The Life I Asked For

Wiwi Jingga
Chapter #5

Bab 4 - Pagi Sebelum Semuanya Berubah

"Apa yang paling ingin kamu ubah?" tanya El, sebenarnya ia sudah tahu jawabannya.

Nadira mengambil mainan miniatur stetoskop di meja. Ia mengusap perlahan mainan itu. Mainan itu adalah mainan favorit masa kecilnya yang dibelikan oleh ayahnya. Karena cita-cita Nadira menjadi dokter, ia mengoleksi berbagai mainan miniatur kesehatan. 

"Penderitaanku sepertinya dimulai sejak kematian ayah. Kalau ayah masih hidup, aku tidak akan sebanting tulang ini menjadi tulang punggung keluarga. Ibu juga tidak akan menikah dengan pria lain. Aku bisa fokus studi kedokteran karena aku punya ayah. Kami seharusnya bisa hidup bahagia," ucap Nadira. 

"Kamu yakin begitu?" tanya El. Nadira mengangguk cepat.

Pikiran Nadira langsung teringat masa kecilnya saat terakhir kali minta dibelikan mainan stetoskop yang seperti asli. Stetoskop itu bisa berfungsi seperti stetoskop asli, hanya saja desain dan ukurannya dibuat untuk anak-anak. Warnanya merah muda. Harganya cukup mahal kala itu, apalagi bagi ayahnya yang saat itu hanya bekerja sebagai teknisi di kantornya. 

"Selama lima belas tahun, aku selalu percaya ayah meninggal karena memenuhi janjinya padaku," ucap Nadira. Ia teringat kembali bagaimana ia merengek minta dibelikan dan ayahnya berjanji akan membawakannya hari itu juga. Ia yakin ayahnya pasti mengusahakan untuk benar-benar membawakannya karena ayahnya tidak pernah ingkar janji. 

"Oke. Kamu hanya punya waktu sampai ayah kamu pulang ke rumah dan kembali bersamamu," ucap El. Nadira mengangguk setuju.

"Takdir bukan seperti buku yang bisa kaubaca berulang. Sekali kamu mengubah sesuatu, kamu harus siap dengan konsekuensi kalau masa depanmu akan berubah," tambah El. 

"Aku paham. Sekarang bagaimana?"

"Waktu di tempat ini akan menunggumu," ucap El. 

Tiba-tiba, jam dinding berhenti berdetak. Nadira menghilang di telan waktu masa lalu.

***

Lihat selengkapnya