The Legend of Kesera - the first : a new life

Za Zlyn
Chapter #12

11. Perjalanan

Mui dan Kinekria mendarat di pinggiran batas tanah dan air banjir bandang. Banyak sekali orang yang mengungsi di tempat itu. Beberapa terbaring tidak sadarkan diri atau sekadar beristirahat saja.

Mui menggenggam tongkat milik tuan bulan sabit dengan gemetar. Ia terlalu lama bergantungan di udara hingga kebas untuk tetap tegak. Sejauh ini, kegunaan terbesar tongkat yang tidak berefek samping itu hanyalah membantunya berdiri.

"Aku harap kau tidak membuat masalah lagi di daerah sini," ucap Kinekria. Mui sendiri tersenyum lemah mendengar kata-kata itu. Bagaimana bisa seseorang yang berdiri saja memerlukan tongkat membuat masalah lebih jauh?

Mui kembali memperhatikan sekitarnya. Namun bukan hal itu yang penting bagi Mui sekarang. Karena swmakun lama ia membuka mata, semakin susah juga ia mempertahankannya. Kedua matanya serasa semakin menyipit dihadapkan dengan penerangan berlebihan dari langit.

"SEMUANYA! TUTUP MATA KALIAN!" Kinekria kembali berteriak. Mui tentu saja menutup matanya. Merasakan kontras ledakan cahaya yang kemungkinan berujung pada kebutaan jika matanya masih terbuka.

"Apakah sudah aman?" tanya Mui pelan ketika menyadari pencahayaan yang mulai kembali ke stelan awal. Meski begitu, Mui memutuskan untuk tetap berhati-hati. Ia masih ingin melihat warna-warni dunia.

"Sudah, tapi agak..." Kinekria tidak melanjutkan ucapannya. Membiarkan Mui membuka matanya sendiri. Mui merasakan campuran warna yang teraduk-aduk akibat matanya yang berusaha beradaptasi selepas tragedi tadi.

"Kalian..." terdengar suara dingin nan tegas. "... tidak diterima di Ermili. Menjauhlah dari wilayah kekuasaan kami."

Mui butuh beberapa detik untuk mendapatkan gambaran orang yang berbicara tersebut. Ia memakai jubah rami halus yang sukses menutupi wajahnya. Rambut kuningnya yang menjuntai panjang berwarna emas kekuningan.

"Kesera ku," gumam Kinekria seakan itu masalah serius. Bersikap seolah rombongan dari Aira tidak ada yang berwarna rambut seperti itu. Yah, memang tidak ada yang sampai keemasan rambutnya seperti perempuan ini.

"Kami baru saja kehilangan tempat tinggal kami," seorang laki-laki berambut kuning berbicara. Matanya yang berwarna kuning sepanas sinar mentari.

Orang berambut keemasan membuka tudung wajahnya. Bertatapan intens dengan laki-laki tersebut. Atmosfer ketegangan membuat hari itu semakin cerah saja.

Pemilik rambut emas dengan mata keemasan selayaknya sinar mentari pagi itu mengambil langkah mundur. Menghirup napas berulang seperti belajar pernapasan kemudian mengacungkan tongkatnya yang mengkilat. Tepat ke arah wajah pria di depannya.

"Soal pengungsi itu... bukan urusan kami. Cukup Kelaras, Anila, Katana, dan Aira saja yang mengalami hal itu. Ermili tidak mau ikut campur," jelas perempuan rambut keemasan itu dengan santai. Ia benar-benar terlihat tidak peduli dengan para pengungsi.

"Tapi bukankah ini daerah perbatasan kosong?" Kinekria ikut berbicara.

Perempuan itu menyilangkan tongkat panjang miliknya di sela-sela leher. Tampak berpikir."Tapi bukankah di peta ini itu wilayah Ermili?"

"Dulu tidak seperti itu. Hukum tujuh wilayah kuno memiliki daerah kosong untuk bisa bernapas. Jalur bagi para pengembara."

Perempuan itu berpikir keras lagi. Namun sedetik kemudian ia sudah melesat tepat di depan Kinekria. Terlihat antusias.

Kinekria yang tidak siap melonjak mundur. Menabrak ke arah Mui yang refleks menangkap dirinya. Melepas tongkat milik pria Tuan Bulan Sabit begitu saja.

Tanpa aba-aba lebih lanjut, sekobaran api melecut cepat melingkupi diri Kinekria. Kinekria langsung menjauhi Mui, menggulingkan tubuhnya sepanjang jalan untuk tercebur ke dalam air. Air banjir bandang yang berasal dari wilayah Aira.

Mui memandangi tangannya dengan ngeri. Belum lagi, di sekeliling dirinya ada banyak serpihan api yang tertinggal menambah level keruwetan dirinya. Serpihan api yang semakin besar membuat orang-orang mundur secara cepat.

"Bangunkan para kesera bi," instruksi seseorang menggema. Membuat Mui merasa semakin panik saja dan lingkaran api bertambah meledak-ledak.

Lihat selengkapnya