The Leaving Co.

Bramanditya
Chapter #3

The truth is rarely pure and never simple


Ruang kerja itu terasa lebih kecil daripada seharusnya.

Mungkin karena terlalu banyak pertanyaan berada di dalamnya.

Atau mungkin karena tidak ada seorang pun yang tahu jawaban yang ingin mereka dengar.

Jam tua di dinding menunjukkan pukul delapan lewat lima menit.

Lima menit terlambat.

Tidak lama.

Namun cukup untuk membuat kesunyian terasa semakin berat.

Melisa dan Johan duduk di depan meja kerja besar dari kayu ek tua.

Freya duduk di sofa bersama Diana.

Tommy berdiri di dekat rak buku, berjalan perlahan dari satu sisi ruangan ke sisi lain sambil membaca judul-judul buku yang berjajar rapi.

Sebagian besar tentang hukum.

Sebagian lagi tentang kematian.

Dan sisanya tentang hal-hal yang tidak pernah ia bayangkan dibaca oleh kedua orang tuanya.

Tidak ada yang bicara.

Hanya suara detak jam.

Tik.

Tik.

Tik.

Lalu pintu terbuka.

"Selamat pagi."

Seorang pria masuk sambil membawa map kulit tua di bawah lengannya.

Usianya mungkin mendekati enam puluh.

Rambutnya hampir seluruhnya putih.

Setelan abu-abu gelap.

Dasi biru tua.

Wajah yang terlihat lelah namun tetap tajam.

Seperti seseorang yang telah menghabiskan puluhan tahun menyelesaikan masalah milik orang lain.

"Maaf terlambat."

Ia langsung duduk di kursi seberang mereka.

Tidak terburu-buru.

Tidak gugup.

Tidak mencoba membuat kesan baik.

Seolah ruangan itu memang miliknya sejak awal.

Empat pasang mata langsung menatapnya.

Pak Rudi menyadari itu.

Ia tersenyum kecil.

"Baiklah."

Ia meletakkan mapnya di atas meja.

"Nama saya Rudi Hartono."

"Saya pengacara keluarga kalian."

Hening.

"Lebih tepatnya pengacara kedua orang tua kalian."

Ia menatap mereka satu per satu.

"Saya turut berduka atas apa yang sedang kalian alami."

Freya langsung mengangkat tangan.

Tidak sabar.

Tidak kuat menunggu basa-basi.

"Apakah ada kabar terbaru?"

Pak Rudi menoleh kepadanya.

"Tentang Ayah dan Mama."

Ruangan kembali diam.

Pak Rudi menarik napas pelan.

"Belum."

Satu kata.

Pendek.

Namun cukup untuk membuat bahu Freya turun sedikit.

"Tim pencarian masih bekerja."

"Diana akan menerima setiap perkembangan terbaru."

"Dan kalian akan menjadi orang pertama yang diberi tahu."

Tak ada yang bicara.

Tommy akhirnya memecah keheningan.

"Saya cuma mau tahu satu hal."

Pak Rudi mengangguk.

"Sebenarnya apa yang terjadi?"m

Pak Rudi membuka map.

Bukan untuk membaca.

Hanya kebiasaan seseorang yang sedang menyusun pikirannya.

"Berdasarkan laporan resmi yang kami terima, Bapak Adrian dan Ibu Clara berangkat dari Sorong menuju sebuah pulau resort pribadi di wilayah Raja Ampat."

"Sekitar empat puluh menit setelah lepas landas, pesawat kehilangan kontak dengan menara pengawas."

"Tidak ada sinyal darurat."

"Tidak ada panggilan radio."

"Tidak ada komunikasi lanjutan."

"Sejak saat itu pesawat dinyatakan hilang."

Ruangan terasa semakin dingin.

Melisa menggenggam kedua tangannya.

"Apakah kami harus ke Papua?"

"Tidak."

Jawab Pak Rudi tenang.

"Tim SAR tidak mewajibkan keluarga hadir."

"Biasanya keluarga menunjuk satu orang penghubung."

"Dan untuk saat ini, saya yang menjadi penghubung tersebut."

Freya menunduk.

Lalu bertanya pelan.

"Habis itu bagaimana kalau mereka tidak ditemukan?"

Tidak ada yang langsung menjawab.

Bahkan Diana tampak mengalihkan pandangan.

Pak Rudi memilih kata-katanya dengan hati-hati.

"Dalam beberapa kasus..."

"...keluarga tidak pernah menerima jenazah."

Freya langsung mengangkat wajah.

Air matanya mulai muncul.

"Jadi kami bahkan tidak bisa menguburkan mereka?"

Pak Rudi diam beberapa detik.

"Mungkin."

"Lalu mungkin juga mereka ditemukan minggu depan."

"Atau besok."

"Saat ini tidak ada yang tahu."

Lihat selengkapnya