The Life We Never Had

Ravenska Johana
Chapter #1

#1 Prolog. The Name Left Unspoken

Galeri itu belum benar-benar ramai.

Beberapa tamu undangan baru mulai berdatangan, sebagian masih sibuk berbincang sambil menerima segelas sparkling water dari pelayan yang berlalu-lalang. Cahaya matahari sore menembus dinding kaca setinggi langit-langit, jatuh lembut di lantai marmer yang memantulkan siluet puluhan kanvas berbingkai putih.

Di antara puluhan lukisan yang memenuhi ruangan, satu karya paling banyak menyita perhatian. Kanvasnya hampir dua meter. Di atas kanvas itu tidak ada perahu, tidak ada pulau, tidak ada burung, bahkan tidak ada manusia. Hanya laut yang membentang tanpa ujung. 

Laut yang tenang, nyaris tanpa riak, seolah angin memilih berhenti berembus tepat sebelum menyentuh permukaannya. Cahaya matahari pagi membias lembut di atas air, menghadirkan warna-warna yang sulit diberi nama–biru yang hampir keperakan, sedikit hijau, sedikit emas.

Di sudut bawah kanvas, sebuah pelat kecil bertuliskan: Is It Happiness?

Beberapa orang berhenti lebih lama di depan lukisan itu dibandingkan lukisan lain.

"Bagus sih,” ucap seorang pengunjung pada temannya.

"Iya."

"Tapi kok sedih ya? Padahal isinya cuma laut."

Tak jauh dari mereka, Reyna berdiri dalam gaun putih sederhana yang jatuh anggun hingga mata kaki. Rambut hitamnya disanggul rendah tanpa banyak hiasan. Senyumnya tipis saat menyambut tamu yang datang, cukup hangat untuk terlihat ramah, tetapi terlalu hati-hati untuk disebut bahagia.

Hari itu adalah pembukaan pameran tunggal terbarunya di Bali. Pameran yang telah ia persiapkan selama hampir satu tahun. Pameran yang kembali membuat namanya memenuhi berbagai media seni. Namun, dari puluhan karya yang dipamerkan, pandangannya selalu kembali pada satu kanvas yang sama.

Is It Happiness?

Entah sudah berapa kali ia berdiri di depan lukisan itu. Entah sudah berapa kali pula ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa itu hanyalah sebuah karya. Bahwa laut hanyalah laut. Bahwa warna hanyalah warna. Bahwa sebelas tahun adalah waktu yang cukup panjang untuk membuat seseorang berhenti mengenang.

"Kak Reyna?"

Suara seorang panitia membuyarkan lamunannya. Reyna menoleh.

"Acara pembukaannya lima menit lagi. Teman-teman media juga sudah siap."

Reyna mengangguk pelan, "Terima kasih."

Galeri mulai dipenuhi suara percakapan. Lampu sorot satu per satu dinyalakan. Di luar, beberapa kamera sudah mengarah ke pintu masuk. Reyna menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan.

Tepuk tangan memenuhi ruangan ketika pembawa acara mempersilakan Reyna berdiri di depan panggung kecil yang telah disiapkan di tengah galeri. Lampu sorot perlahan beralih ke arahnya.

Reyna membungkukkan badan singkat sebelum menerima mikrofon, "Selamat sore. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk hadir di pameran tunggal saya."

Suaranya tenang dan lembut. Persis seperti yang selama ini dikenal publik.

Ia tidak banyak berbicara. Hanya mengucapkan terima kasih kepada para kolektor, kurator, tim galeri, dan semua orang yang telah membantu mewujudkan pameran tersebut.

Beberapa menit kemudian, acara pembukaan resmi selesai. Pengunjung mulai menyebar ke seluruh ruangan. Suasana yang semula hening berubah menjadi riuh oleh percakapan kecil. Ada yang berhenti cukup lama di depan satu karya, ada yang memotret detail sapuan kuas, ada pula yang sekadar menikmati segelas minuman sambil berdiskusi tentang warna dan komposisi.

Reyna berpindah dari satu kelompok ke kelompok lain, menjawab pertanyaan ringan mengenai proses kreatifnya.

"Berapa lama menyelesaikan yang ini?"

"Hampir tiga bulan."

"Kalau yang itu?"

"Kurang lebih enam minggu."

"Semua dilukis langsung di studio?"

Lihat selengkapnya