The Leftover

Langgeng Ikhtiar Pribadi
Chapter #3

Saksi yang Bisu

Johann memisahkan diri saat ayahnya sibuk adu mulut dengan tukang jagal di dekat sumur kota. Tidak ada yang menyadari kepergiannya. Di kota yang kehilangan seratus tiga puluh anak muda sehat, seorang remaja pincang yang berjalan lambat adalah hal terakhir yang akan dipedulikan orang.

Dia berjalan ke arah dermaga, menuju kedai The Rusty Nail. Jalanan di area ini semakin becek oleh air Sungai Weser yang meluap semalam. Bau amis ikan busuk dan tuak murahan menyengat hidung Johann bahkan sebelum dia mendorong pintu kayu kedai yang miring. Di dalam, kedai itu lengang. Hanya ada aroma jelaga dan sisa muntahan semalam.

Di balik meja kayu panjang, si pemilik kedai—pria botak bertangan satu bernama Kurt—sedang mengelap gelas lempengan timah dengan kain yang sama kotornya dengan bajunya. Di sudut ruangan, duduk seorang pria tua yang tertidur dengan kepala menempel di meja, mendengkur keras.

"Kedai tutup, bocah," gerutu Kurt tanpa mendongak. "Tuak habis. Semua orang sedang menangis di alun-alun."

Johann tidak berbalik. Dia menyeret kakinya mendekat, membuat bunyi thud-clack yang ritmis di lantai papan. Dia merogoh kantong celananya, mengeluarkan koin tembaga elang Brandenburg yang sudah dia bersihkan dengan air sumur, lalu melemparnya ke atas meja. Koin itu berputar sebelum berhenti di depan kain lap Kurt.

Kurt berhenti mengelap. Matanya yang kecil menatap koin itu, lalu menatap Johann. "Dari mana kau dapat koin timur ini?"

"Jatuh dari kantong si pemain seruling kemarin sore," bohong Johann, langsung. "Dia minum di sini dua malam lalu, kan? Abangku, Lukas, juga ada di sini."

Kurt mendengus, menyambar koin itu dengan jarinya yang tebal, lalu menggigitnya untuk memastikan keasliannya. "Abangmu yang sok jago itu? Ya, dia di sini. Mengisi perut si bajingan baju belang itu dengan bir gratis."

Lihat selengkapnya