The Legend of Kesera - the first : a new life

Za Zlyn
Chapter #3

2. Mui dan Zui


"Kalian berdua suka sekali bermain disini, ya?"ujar suatu suara membuat Kires Mui dengan seorang anak laki-laki bermata dan berambut hitam menoleh.

" Iya, ayah!" sahut si anak laki-laki bersemangat." Telaga kecil ini hanya ada kita yang tau."

Orang yang dipanggil ayah itu tertawa. "Bukan kita saja yang tahu. Tapi karena tempatnya terpencil, tidak banyak orang yang tertarik ke sini."

Seekor ikan meloncat keluar telaga di dekat tepiannya. Ketika ikan itu kembali ke dasar telaga, luapan airnya membuncah mengenai Kires Mui dan si anak laki-laki. Si anak laki-laki tertawa ceria mendapati sebagian pakaiannya yang basah kuyup. Berbalik dengan ekspresi Kires Mui yang tidak suka.

"Kakak, ayo kita mandi di telaga ini!" bujuk si anak laki-laki sambil memandang Mui dengan wajah berbinar.

Kires Mui mengernyit tidak suka. "Airnya terlalu dingin. Aku tidak mau! Ayah! Ayo kita pulang saja dan mandi air hangat!"

Orang yang dipanggil ayah itu tersenyum memandangi ke dua anak berumur 5 tahun dihadapannya. "Kires, kau sendiri yang minta ikut dengan adikmu. Lalu kau yang meminta untuk segera pulang?"

Kires Mui mengernyit. Jelas sekali tidak suka.

"Kak Mui. Kita mandi dulu di sini lalu pulang," bujuk si anak laki-laki lagi.

Mui memandang sekitar mencoba mencari alasan. Ketika memandang langit sore yang kemerahan, Mui langsung beranjak menarik lengan si anak laki-laki.

"Ayo pulang! Ini sudah sore! Nanti ibu marah!" bujuk Mui bersikeras.

"Tidak mau!" si anak laki-laki tidak mau kalah. "Pokoknya harus mandi dulu! Aku mau mandi dulu di sini!"

Si anak laki-laki berusaha menyentakkan tangannya dari Mui. Alhasil, keseimbangan ke dua anak ini pecah. Membuat keduanya tercebur ke telaga.

Ketika mengangkat wajahnya dan meminta belas kasihan sang ayah. Kires Mui tersentak mendapati ekspresi terkejut luar biasa sang ayah yang memandang ke telaga.

Pandangan mata itu bukan ditunjukkan pada Mui. Namun ekspresi itu membuat Mui merasa ngeri dan memandang arah yang dituju sang ayah.

Satu langkah dari Mui, si anak laki-laki mencoba berdiri. Ia menjulurkan tangannya pada Mui. "Kakak, bisa tolong angkat tanganku?"

Mui meraih tangan itu dengan gemetar sembari memandang perubahan helai rambut yang membiru itu.

Lihat selengkapnya