The Life I Asked For

Wiwi Jingga
Chapter #1

Prolog - Malam Ketika Doa Dijawab

Orang bilang Tuhan tidak pernah salah memilih takdir untuk manusia.

Kalau begitu, mengapa aku selalu berharap bisa menukar hidupku dengan orang lain? 

---

Nadira baru saja pulang ke apartemennya.

Seperti biasa, ia berjalan dengan tubuh lunglai.

Ia lalu membantingkan tubuhnya ke sofa.

Di meja sofa terlihat secarik amplop bertuliskan "Dear Nadira", surat terakhir dari ayahnya lima belas tahun lalu yang sampai sekarang belum berani ia baca. 

Nadira mengacak rambutnya yang sudah berantakan dari awal.

Ia menutup matanya dengan kedua tangannya. 

Pecah tangisnya tak dapat dibendung lagi membasahi wajah dan tangannya.

Tangisnya tercekat.

Susah payah ia menahan semuanya agar tidak meledak sekarang.

Masalahnya, ia sudah lelah hari ini, tidak ingin lebih lelah lagi dengan menangis jelek.

Hari ini hari pernikahan Adrian--mantan kekasih sekaligus cinta pertama Nadira yang dulu meninggalkannya, dan sialnya hari ini juga hari ia dipecat dari kantor tempat ia bertumbuh sejak lulus SMA karena difitnah oleh rekan kerjanya.

Nadira pikir Tuhan sudah cukup memberinya kehidupan menyedihkan yang tiada ujungnya ini. 

Tapi kali ini, sekali lagi, saat ia sudah menjadi kepingan beling yang tajam dan menyakitkan, ia hancur, melukai, dan terluka lagi. 

Wajahnya masih sembab saat Mamanya meneleponnya malam itu.

"Halo.."

"Halo, Nad. Kamu sudah gajian? Transfer Mama sekarang ya. Papi sudah marah-marah mau beli rokok dan adikmu harus bayar UKT," ucap Mama Nadira. Ucapannya buru-buru, seolah tak memberi Nadira kesempatan untuk membalasnya, kemudian ia menutup teleponnya. 

Lihat selengkapnya