Dalam lelap tidurnya, tiba-tiba ponsel Nadira berdering. Ia membuka matanya berat dengan posisi masih tengkurap. Ia melihat layar handphone dan menyipitkan matanya untuk melihat nama "Mama" yang tertera di layar.
"Halo.."
"Halo, Nad. Kamu sudah gajian? Transfer Mama sekarang ya. Papi sudah marah-marah mau beli rokok dan adikmu harus bayar UKT," ucap Mama Nadira, kemudian ia menutup teleponnya. Ucapannya buru-buru, seolah tak memberi Nadira kesempatan untuk membalasnya.
Nadira menarik napas dalam, lalu menghembuskannya kasar. Ia bangkit dari tidurnya. Melamun sejenak. Tangannya memeluk tubuhnya sendiri. Perlahan menepuk-nepuk pundaknya agar tangisnya tidak pecah lagi. Ia sudah terlalu lelah jika harus menangis lagi.
Setelah lebih tenang, ia mentransfer uang Rp5.000.000 ke Mama. Ia mengirimkan pesan singkat, "Sudah ditransfer ya, Ma." Pesan terbaca. Satu menit. Dua menit. Tak ada jawaban. Sebenarnya ia tidak kaget lagi karena memang biasanya seperti itu. Tapi terbiasa bukan berarti rasanya tidak sakit lagi. Nadira kembali membuka m-bangking, melihat saldo yang tersisa di sana: Rp500.000. Ia melihat saldo itu dengan ekspresi datar.
Nadira menutup m-banking, lalu doomscrolling membuka Instagram. Melihat-lihat postingan teman-teman sekolahnya dulu. Bukannya terhibur, ia malah merasa kecil sekali. Ada yang posting wisuda S2. Ada yang posting jalan-jalan ke luar negeri, hingga posting menikah dan memiliki keluarga bahagia. Nadira buru-buru menutup Instagramnya. Terlihat di layar walpapernya adalah foto anak kecil dengan senyum polos merekah di wajahnya. Dari sekian banyak kehidupan yang bisa dipilih seperti kehidupan teman-temannya, mengapa kehidupan ini yang dipilihkan untuknya?
"Ya Tuhan, jika Kau memang mencintaiku, izinkan aku mengubah kehidupan ini. Satu kehidupan lagi yang tidak menyakitkan. Satu kehidupan dengan cerita yang kumau," ucap Nadira lirih. Suaranya bergetar seolah mengeluarkan senjata terakhirnya.
Tiba-tiba lampu kamar remang-remang itu berkedip-kedip. Cahaya yang entah dari mana menyilaukan seisi ruangan. Angin kencang membuat benda-benda di sekitar beterbangan dan berantakan. Jam dinding berhenti berdetak. Hujan di luar mendadak sunyi.
Nadira berdiri dari sofanya dan melihat-lihat sekitar. Saat ia menghentikan pandangannya di meja pantry, ia tersentak kaget. Seseorang tengah duduk di kursi meja makannya dengan sebuah botol minum kaca yang tadi ia lupa tutup. Anehnya, botol kaca itu tetap diam tidak beterbangan seperti benda lain di sekitarnya.
Nadira mundur perlahan, mengucek matanya memastikan apa yang sedang ia lihat. Tangan kanannya diam-diam meraba apapun yang ada di meja di sebelahnya. Apapun untuk pertahanan dirinya.
"Si.. siapa? Kenapa kamu di sini? Kamu mau maling?" Nadira menurunkan bahunya. Sejujurnya Nadira sudah tidak ada energi lagi jika hari itu benar-benar ada maling di apartemennya.
Angin kencang di dalam apartemen itu berhenti. Cahaya lampu kamar kembali seperti semula.
"Kalau kamu mau memanggilku, panggil saja aku El seperti manusia lainnya," jawab sosok itu.
"Hah?" Nadira masih belum mencerna semuanya.
"Kamu mau apa di sini? Aku sudah lelah. Kalau kamu mau maling, ambil apa saja yang ada di sini, lalu pergi," tambahnya.