The Legend of Kesera - the first : a new life

Za Zlyn
Chapter #13

12. Kissei


Mui, Kinekria, Aila, dan para pengungsi akhirnya berjalan bersama ke arah wilayah Linging. Hanya saja, orang-orang menjaga jarak aman beberapa ratus meter di belakang Mui. Kesera Ku dari Ermili benar-benar tidak membiarkan mereka masuk.

"Apakah... mereka semua benar-benar akan terus bersama kita?" tanya Mui yang berjalan di belakang Kinekria dan Aila.

Kinekria sendiri dengan lincah melangkah ke sana kemari. Ia sangat luwes menjelajahi wilayah hutan yang terlalu asri itu. Aila sendiri juga berjalan dengan mudah melewati hutan. Dia terlihat sangat anggun bagi orang yang saling mengenal dengan hutan. Berbeda dengan Mui yang sedikit kesusahan. Hutan Orsiru/Kesera sangat berbeda dengan di negerinya. Jika hutan di tempatnya adalah level 1. Maka hutan ini adalah level 10.

"Mungkin beberapa orang yang tongkatnya tertinggal di Aira akan ke Linging. Tapi sebagian besar pasti akan menetap di wilayah Batu," jelas Kinekria sambil berhenti. Menoleh ke belakang lalu berlari-lari melanjutkan perjalanan.

"Apa lagi itu wilayah Batu. Tempat itu berisi batukah?" gumam Mui.

"Tempat itu memang penuh batu. Tapi cukup nyaman untuk ditinggali. Lebih baik daripada mengungsi ke wilayah para Sisera," jelas Aila.

Kinekria melompati dengan mudah ranting yang lebih tinggi dari badannya. "Tapi, Aila. Kemungkinan daerah para Sisera lebih aman dari daerah tujuh kekuatan. Yah, andai perseteruan golongan itu tidak ada."

Aila tampak penasaran namun segera dipotong pertanyaan Mui.

"Sisera? Apalagi itu? Ada Kesera, Sisera, dan... benar, Gusera!" tanya Mui.

Kinekria berhenti untuk memandang Mui seolah dia adalah alien.

"Saya Gusera," ujar Aila sembari menunjuk dirinya sendiri.

Mui mengernyit serius. "E... Eh! Apa!?"

Aila tertawa kecil. "Kenapa terkejut seperti itu? Seharusnya para Gusera yang terkejut akan keberadaan Kesera bukan?"

"Ya... Yah," Mui menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Haruskah ia menjelaskan pada orang di hadapannya asal Mui yang sebenarnya.

"Dulu saya hidup di suatu panti asuhan pelosok dengan beberapa anak termasuk Kissei. Saya dan Kissei tidak punya kekuatan apa-apa, hanya orang biasa dan tidak tahu apa-apa. Hingga terjadi... wabah-wabah kecilan di tempat kami tinggal. Seorang Kesera berambut ungu kemudaan datang ke tempat tinggal kami. Dia memberi kami minuman dan menyembuhkan kami semua. Saya dan Kissei sangat kagum hingga kami ikut dengannya beberapa tahun untuk berguru. Benar juga, warna matanya juga biru muda."

Mendengar penuturan Aila, Kinekria kembali melompat hinggap di atas ranting pohon. Berkacak pinggang seperti anak-anak yang puas karena tinggi badannya sudah bersaing dengan Mui dan Aila.

"Aila, siapa nama orang itu?" tanya Kinekria serius.

Aila tampak berpikir. "Guru... sering berganti-ganti nama."

Kinekria menarik napas dalam. Ia lalu berbalik, menyiapkan tongkatnya untuk terbang. "Sebaiknya kita cepat menemui Kissei. Ada banyak yang ingin aku bicarakan dengan kalian bertiga. Dan Aila, jika kau bertemu gurumu lagi. Bilang padanya, Untuk sekarang, masalah negeri ini lebih serius dan ambilah hak adik kecilmu untuk sementara."

Aila mengerjap. "Memangnya, guru itu siapa?"

"Ciri warna mata yang berbeda dengan rambut itu Bisera. Dan ya, gurumu itu sebenarnya adalah pangeran pertama. Sudah ya, aku pergi dulu."

"Ta-tapi..." Aila tergagap dan tampak kaget dengan fakta yang ia dengar. Mau membicarakan atau bertanya banyak hal pun sia-sia karena Kinekria telah melesat pergi.

"Apalagi itu Bisera?" ujar Mui tidak habis pikir dengan wawasan baru yang ia dengar.

Lihat selengkapnya