Pukul 06.30 Nadira berlari kecil dengan sebuah payung di tangan kanannya menuju halte bus Trans Jakarta. Pagi itu hujan gerimis membuat udara terasa dingin sekali. Sepatu kets putihnya kotor terkena cipratan genangan air akibat hujan deras semalam. Baru sampai di gerbang halte, Trans Jakarta rute tujuannya ke kantor sampai dan beberapa penumpang berdesakkan untuk segera masuk bus. Nadira mempercepat larinya agar tidak tertinggal.
Tap!
Nadira menempelkan e-money pada reader pembayaran.
Sial. Saldonya habis, sementara bus sudah mau berangkat lagi.
Nadira menghentakkan kakinya kasar. Kesal sekali tertinggal bus pertama yang ia lihat hari ini.
Bus selanjutnya datang. Nadira buru-buru masuk tanpa permisi, mencari posisi paling nyaman menurutnya. Namun namanya bus Trans Jakarta di rush hour, senyaman-nyamannya posisi, berdiri terhimpit sampai tujuan bukan hal yang bisa dihindari. Tangan Nadira menggenggam erat pegangan besi di atas kepala. Ia memasukkan e-money-nya ke dalam card holder yang menggantung di lehernya. Terlihat foto perempuan cantik dengan blazer hitam dan rambut hitam terjuntai bertuliskan Nadira - Digital Marketing Specialist.
Hari itu hari pemilihan Team Lead di kantornya. Ia terpilih menjadi salah satu kandidat potensial yang harus presentasi hari ini. Sementara itu, mood-nya sudah tidak baik sejak pagi. Nadira menggembungkan pipinya, menghembuskan napas perlahan untuk membuat moodnya kembali demi kelancaran presentasi hari ini.
Pukul 08.29 Nadira sampai di kantor. Satu menit sebelum jam masuk kantornya. Untung tidak benar-benar terlambat hari itu.
Nadira buru-buru menuju mejanya, mengganti sepatu kets putihnya yang sudah kotor dengan pantofel hitamnya. Ia merapikan berkas-berkas, mengecek salindia yang sudah disiapkan semalam. Tiba-tiba Nadira menyadari suasana kantor pagi itu berbeda dari biasanya. Sejak ia datang, rekan kerjanya selalu memperhatikannya sembari bisik-bisik.
"Nadira dipanggil Pak Beni sekarang di ruangannya," ucap Sita--salah satu kandidat calon team lead juga, yang bicara dengan menghindari kontak mata dengannya.
"Oh iya, ini aku lagi siap-siap kok buat presentasi," jawab Nadira.
"Bukan itu, pokoknya kamu ke sana aja dulu."
Nadira menuju ruangan Pak Beni. Ia memasuki ruangan itu setelah mengetuk pintu dua kali.
"Silakan duduk," ujar Pak Beni tanpa mengangkat kepala. Tatapannya masih tertuju pada layar laptop.