Rei memandang Zui cermat. Sedangkan Zui yang tampaknya menyadari pandangan itu balas melirik Rei penuh tanya.
"Kau tahu, Zui? Menurutku jika kau yang jadi rajanya kau akan segera naik takhta," ungkap Rei.
Zui tersenyum malas. Ia tampaknya sudah cukup sering mendengar pemikiran itu meskipun identitas mereka hanya diketahui oleh segelintir orang." Yah, jika undang-undang tidak mengharuskan anak pertama aku tidak masalah sih untuk naik takhta. Atau—misalnya saja—jika aku yang lahir terlebih dahulu."
Rei mengangkat ke dua alisnya."Jadi, benar!? Kau tidak masalah akan hal itu? Padahal kalian sering berebut untuk tidak berada di takhta teratas."
Zui mengangguk serius sembari menggaruk dagunya."Yah, itu karena meskipun aku mau. Itu tidak akan mengubah undang-undang seketika. Mungkin juga jika aku terang-terangan menunjukkan kemauanku, akan ada pertikaian politik yang lebih rumit."
Rei tertawa kecil. "Benar. Apa yang kau ucapkan masuk akal, Zui."
"Sangat masuk akal," tegas Zui sepakat." Terlebih lagi, sejujurnya posisi Kak Kires cukup susah. Di mana pun, menjadi raja itu lebih terasa kuat dibandingkan ratu. Apalagi adik dibawahnya pas adalah laki-laki. Kembar lagi. Itu tekanan berat dalam undang-undang kita. Posisinya bisa dibilang jadi terasa... lemah."
Rei tersenyum miring. "Kau tampaknya terlalu memikirkan hal itu dibandingkan Kires Mui sendiri."
Zui mengerutkan wajahnya."Kau bahkan berkata dengan sangat mudah seakan kau oke-oke saja jika kakakku mendapat jodoh dari negeri lain."
Senyum Rei menjadi dingin.
Zui tertawa. "Aku sudah bersama Kak Mui bahkan sebelum dia lahir. Aku cukup yakin dia juga merasa berat akan masalah undang-undang ini."
"Hm... Jadi sifat urakannya itu sebagai bentuk pelarian diri?" selidik Rei.
"Tidak juga. Kalau soal sifat urakan itu, mungkin karena ia terlalu mendalami... tidak! Kak Mui tampaknya keranjingan setelah mencoba cara hidup mata-mata di daerah kumuh!" teriak Zui kemudian memandang Rei tidak percaya. "Kenapa aku baru menyadari hal itu? Dia mendapatkan nilai terbaik dari ayahmu waktu itu, lho."
Rei meringis. "Aku tidak begitu ingat apa yang terjadi. Itu mungkin terjadi tidak lama setelah aku baru menginjakkan kaki di istana ini."
"Ya, begitulah," ucap Zui tidak melanjutkan lebih jauh ucapannya.
Rei memperhatikan tingkah Zui dengan cermat. Anak itu sekarang tampak mencoba mencari sesuatu kegiatan yang dapat menyibukkan dirinya. Mui juga sering bertingkah seperti itu saat ada yang ia pikirkan.