Johann terbangun bukan karena alarm atau kokok ayam, melainkan karena rasa dingin yang tidak biasa. Biasanya, jam segini kamar loteng ini sudah gerah oleh napas Lukas, dan lantai kayu akan berderit karena abangnya itu selalu terburu-buru memakai sepatu botnya untuk pergi ke tempat magang pandai besi. Hari ini, sisi tempat tidur Lukas rapi. Selimut wolnya yang kasar terlipat kaku. "Lukas?" Johann memanggil. Suaranya serak, khas remaja yang baru bangun tidur.
Tidak ada jawaban. Hanya ada suara dengung lalat di dekat jendela yang terbuka.
Johann mendengus kesal. Dia menegakkan tubuh, merasakan denyut linu yang akrab di paha kirinya—warisan demam tinggi lima tahun lalu yang membuat kaki kirinya mengecil dan kaku. Dengan gerakan terlatih yang efisien, dia meraih tongkat kayu dengan ujung kuningan di samping dipan, menumpu berat badannya, lalu berdiri.
Dia berjalan ke jendela, berniat meneriaki Lukas jika abangnya itu ternyata sedang pamer otot di sumur bawah seperti biasanya. Namun, saat kepalanya melongok ke luar, kata-kata Johann tertahan di tenggorokan.
Jalanan Bungelosenstrasse di bawah sana kosong melongpong.
Ini hari pasar. Seharusnya, jalanan sempit ini sudah macet oleh gerobak sayur, bising oleh teriakan anak-anak magang yang mengangkut tong gandum, dan riuh oleh makian para kusir. Tapi pagi ini, yang ada hanya keheningan yang janggal.
Gerobak-gerobak kayu dibiarkan melintang di tengah jalan. Seekor kuda penarik beban masih terikat di tiang, berdiri gelisah tanpa ada yang memberi makan. Johann mengernyit. Rasa cemas yang dingin mulai merayap di tengkuknya. Ini bukan sekadar sepi; ini seperti sebuah kota yang ditinggalkan penghuninya dalam satu kedipan mata. Dia berbalik, mengabaikan rasa ngilu di kakinya, dan bergegas turun ke lantai bawah. Setiap ketukan tongkatnya pada anak tangga kayu terdengar seperti detak jam dinding yang terlalu keras.
Di dapur, Johann menemukan ibunya. Wanita itu tidak sedang memasak. Dia duduk di bangku kayu dekat tungku yang mati, menatap lantai lumpur dengan mata kosong. Air matanya sudah mengering, menyisakan jalur putih di pipinya yang kotor oleh jelaga. Di sudut ruangan, ayahnya berdiri menghadap dinding batu, meremas kapak pemotong kayu dengan tangan yang gemetar hebat, seolah ingin menghancurkan sesuatu tapi tidak tahu apa.
"Ibu? Ayah? Di mana Lukas?" tanya Johann, suaranya naik satu oktav. "Di mana orang-orang?"
Ayahnya tidak menoleh. Pria tua itu justru menggeram, "Anak sialan. Kenapa bukan kamu saja?"