Menara gereja baru saja berdentang tiga kali ketika Johann berdiri di gang sempit samping balai kota. Napasnya pendek, bukan karena lelah berjalan, melainkan karena jantungnya berdegup terlalu cepat di rongga dada.
Di seberang jalan, dua prajurit bertombak yang tadinya berjaga di tangga depan kini sedang duduk di undakan, membagi sekeranjang roti jatah makan siang dari dapur balai kota. Mereka tertawa, mengunyah dengan mulut penuh, seolah-olah hilangnya seratus tiga puluh anak muda tadi malam hanyalah dongeng pengantar tidur yang tidak ada urusannya dengan mereka.
Johann memperhatikan pintu kecil di dekat tempat pembuangan jelaga dapur. Pintu itu biasanya digunakan oleh pelayan untuk membuang abu sisa pembakaran.
Dia menekan punggungnya ke dinding bata yang dingin, meraba koin Brandenburg di kantongnya. Kesaksian Will di kedai tadi masih berputar di kepalanya. Koppen Hill. Tempat itu hanya berisi batu cadas dan rawa mati.
Untuk apa dewan kota menjual anak-anak ke sana? Will bisa saja salah lihat karena pengaruh sisa bir semalam. Johann butuh bukti tertulis. Sesuatu yang nyata, seperti manifes dagang atau surat utang kota yang mengunci nama abangnya. Johann memindahkan tongkat kayunya ke tangan kiri, menumpu seluruh berat badannya pada kaki kanan yang sehat, lalu melangkah keluar dari bayangan gang.
Thud. Clack. Thud. Clack.
Bunyi tongkatnya di atas jalan batu terdengar seperti terompet perang di telinganya sendiri. Dia mempercepat langkah, menyeret kaki kirinya yang kaku melewati genangan air hujan yang kotor. Salah satu prajurit di tangga menoleh ke arahnya. Johann buru-buru menundukkan kepala, membiarkan poni rambutnya yang dekil menutupi mata, memasang wajah selayu mungkin—wajah si pincang yang malang.
Prajurit itu hanya meliriknya sekilas, lalu kembali menggigit rotinya sambil tertawa mendengar lelucon temannya. Di mata mereka, Johann hanyalah bagian dari dekorasi kota yang tidak berguna.