Suara hujan meredup ketika kegelapan yang lebih kelam dari awan badai menggelayuti. Yang tersisa hanyalah bau hujan yang singkat disusul suara dedaunan yang ramai. Bukan ramai karena tertiup angin! Lebih ke gerakan kecil yang terjadi serempak selama bersamaan seakan menyombongkan betapa lebatnya tempat itu.
Mui tidak bisa berkata-kata lebih jauh dari ini. Untuk sementara, waktu bagai terhenti baginya. Khusus untuk dirinya dan bukan dunia sekitarnya.
Mui tidak berteriak panik nan histeris. Ia juga tidak menangis kehilangan akal sehingga menjadi gila. Tidak ada waktu untuk semuanya itu.
Sekarang dalam keadaan yang tidak mudah dimengerti, Mui tiba-tiba terseret ke hutan ini. Hutan yang bahkan namanya tidak mau ia sebutkan.
Terjadi belokan tajam yang membuat goyangan hebat pada jaring yang membawa Mui. Mui mengerjap, tersadar dari kondisi diamnya dan mulai menggenggam jaring kuat-kuat.
"Kau harus lebih berhati-hati, Ochro," koreksi suatu suara pada orang yang mungkin bernama Ochro.
"Berisik kau, Diksi! Memangnya Dia peduli jika tangkapan ini utuh atau tidak?" balas suatu suara yang pastilah itu adalah suara Ochro.
"Kau benar juga, Ochro. Lagipula orang itu apapun kondisinya pasti akan tetap dihabisi Dia, kan?" timpal orang yang dari suaranya adalah Diksi.
"Siapa pimpinan kalian? Apa gunanya membunuhku?" tanya Mui berusaha sekuat mungkin tidak bergetar.
Terdengar suara decakan dan Diksi mengeluarkan suara. "Ada yang bicara tuh, Ochro. Aku malas menanggapinya."
"Dia? Entahlah? Kami juga tidak begitu tahu. Mungkin kau bahkan akan lebih tahu tentang dia sebelum kau menjadi serpihan cerita," jelas Ochro terasa tidak peduli. "Gunanya membunuhmu? Tidak ada yang tahu. Kami hanya berusaha melakukan yang terbaik agar keadaan di sini menjadi lebih baik. Yah, mungkin kau bisa bertanya sendiri pada dia nanti."
Diksi tertawa. "Kau hanya membuat orang bodoh ini pusing. Orang ini membutuhkan tujuh kepala untuk menanggung penjelasanmu itu, Ochro."
"Dan tujuh kepala lagi untuk bisa melawan kita sedikit, " timpal Ochro. "Jika memang seperti itu, seratus kepala bahkan tidak cukup untuk melawan kita."
Mui menggenggam jaring air yang mengelilinginya lebih erat. Lebih dari ini, mungkin tidak ada yang perlu ia dengar lagi. Ia harus berusaha! Tapi bagaimana caranya? Jaring aneh ini walau terbuat air kekuatannya tidak main-main.
Beberapa detik yang terasa tidak ada gunanya bagi Mui terlewati. Dengan masuk ke hutan ini saja sudah membuat energinya habis. Apalagi memotong jaring air yang membawanya. Belum lagi masalah ketinggian di udara dan melawan para orang pembawanya.
Mui mengambil napas dalam lalu memejamkan matanya erat-erat. Hembusan angin dingin yang bertiup perlahan menghangat.
Rombongan itu memasuki daerah perbatasan cuaca cerah dan cuaca hujan. Ketika mereka memasuki tempat cahaya matahari yang tumpah secara melimpah. Bias-bias pelangi mulai berkelip-kelip pada embun yang bersemayam di mana-mana. Bahkan, kabut dan jaring yang mengikat Mui tidak mau ketinggalan untuk memantulkan fenomena tersebut.
Mui tidak membuka matanya. Ia juga tidak sempat melihat-lihat biasan pelangi yang tercipta. Hanya satu yang ia rasakan yaitu kehangatan matahari yang menerpanya. Membuatnya berani berharap.