The Leaving Co.

Bramanditya
Chapter #1

To die will be an awfully big adventure


Tommy

Angin malam memotong wajah Tommy saat motornya melaju di antara lampu-lampu kota yang mulai redup. Jalanan tidak ramai, hanya suara mesin yang memanjang seperti napas yang ditahan terlalu lama.

Di dalam helmnya, musik berdentum keras.

Terlalu keras.

Bukan untuk dinikmati.

Untuk menenggelamkan sesuatu.

Lampu lalu lintas di depan berubah kuning.

Tommy melihatnya.

Jelas.

Jaraknya masih cukup untuk mengerem. Refleks lama itu masih ada—tarikan halus di jari, ingatan tubuh yang tahu kapan harus berhenti.

Lampu itu berubah merah.

Ia tetap melaju.

Untuk satu detik, dunia terasa sunyi di balik dentuman musik itu. Seolah segala sesuatu di sekitarnya—lampu, jalan, bahkan dirinya sendiri—berhenti menunggu keputusan yang tidak pernah benar-benar ia ambil.

Atau mungkin sudah.

Cahaya putih menyilaukan datang dari samping.

Terlambat.

Suara benturan memecah malam.

Tubuhnya terangkat ringan, hampir seperti tanpa berat, sebelum dunia menghantamnya kembali dengan keras.

Dan musik itu—

akhirnya menghilang.

Ketika Tommy membuka mata, langit-langit putih menyambutnya lebih dulu.

Bau antiseptik memenuhi hidungnya.

Rumah sakit.

Kepalanya berdenging pelan. Ada rasa logam di lidahnya. Sesuatu menusuk di tangan kirinya—infus.

Ia mencoba bergerak.

Nyeri menjalar dari bahu hingga tulang rusuk.

“Mas, jangan banyak gerak dulu.”

Suara perempuan.

Perawat.

Tommy memejamkan mata sebentar.

Sayup-sayup, ia mendengar suara televisi dari luar kamar. Kata-kata seperti krisis pasar, aset digital, investor, dan kerugian miliaran bercampur jadi dengung yang melelahkan.

Ia tertawa kecil.

Atau mungkin cuma batuk.

Ponselnya tergeletak di meja kecil samping ranjang. Layarnya retak parah, tapi masih menyala.

Puluhan notifikasi memenuhi layar.

Tagihan.

Panggilan tidak terjawab.

Pesan-pesan marah.

Satu email paling atas berbunyi:

FINAL NOTICE

Tommy menatapnya lama.

Lalu memalingkan wajah ke arah jendela.

Di luar, hujan mulai turun perlahan.


---

Melisa

Di sisi lain kota, Melisa duduk diam di dalam mobilnya.

Mesin mati. Lampu mati.

Hanya bangunan di depannya yang masih hidup.

Restoran itu.

Miliknya.

Atau dulu.

Lampu dapur masih menyala. Terang yang hangat, hampir mengundang—seperti biasa. Tapi malam ini, ada sesuatu yang berbeda.

Bukan pada tempatnya.

Pada detaknya.

Melisa menatap tanpa berkedip.

Dari balik kaca depan, ia bisa melihat bayangan bergerak di dalam. Tidak jelas. Tidak perlu jelas. Cara tubuh bergerak, cara satu sosok condong ke yang lain—cukup untuk membuat sesuatu di dalam dirinya runtuh pelan, tanpa suara.

Tangannya masih di atas setir.

Dingin.

Ia tidak langsung menangis.

Butuh beberapa detik sebelum napasnya berubah. Sebelum matanya mulai panas. Sebelum dunia di luar kaca mobil itu terasa semakin jauh, seperti sesuatu yang tidak lagi bisa ia sentuh.

Lalu air mata itu datang.

Pelan.

Tanpa isakan.

Maskara hitamnya mulai luntur, meninggalkan jejak tipis di pipinya. Ia tidak mengusapnya.

Di dalam restoran, bayangan itu masih bergerak.

Masih hidup.

Masih memilih satu sama lain.

Melisa menutup matanya sebentar.

Hanya sebentar.

Ketika ia membukanya lagi, semuanya terasa lebih jelas. Terlalu jelas. Seolah dunia akhirnya memutuskan untuk tidak lagi menyembunyikan apa pun darinya.

Tangannya bergetar saat memutar kunci.

Mesin mobil menyala dengan suara rendah.

Ia tidak langsung menekan gas.

Ia menatap ke depan sekali lagi—ke arah pintu kaca, ke arah cahaya hangat yang kini terasa asing, ke arah kehidupan yang ternyata tidak pernah benar-benar miliknya.

Napasnya tertahan.

Lalu dilepaskan perlahan.

Kakinya berpindah.

Gas ditekan.

Mobil itu melaju maju—tidak cepat, tidak liar—hanya cukup pasti. Seperti seseorang yang akhirnya berhenti ragu.

Kaca depan bergetar saat mendekat.

Cahaya di dalam restoran membesar.

Dan dalam satu momen yang terasa terlalu panjang untuk disebut detik—

segala sesuatu pecah.

Suara kaca hancur memenuhi ruang, bercampur dengan jeritan yang datang terlambat.

Mobil berhenti mendadak, setengah masuk ke dalam ruangan yang dulu ia bangun dengan tangannya sendiri.

Melisa tetap di tempatnya.

Tangan masih menggenggam setir.

Di hadapannya, dua sosok berdiri kaku, mencoba menutupi tubuh mereka dengan apa pun yang bisa dijangkau.

Wajah-wajah yang ia kenal.

Wajah-wajah yang dulu ia percaya.

Ia menatap mereka.

Lama.

Air matanya berhenti tanpa ia sadari.

Ketika akhirnya ia membuka pintu mobil, suaranya terdengar lebih pelan dari yang ia bayangkan.

“...Kenapa?”

Bukan teriakan.

Bukan kemarahan.

Hanya pertanyaan yang sudah ia tahu jawabannya.

Dan mungkin, itu yang paling menyakitkan.


---

Johan


Ruangan sidang etik itu terlalu dingin.

Atau mungkin Johan saja yang sudah terlalu lelah untuk membedakannya.

Lampu putih di atas kepalanya menyinari meja panjang dengan terang tanpa ampun. Map-map cokelat tersusun rapi di hadapan beberapa orang yang bahkan tidak mencoba terlihat ramah.

Nama lengkapnya tercetak besar di halaman depan.

dr. Johan Prasetya.

Di sampingnya:

Dugaan kelalaian medis.

Johan menatap kosong ke arah gelas air di depannya.

Belum disentuh sejak sidang dimulai dua jam lalu.

“Dokter Johan.”

Suara ketua sidang memecah ruangan.

“Apakah Anda menyadari pasien menunjukkan penurunan kesadaran sejak pukul 01.13?”

Johan mengangkat kepala perlahan.

Pasien perempuan.

Tiga puluh dua tahun.

Datang ke IGD dengan sakit kepala hebat dan muntah.

CT scan ditunda.

Rumah sakit penuh.

Kasus stroke lain menunggu.

Pasien tampak stabil saat itu.

Tampak.

“Dokter?”

Johan menarik napas pendek.

“Saya... memprioritaskan pasien lain yang lebih kritis saat itu.”

Lihat selengkapnya