The Legend of Kesera - the first : a new life

Za Zlyn
Chapter #10

9. Kembali


Mui tidak tahu apa yang terjadi kecuali satu hal. Ia masih ingin hidup. 

Tuan Bulan Sabit sendiri tampak bingung dengan apa yang terjadi. Dengan pakaian kimono putih dengan ujung hitam itu, Tuan Bulan Sabit memilih memainkannya angin kembali. Memutari dirinya dengan pusaran angin yang mungkin akan berujung pada tornado api. 

Menyadari lidah api yang melingkar pada pusaran angin. Mui memilih untuk melanjutkan larinya. Menuju Tuan Bulan Sabit dan berlari memutari pusaran api tersebut. Mui harus memanfaatkan jarak pandang Tuan Bulan Sabit untuk kabur. 

Sambil memegang tongkat Tuan Bulan Sabit, ia memukul menjauh ranting-ranting yang terbakar. Terkadang ia meluncurkan tubuhnya pada bara ranting berapi. Meski ia sendiri lebih sering melompati ranting api tersebut. 

Semakin lama berlari, Mui sukses menemukan dua tebing yang tadi ia lewati. Mui bisa sedikit merasa puas karena dugaannya api di hutan ini tidak bisa menyeberang benar. Maka Mui mempercepat lari dan menyiagakan kakinya untuk dapat melompati tebing tinggi tersebut. 

Mui berniat melompat dengan epik sampai ke ujung tebing. Hanya saja, rupanya hari ini adalah hari memberi kejutan untuk Mui. 

Saat ia melayang di udara seperti menuju bulan sabit, angin menyingkap rambutnya yang panjang seketika. Tongkat yang ia pegang dengan satu tangan tiba-tiba seperti mempunyai nyawanya sendiri. Menarik Mui dengan paksa terbang menjauhi tempat kejadian. 

Mui tentu saja menjerit secara spontan namun segera ia redam. Berbahaya kalau Tuan Bulan Sabit mendengar dan langsung mengejarnya dengan tornado api. Terlebih, ada hal lain yang perlu dikhawatirkan lagi untuk hari ini. Yaitu kenyataan bahwa hanya tangan kanan Mui yang bergantungan pada tongkat itu. Sisanya tubuh Mui terpaksa harus terombang-ambing oleh tongkat yang tidak diketahui waktu istirahatnya ini. 

Mui melirik ke belakang dan untungnya Tuan Bulan Sabit tidak mengejarnya. Pemandangan hutan mulai menjauh dan entah kenapa tidak ada asap yang membumbung di angkasa. 

Mui kemudian memandang ke bawah. Hutan-hutan masih lebat, dipikir-pikir lagi mungkin jika Mui berani melompat barangkali ia akan selamat. Tapi ia tidak tertarik pada resiko alternatif ketidak selamatan. 

Lama waktu berlalu dan tangan kanan Mui sudah tidak bisa dirasakan. Mau menggunakan dua tangan dan terbang ala nenek sihir pun tidak bisa. Tubuhnya terombang-ambing brutal hingga tangan kirinya sulit menggapai tongkat tersebut. 

Mui kembali memandang ke bawah. Menyiapkan nyali untuk melepas tongkat terbang karena ia tidak mungkin akan terbang untuk selamanya. 

"Baik. Ini saatnya..." Mui terdiam, pemandangan hutan di bawahnya telah berganti. Bukan hutan lagi melainkan rumah-rumah sederhana dari kayu dengan jalan-jalan lebar. Sejak kapan? Kenapa sebagian besar pohon berubah menjadi rumah? 

"Jalan-jalan malam yang indah, ya?" sapa seseorang tiba-tiba. Membuat Mui terkejut dan secara otomatis melepas tongkat yang ia pegang. 

Ajaib, tongkat tersebut juga berhenti terbang. Ia ikut terjatuh berada tepat di atas Mui. 

Lihat selengkapnya