cahaya hitam. Anak-anak yang sempat kutemui di balik cermin kaca hanyalah sebagian kecil. Sosok-sosok yang berdiri di hadapanku saat ini tampak jauh lebih tua, lelah, dan dirayapi rasa curiga yang mendalam.

Sesosok figur melangkah ke depan. Tubuhnya menjulang setinggi dua meter, dibalut zirah retak yang menyerupai kulit terbakar. Salah satu lengannya tak lagi utuh, berganti menjadi kepulan asap pekat.

"Kau… yang mengantarkan anak-anak itu pulang," ucapnya. Suaranya berat dan parau, menyerupai gesekan dua batu tajam.

"Aku hanya menemani langkah mereka naik," balasku tenang.

"Mereka tidak akan sudi kembali ke dalam pelukan kami jika tidak dipaksa." Mata merahnya menyipit tajam. "Dan kami tidak akan pernah mau dipaksa lagi."

Aku merentangkan kedua tanganku lebar-lebar, sengaja menjajarkannya jauh dari gagang pedang di pinggang. "Aku datang bukan untuk memaksa siapa pun."

"Semua makhluk yang menginjakkan kaki di sini selalu mengucapkan kalimat yang sama."

Sebelum aku sempat menimpali, ia melesat maju.

Gerakannya terlampau cepat untuk kubaca.

Lengan asapnya memanjang bak cambuk, menghantam dadaku tanpa ampun. Dampak benturannya melemparkan tubuhku menembus pilar dan dinding bangunan yang lapuk. Debu membumbung pekat. Tulang rusukku berderak nyeri.

52%.

Lihat selengkapnya