The Leaving Co.

Bramanditya
Chapter #2

The places we return to are never the same

Taksi yang membawa Melisa berhenti perlahan di depan rumah orang tuanya tepat saat hujan mulai turun lagi.

Rintik kecil.

Tipis.

Membuat jalanan perumahan tampak mengilap di bawah lampu taman yang pucat.

Melisa membayar tanpa banyak bicara lalu turun sambil memeluk tasnya erat di dada.

Ia belum benar-benar tidur sejak kejadian di restoran.

Maskara hitamnya sudah dibersihkan, tapi matanya masih sembab. Rambutnya diikat asal. Tubuhnya terasa ringan sekaligus berat.

Dan sesuatu langsung terasa aneh.

Tommy, Johan, dan Freya berdiri diam di depan rumah.

Tidak ada yang masuk.

Tidak ada yang bicara.

Hanya berdiri memandangi sesuatu di halaman.

Melisa berjalan mendekat pelan.

“Kenapa kalian di luar?”

Tidak ada yang menjawab.

Tatapan Tommy bergerak kecil ke arah halaman depan.

Melisa mengikuti arah matanya.

Lalu ia melihat papan itu.

RUMAH DIJUAL

tertancap miring di atas rumput basah.

Melisa mematung.

Untuk beberapa detik, otaknya seperti menolak memahami apa yang dilihatnya.

Rumah itu masih sama:

pagar putih,

pohon mangga tua di samping garasi,

jendela kamar lantai dua yang dulu sering mereka panjat diam-diam.

Tapi papan itu membuat semuanya terasa asing.

“...Apa ini?”

Suara Melisa terdengar kecil.

Freya memeluk dirinya sendiri sambil menggeleng pelan.

“Aku nggak tahu.”

Tommy menyalakan rokok dengan tangan yang sedikit gemetar.

“Asisten rumah tangga udah nggak ada,” katanya pendek. “Tetangga bilang rumah ini kosong seminggu.”

“Dijual sama siapa?” Johan bertanya.

Tidak ada yang bisa menjawab.

Angin malam bergerak pelan melewati halaman.

Papan DIJUAL itu bergoyang kecil sambil berdecit.

Dan untuk pertama kalinya sejak menerima telepon tadi malam, mereka mulai merasa—

mungkin mereka benar-benar tidak mengenal orang tua mereka.

Lampu mobil tiba-tiba menyapu halaman dari belakang.

Mereka menoleh bersamaan.

Sebuah sedan hitam berhenti pelan di depan rumah.

Mesinnya tetap menyala.

Beberapa detik kemudian, seorang pria tua keluar dari kursi depan. Tubuhnya kurus, rambutnya hampir seluruhnya putih, mengenakan setelan hitam sederhana yang terlalu rapi untuk jam setengah sebelas malam.

Ia membuka payung sebelum berjalan mendekat.

“Selamat malam.”

Suaranya lembut.

Terlalu tenang.

“Saya diminta menjemput kalian.”

Keempat saudara itu saling berpandangan.

Tommy melangkah sedikit maju.

“Siapa yang nyuruh?”

“Pak Rudi.”

“Siapa Pak Rudi?”

Pria itu tampak bingung sesaat.

“Pengacara keluarga kalian.”

Sunyi.

Freya mengernyit.

“Keluarga kita punya pengacara?”

Tak ada yang menjawab.

Karena tak satu pun dari mereka pernah mendengar nama itu sebelumnya.

Pria tua itu membuka pintu belakang mobil perlahan.

“Beliau sedang menunggu.”

Hujan mulai turun lebih deras.

Tommy menatap ketiga saudaranya sebentar sebelum akhirnya masuk lebih dulu ke mobil.

Satu per satu mereka mengikuti.

Pintu tertutup pelan.

Dan mobil itu mulai bergerak meninggalkan rumah yang selama ini mereka anggap akan selalu menunggu mereka pulang.

Kota perlahan menjauh.

Lampu-lampu pertokoan berganti jalanan gelap dan pepohonan basah.

Hanya suara wiper yang bergerak pelan di kaca depan.

Tak ada yang bicara.

Bukan karena tidak ada yang ingin dikatakan.

Justru terlalu banyak.

Tentang rumah.

Tentang papan dijual.

Tentang pengacara keluarga.

Tentang Papua.

Tentang kemungkinan yang tidak berani mereka ucapkan keras-keras.

Melisa menatap keluar jendela.

“Apa yang sebenarnya terjadi?”

Tak ada jawaban.

“Kenapa Ayah sama Ibu jual rumah?”

Sunyi lagi.

Lalu perlahan, semua mata berpindah ke Freya.

Freya langsung menoleh tajam.

“Apa?”

“...Kamu paling sering pulang,” kata Johan pelan.

Freya tertawa pendek.

Kesal.

“Karena aku masih kuliah bukan berarti aku tahu semuanya.”

“Bukan gitu maksud gue—”

“Aku tinggal di asrama, Johan. Aku juga punya hidup sendiri.”

Suara Freya meninggi sedikit.

“Aku sibuk. Sama kayak kalian.”

Mobil kembali sunyi.

Hanya suara hujan.

Tommy menyandarkan kepala ke kaca jendela sambil memejamkan mata sebentar.

Lalu, tanpa membuka mata, ia berkata pelan:

“Kalau Ibu ada di sini sekarang…”

Ia menarik napas kecil.

“…dia pasti udah bentak kita.”

Freya mendengus kecil.

Tommy menirukan suara ibunya dengan nada galak:

“Diam kalian, anak-anak begundal.”

Johan tertawa kecil lebih dulu.

Lalu Freya.

Lalu Melisa.

Bahkan Tommy ikut tersenyum tipis.

Untuk beberapa detik, mereka kembali terdengar seperti keluarga.

Bukan empat orang asing yang dipersatukan oleh berita buruk.

Tapi anak-anak yang pernah tinggal di rumah yang sama.

Lalu tawa itu perlahan menghilang lagi.

Dan kesunyian kembali memenuhi mobil.

Kali ini lebih berat.

Karena di balik semua pertanyaan tentang rumah dan pengacara—

ada satu pertanyaan yang terus mereka hindari sejak tadi malam.

Bagaimana keadaan Ayah dan Ibu sekarang?

Tak ada yang cukup berani untuk mengucapkannya lebih dulu.

Mobil terus melaju menembus malam, menuju tempat yang belum pernah mereka datangi sebelumnya.



---


Hujan masih turun saat mobil hitam itu melambat di depan sebuah gerbang besi tinggi.

Lampu sorot otomatis menyala.

Perlahan, gerbang terbuka dengan suara mekanis yang pelan namun berat.

Keempat saudara itu menoleh ke luar jendela hampir bersamaan.

Lalu mereka terdiam.

Mobil memasuki halaman luas yang tampak seperti taman pribadi.

Lampu-lampu taman menyala hangat di antara pepohonan yang tertata rapi. Jalan setapak batu membelah hamparan rumput yang tampak terlalu sempurna untuk menjadi halaman rumah biasa.

Di kejauhan berdiri sebuah rumah besar bergaya Victoria.

Jendelanya tinggi.

Atapnya menjulang.

Beranda depannya diterangi lampu kuning lembut yang membuat bangunan itu terlihat seperti sesuatu dari masa lalu.

Sesuatu yang tidak seharusnya berada di sana.

Freya menelan ludah.

"Kita ada di mana...?"

Sopir itu tersenyum kecil sambil tetap menatap jalan.

"Rumah kalian."

Sunyi.

Tommy menoleh.

Lihat selengkapnya