The Legend of Kesera - the first : a new life

Za Zlyn
Chapter #1

Prolog

"Benar juga, kalian berdua sekarang sudah besar, ya," ucap Rei sembari memandangi Kires Mui dan Hidden Zui lekat.

Sementara itu, kedua orang yang mendapat pandangan sok mengintimidasi dari Rei hanya memasang wajah pasrah.

"Jadinya, tidak boleh ada protes saat aku menyiapkan kamar kalian berdua secara terpisah," lanjut Rei sok dramatis.

"Siapa yang mau protes," komentar Hidden Zui.

"Apa? Katakan itu lagi saat mengingat kalian di umur 10 tahun!" tantang Rei.

"Itu sudah sekitar 8 tahun yang lalu, Kak Rei. Lagipula, itu masa lalu dan kami sudah lama memperoleh kamar masing-masing," geram Kires Mui.

"Pokoknya Hidden Zui akan mendapat kamar yang berada pada sayap Timur, " titah Rei. "Sedangkan Kires Mui sendiri—"

"Sayap Barat," tebak Hidden Zui lalu mengangguk sendiri. "Aku mengerti. Itu mudah ditebak."

"Bukan!" gelegar Rei dilanjut dengan senyuman licik. "Kires Mui sendiri akan berada pada arah Utara."

Kires Mui membelalak. "Eh, tunggu sebentar, Mr Rei."

"Oke, jadi kese—"

"Tidak bisa seperti itu," sela Mui sembari berjalan mendekat ke arah yang sigap mengambil langkah.

"Rei," panggil Kires Mui memelas. "Kau bercandakan? Utara itu menghadap..."

"Kenapa, Mui? Takut terkena hal sial karena menyebut nama hutan Kesera?" tantang Rei. Mui hanya mengangguk cepat nan pasrah.

Rei mendecakkan lidahnya seperti suara cicak. "Kires Mui. Kau harusnya ingat bahwa kau setidaknya perlu berpikir ke depan tanpa curi-curi kesempatan untuk melarikan diri dari pelajaran sekolah."

"Kata sia—" Mui tercekat. Ia langsung memandang laki-laki bermata dan berambut biru di sampingnya.

Hidden Zui balas meliriknya. Ia hanya menimpali ekspresi terperangah Mui dengan kedikan bahu yang santai.

"Zui," panggil Mui memastikan. Pasalnya, orang-orang di tempatnya tinggal tidak ada yang satu sekolah dengannya kecuali Hidden Zui.

Jika ada yang melaporkan kelakuan ilegalnya di sekolah. Pastilah orang itu adalah Hidden Zui.

"Nona Kires Mui yang terhormat. Itulah kenapa kau perlu mengasah otakmu dengan rajin belajar. Menurut Anda, kenapa tidak ada mata-mata yang mengganggu kehidupan sekolah yang besok akan perpisahan ini? Tentu saja, karena jawabannya adalah aku," Zui menunjuk dirinya dengan bangga. "Akulah mata-mata itu."

Mui menggertakan giginya. "Dasar pengkhianat!"

"Jangan mengartikan hidup seperti anak kecil," cemooh Zui. "Tanggung jawab tetaplah tanggung jawab. Solidaritas itu bukan untuk tumbang bersama karena kebodohan. Tapi bersikap profesional walau itu menyakitkan."

Rei mengulurkan tangannya. "Bagus, Zui. Meski aku yakin kata-kata itu sulit dicerna oleh Kires Mui."

Lihat selengkapnya