Mui mengerjap. Memandang tepat ke arah Kinekria. Ia memandang pada helai-helai rambutnya lalu pada keadaan sekitar. Banyak orang berlalu lalang dengan rambut berbagai rupa. Rambut warna-warni pelangi dan lainnya. Lebih dari itu, mereka semua membawa tongkat dengan berbagai rupa.
"Apakah tongkat sedang mode di sekitar sini," gumam Mui. Ia lalu berbalik, memilih terang-terangan untuk meninggalkan Kinekria.
"Hei, kau mau ke mana?" tanya Kinekria ketika Mui menepuk bahu seseorang dengan acak. Seorang laki-laki dengan rambut nila.
"Kau, apa kau pernah melihat orang dengan warna rambut dan mata sepertiku?" tanya Mui. Orang itu memandang Mui beberapa detik. Menatap tepat pada kedua mata Mui dan langsung tampak terkejut. "Siluman ulat rambutan!"
Mui hendak protes ketika tiupan angin menghantamnya dengan keras. Melambungkan dirinya ke udara menjauh dari pemukiman warga.
Terdengar Kinekria berteriak namun sebentar kemudian sudah terbang menyusul Mui. Mui sendiri sudah panik berada di angkasa. Mui benar-benar tidak terbiasa meski dari kemarin ia sudah dilempar ke berbagai tempat bak mainan tersebut.
Mui resmi terjatuh di area pepohonan. Kinekria sekali lagi menggunakan kekuatannya yang masif untuk melindungi pendaratan Mui.
Semuanya baik-baik saja saat Mui mendarat. Kinekria juga terbang melayang dengan tongkat di samping Mui.
Mui kali ini tidak meminta untuk diturunkan anak itu. Ia memilih untuk turun sendiri. Sudah cukup Mui berhutang banyak hal pada anak ini. Lama-lama, ia mungkin akan benar-benar terjerat.
"Kinekria," ucap Mui disela-sela ia turun dari pohon besar itu. "Idemu tentang memasuki istana itu ilegal. Terutama untuk anak kecil."
"Aku bukan anak kecil! Umurku sudah ratusan tahun!" protes Kinekria.
Mui memandang Kinekria lekat. Bola mata besar khas anak-anak, wajah yang memerah karena marah, ekspresi urakan, dan... kuncir rambut dua di kepalanya.
"Ba... ik. Anak kecil berumur ratusan tahun," ujar Mui.
"Diam! Aku bukan anak kecil! Aku sudah pernah tua!" jerit Kinekria merasa marah.
Mui tersentak karena anak itu berteriak di samping telinganya. Membuat tongkat yang ia bawa tergelincir jatuh. Dengan waspada, Mui memandang tajam Kinekria.
Bau hangus kayu dan tumbuhan merebak memasuki hidung Mui. Dia merasa sekitarnya memanas dan langsung menyadari apa yang terjadi.
Pada tempat di mana tangannya bertengger telah muncul api yang menyala-nyala. Merasa terkejut, Mui spontan melepaskan tangannya padahal ketinggian masih sangat beresiko.
Meski jatuh dengan naas begitu, tangan Mui sigap menggapai-gapai batang pohon. Kurang beruntungnya, batang pohon tersebut dengan segera terbakar. Akhirnya Mui melepaskan tangannya lagi lalu memegang batang pohon lagi. Begitu terus sampai ia jatuh ke tanah menghantam tongkat Tuan Bulan Sabit.