Hari itu suasana begitu meriah mengingat pesta perpisahan sekolah mereka.
Di depan sana, Zui tengah kewalahan menghadapi serbuan buket dari jutaan penggemar. Baik adik kelas, guru-guru, atau alumni antah berantah. Semuanya berlomba untuk mengucapkan selamat kelulusan kepadanya.
Sementara itu di pojokan, Kires Mui benar-benar tak dijamah. Tidak ada yang tertarik untuk sekadar meliriknya apalagi menyapa.
Yah sudahlah, Kires Mui tidak peduli itu. Yang ia pedulikan sekarang hanyalah berada di kipas tornado yang dipasang di pojok sini.
"Hei, Kires Mui!" panggil suatu suara membuat Mui menoleh. Tumben ada yang memanggilnya.
Dari nadanya sih bukan guru. Tapi fans garis keras Hiden Zui.
Di hadapan Kires Mui sekarang, berdiri 3 perempuan yang melipat tangannya penuh percaya diri. Melihat tiap-tiap wajah itu, Mui memutuskan untuk kembali menghadap kipas.
"Di sekitar sini ada banyak kipas. Biarkan aku menerima kipas ini sendirian," oceh Mui.
"Bukan hal itu," ucap seorang yang memakai pakaian merah muda menarik tangan Mui.
"Kipas...," ratap Mui pilu.
"Ada hal lain yang lebih penting dari itu," ucap anak itu bersikeras.
"Hmm..." Kires Mui memejamkan matanya tampak berpikir keras.
"Zui!" panggil Mui keras membuat Zui menoleh.
"Ya?" ucap Zui merespon membuat para fans garis keras di sekitar Mui menjadi heboh. Tentu saja, kehebohan tersebut hanyalah salah satu akal bulus Mui untuk kabur.
Setelah berganti pakaian secara kilat, Mui memutari wilayah belakang sekolah mencari sepeda yang ia sembunyikan. Toh, acara perpisahan ini sudah tuntas sebenarnya. Ini waktu baginya untuk kabur.
Di tengah asiknya mengayuh sepeda. Mui mendengar seseorang memanggil namanya kembali.
Sambil berdecak, Mui memutuskan untuk menganggap panggilan itu hanyalah angin lalu dan melewati pemanggil begitu saja.
"Berhenti! Berhenti kau rambut merah! BERHENTI!" teriak suara di belakangnya lantang.
Mui memutar bola matanya. Jika para manusia ini menginginkan Mui untuk menjadi agen pencomblangan dengan Zui. Bisa tidak sih berlaku lebih ramah?
"Apa kau tidak punya telinga?! Mana batu! Ah, itu! HYAAA!!! teriak suara di belakang Mui keras.
Batu yang di lempar orang itu melesat telak dari Mui. Hanya saja, teriakan orang itu rupanya yang lebih berbahaya. Membuyarkan fokus dalam bersepeda.
"A.. Apa-apaan!" teriak Mui ketika ia kehilangan keseimbangan dari sepedanya dan terjatuh di jalanan.
Suara lari yang begitu antusias membelah udara. Segera, orang yang membuat Mui terjatuh telah berdiri di depannya berkacak pinggang. Tidak merasa bersalah atau pun membantu Mui berdiri.
"Bisa Anda jelaskan apa maksud semua ini?" tanya Mui mencoba bersabar.
"Mudah saja. Aku ingin membonceng sepeda bututmu itu," ujar perempuan itu gampang.
"Kakak kelasku yang terhormat. Barangkali Anda lupa kalau saya tidak pernah mau membonceng siapapun," Mui mengingatkan. "Terlebih lagi, setelah Anda menyebabkan tragedi kejatuhan ini pada saya."
"Masa lalu, biarlah masa lalu. Sekarang, ubahlah sejarah dan jadikan aku orang pertama yang kau bonceng," ujar si kakak kelas percaya diri.