Pagi itu, Kires Mui, Hiden Zui, Rei, Ruikai, dan Bibi Airin sedang jalan-jalan di sekitar perbatasan negeri mereka. Tepatnya sekarang mereka berada di dekat sungai yang membatasi negeri mereka dengan hutan kesera.
"Jangan sekali-kali kalian mengusik hutan itu," jelas Bibi Airin memandang serius jauh ke kedalaman hutan kesera.
"Tenang saja, bibi," ucap Zui sembari merangkul Mui yang berwajah pucat. "Penakut hantu seperti Nona Kires ini mana mau sekadar mengintip hutan itu. Apalagi masuk ke dalamnya."
Bibi Airin tersenyum simpul. "Tidak masuk itu bagus. Tapi Kires Mui, kau harus bersikap lebih profesional akan ketakutanmu itu."
"Dengar itu apa kata Bibi Airin. Hantu itu tidak nyata," nasehat Zui yang langsung mendapat lirikan tajam dari Mui.
"Perasaan Bibi Airin tidak bilang begitu, Hiden Zui," geram Mui dan segera kedua orang ini main kejar-kejaran di sekitar sungai. Bahkan tampaknya Mui lupa akan perkara hutan itu saking kesalnya dengan Zui.
Ruikai anak laki-laki berumur 9 tahun itu hanya termangu memandangi pertengkaran si kembar.
Rei bersiap melerai si kembar ketika Bibi Airin memanggilnya untuk mendiskusikan sesuatu.
"Ya, yang mulia ratu," ucap Rei khidmat.
"Bagaimana perkembangan Kires Mui sejauh ini? Apakah ia sudah siap dalam waktu dekat ini untuk segera naik takhta?" tanya Bibi Airin serius.
"Mengenai hal tersebut. Mungkin butuh beberapa tahun lagi," ucap Rei lalu melirik ke arah si kembar yang tampaknya tidak menyadari perbincangan serius ini. "Namun jika yang mulia ratu Ingin membahas ini lebih jauh. Kita mungkin perlu tempat yang lebih rahasia."
Bibi Airin menghembuskan nafas berat. Ia menyetujui usulan Rei lalu kembali memandang si kembar khawatir.
Angin bertiup kencang membuat helaian rambut hitam bibi Airin berhamburan. Ia kemudian melindungi mata biru tuanya dengan tangan dan memutuskan untuk memanggil para anak-anak kembali ke istana.
Rei tentu ikut membantu tapi ia masih tidak habis pikir dengan pertanyaan bibi dari si kembar. Bibi Airin tidak begitu suka mengekang si kembar hingga tidak nyaman. Tapi dirinya juga terkesan ingin Kires Mui segera naik takhta. Apakah karena beban berat darurat yang ia ambil?
Rei memandangi si kembar yang mulai mengambil arah jalan pulang. Yah, walaupun sering bertengkar. Bisa dibilang hubungan mereka begitu akrab hingga bisa membuat cemburu siapa pun yang menaksir salah satu dari mereka. Meskipun yang menaksir itu sudah tahu hubungan saudara ini.
Rei menggaruk kepalanya. Begitukah kuatnya hubungan saudara terlebih anak kembar?
Rei tidak begitu ingat bagaimana rupa wajah ibu si kembar. Tidak ada foto atau lukisan seperti itu di istana. Tapi Rei cukup yakin bahwa Ratu Airin dan ibu si kembar memiliki wajah yang mirip. Kalau tidak salah yang membedakan hanyalah warna rambut dan mata sang ibu yang seperti putranya, Hiden Zui.