The Legendary Weapon Creator

Radya
Chapter #2

Senjata Pertama

Api emas di dalam tungku menari perlahan, memancarkan cahaya yang menerangi seluruh bengkel raksasa. Udara dipenuhi aroma logam panas, sementara dentingan palu terus bergema tanpa henti.


Tang...


Tang...


Tang...


Raksa berdiri di depan tungku dengan palu tua di tangannya. Meski belum melakukan apa pun, telapak tangannya sudah berkeringat.


Ia pernah membaca banyak buku tentang penempaan, tetapi membaca dan melakukannya adalah dua hal yang sangat berbeda.


Asterion menyilangkan kedua tangan.


"Apa yang kau tunggu?"


Raksa menarik napas panjang.


"Saya belum pernah menempa senjata."


"Itulah sebabnya kau harus mulai sekarang."


Raksa mengangguk pelan. Ia mengambil sebongkah bijih besi yang berada di dekat tungku.


Saat logam itu dimasukkan ke dalam api emas, sesuatu yang aneh terjadi.


Logam tersebut tidak berubah menjadi merah seperti api biasa.


Sebaliknya, permukaannya memancarkan cahaya keperakan.


Raksa mengernyit.


"Api ini berbeda."


Asterion tersenyum tipis.


"Itu bukan api."


"Itu adalah Api Jiwa."


"Api yang hanya dapat digunakan oleh mereka yang dipilih Warisan."


Raksa menatap nyala emas itu dengan kagum.


"Api Jiwa..."


"Setiap pandai besi legendaris memiliki apinya sendiri."


"Dan ini adalah salah satunya."


Tak ingin membuang waktu, Raksa mengambil logam yang telah membara menggunakan penjepit.


Ia meletakkannya di atas landasan besi.


Lalu...


Tang!


Palu menghantam logam itu.


Namun, logam tersebut justru memantul dan hampir mengenai wajahnya.


Raksa buru-buru mundur.


Asterion hanya menggeleng pelan.


"Kau memukul terlalu keras."


Raksa mengusap dahinya.


"Saya pikir semakin kuat pukulannya, semakin cepat selesai."


"Itulah kesalahan pertama semua pemula."


Asterion berjalan mendekat.


Ia mengambil logam yang sama.


"Hammer bukan digunakan untuk menghancurkan."


"Tetapi untuk mendengarkan."


Raksa mengernyit.


"Mendengarkan?"


Asterion mengangguk.


Ia mengangkat palu.


Tang...


Suaranya terdengar jernih.


Tang...


Tang...


Setiap pukulan memiliki kekuatan yang sama.


Perlahan, logam itu berubah bentuk dengan sendirinya, seolah mengikuti irama palu.

Lihat selengkapnya