Laki-laki itu langsung mengarahkan tongkatnya ke arah Mui. Gayanya seperti memegang pedang saja, bukan tongkat pemukul. Ekspresinya yang dingin dan tenang seharusnya terasa mencekam. Alih-alih mencekam, rasanya lebih ke berbahaya yang sayang kalau ditinggalkan.
"Aku tidak pernah melihat wajah orang sepertimu di tempat ini. Apa kau mata-mata? Kaum pemberontak?" tanya laki-laki itu.
Mui tidak menjawab. Ia tidak merasa takut pada laki-laki yang tampaknya lebih tua sedikit darinya. Mungkin ia seumuran dengan Rei.
Bahkan, saat laki-laki itu mengacungkan tongkat yang mungkin adalah ancaman serius. Mui tetap merasa tenang. Dengan ketenangan itu, setidaknya Mui jadi bisa berpikir sedikit jernih. Dan hal pertama yang ia dapat serta tidak dipedulikannya adalah, orang ini kemungkinan lebih kuat dan lebih tidak ramah dibandingkan Kinekria.
"Siapa namamu?" tanya laki-laki itu lagi.
Mui tersenyum. "Jika kau ingin tahu namaku. Setidaknya, Anda yang memulainya terlebih dahulu."
Laki-laki itu balas memperhatikan Mui lebih jauh. "Aku tidak tertarik memberikan namaku pada orang mencurigakan sepertimu. Tapi sebagai gantinya, panggil saja aku sesukamu sebelum aku memperkenalkanmu dengan ajalmu."
"Tuan Bulan Sabit," ucap Mui sebentar yang langsung membuncahkan sedikit pertanyaan pada ekspresi wajah si laki-laki.
"Tuan Bulan Sabit?" pikir laki-laki itu lalu menengok kebelakangnya. "Oh, rupanya karena malam ini adalah malam bulan sabit."
"Iya, begitulah," ucap Mui sembari bangkit dari duduknya. Sementara itu, Tuan Bulan Sabit tetap memandang ke arah bulan. Membelakangi seorang Kires Mui.
"Kalau begitu, sebagai kenang-kenangan terakhir. Bagaimana kalau kupanggil kau Nona Bulan Sabit ju—"
"Maaf," ucap Mui lirih sembari menendang keras Tuan Bulan Sabit ke dasar jurang. Tidak lupa, Mui juga menarik tongkat yang diduga juga alat terbang itu.
Mui memutuskan untuk tidak mengintip ke jurang karena tidak terdengar jeritan. Kemungkinan, orang itu masih hidup—bagus! Karena Mui tidak ingin menjadi pembunuh terlebih lagi orang yang bernotabe bahaya yang tidak boleh dilewatkan—dan akan langsung mengejar Mui. Maka dari itu, Mui langsung menghambur untuk melanjutkan jalannya.
Baru beberapa langkah Mui berlari. Ia berhenti dan kembali memandang ke arah bulan sabit. Ia kemudian kembali berlari dengan perasaan bahwa kejadian tadi pastilah akan membekas dihidupnya selama-lamanya.
***