"Hu... tan Orsiru? Bukan hutan kesera?" tanya Mui menyelidik.
Kinekria mengorek sebelah telinganya. "Hutan Kesera? Istilah yang kau pakai seperti manusia tanpa kekuatan saja."
Mui ingin bilang kalau ia memang tidak punya kekuatan. Tapi tampaknya mengatakan hal tersebut pada makhluk yang tidak jelas manusianya atau tidak bukan hal yang bagus. Bisa-bisa ia menggali kuburannya sendiri.
"Apa maksudnya ehm... tentang masalah istilah-istilah itu." ucap Mui membuat isyarat tanda kutip. "Maksudku, apakah itu sejenis diskriminasi ataukah adat."
Kinekria menunjukkan tangannya ke suatu arah. "Cukup jauh di bagian selatan sana ada negeri para manusia biasa. Para manusia biasa di sana menyebut tempat ini hutan kesera. Sejarahnya sih pada manusia yang dulu pernah tahu keberadaan kesera. Mereka menyebut ini hutan para kesera dan seiring berjalannya waktu menjadi hutan kesera."
Mui mengangguk sok serius meski dalam hati menandai dengan baik arah yang ditunjuk Kinekria. "Jadi mudahnya manusia biasa sudah tidak tahu dan kenal kesera seperti kita. Sisanya, nama itu terabadikan dengan nama hutan ini."
Kinekria tersenyum cerah penuh semangat. "Benar sekali. Seperti itulah."
Mui memiringkan kepalanya sambil melipat lengannya. Bersikap sebiasa mungkin jika bisa. Masalahnya, ia tidak tahu standar tingkatan siluman yang ditandai dengan kesera ini.
"Kau tahu banyak ehm...Nona! Iya, Nona. Pasti kau pernah berkunjung ke dunia di selatan itu, " ujar Mui meski ia yakin anak ini pasti mengada-ngada soal istilah itu. Imajinasi anak-anak itukan begitu liar.
"Pernah, dulu sekali dengan temanku kesera me sama sepertimu," jelas Kinekria sembari menyikut Mui yang masih terduduk dengan lengannya.
Mui mengerjap berusaha memproses apa yang anak ini bicarakan. "Apa itu? Dulu kapan? Apa kau membawa paspor?"
"Dulu dua puluh satu tahun yang lalu mungkin. Entahlah, aku tidak begitu pintar menghitung waktu puluhan tahun terakhir ini," ucap Kinekria santai.
Mui yang seharusnya merasa takut malah memandang anak di hadapannya aneh. Dilihat dari manapun, anak itu lebih muda dari Mui—yang bahkan belum berumur sampai 20 tahun. Entah anak ini sebenarnya siluman jadi-jadian atau ia sangat pintar membual. Yang terpenting bagi Mui sekarang adalah kembali ke negerinya.
"Baiklah, karena tampaknya ini sudah siang. Kurasa kau harus segera tidur siang. Jadi, senang bertemu denganmu," ucap Mui mulai berjalan menuju Selatan.
"Kau mau ke mana?" tanya Kinekria sembari mengikuti langkah jalan Mui sambil patahan tongkatnya yang rupa-rupanya adalah cabang pohon.
Mui menunjuk dirinya bangga. "Aku ingin ke dunia orang biasa ehm... sebagai napak tilas kesera apalah yang kau sebutkan tadi. Ne, ya? Napak tilas kesera ne."
"Kesera me," koreksi Kinekria.