Johann tidak bisa berlama-lama menatap peta di kamarnya. Suara raungan dari luar jendela semakin menjadi-jadi, merayap naik menembus sela-sela lantai loteng. Itu bukan lagi suara tangisan satu atau dua orang, melainkan paduan suara histeris dari ratusan orang tua yang baru menyadari bahwa rumah mereka telah kosong.
Johann melipat peta dan surat Lukas, menyisipkannya ke dalam belahan jok kulit di kursi belajarnya—tempat paling aman yang tidak akan disentuh ibunya. Dia mengambil tongkatnya, lalu melangkah turun. Suasana di lantai bawah sudah berubah. Ayahnya tidak lagi berdiri kaku; pria itu sedang menggedor-gedor meja makan dengan kepalan tangannya yang kasar hingga mangkuk kayu kosong di atasnya bergetar.
"Kita harus ke balai kota," geram ayahnya tanpa menoleh saat mendengar ketukan tongkat Johann di tangga. "Walikota harus mengerahkan penjaga. Mereka tidak bisa dibiarkan berjalan terlalu jauh. Lukas harus pulang!"
Ibunya hanya menggelengkan kepala, wajahnya bengkak dan merah. "Mereka berjalan menembus hutan, Heinrich. Tembok gerbang timur terbuka lebar tadi malam. Penjaga gerbang bilang mereka seperti domba yang digiring—tidak ada yang melawan, tidak ada yang berteriak."
"Itu sihir!" bentak ayahnya, suaranya menggelegar di ruang dapur yang sempit. "Pria bajingan dengan baju belang-belang itu menggunakan sihir! Dan dewan kota harus bertanggung jawab karena mengizinkan pencuri itu masuk ke pasar kita!"
Johann berdiri di dekat ambang pintu, bersandar pada tongkat kayunya. Dia memperhatikan otot rahang ayahnya yang mengencang. Ada dorongan kuat di dada Johann untuk melempar surat Lukas ke atas meja, untuk berteriak di depan wajah ayahnya bahwa anak emasnya tidak disihir, melainkan dijual.
Namun, Johann menahannya. Logika dinginnya berbisik: Jika ayah tahu dewan kota terlibat, dia akan langsung mendatangi balai kota dengan kapak, dan dia akan mati di ujung tombak penjaga sebelum sempat melewati lobi. "Aku ikut ke alun-alun," kata Johann datar.
Ayahnya berbalik, menatap Johann dari atas ke bawah dengan pandangan yang sarat akan penolakan. "Untuk apa? Menyusahkan saja. Langkahmu hanya akan membuatku lambat."
"Aku bisa mendengar apa yang orang-orang bicarakan di pasar, Ayah. Orang-orang sering mengabaikan orang pincang. Mereka berbicara tanpa sensor di dekatku," jawab Johann, sengaja menggunakan kekurangannya sebagai argumen taktis.