Ponsel di tangan Ines bergetar pelan.
Ia baru saja selesai menonton beberapa video resep yang tidak pernah benar-benar ingin ia coba ketika ibu jarinya kembali menggeser layar. Video berikutnya langsung memenuhi layar.
Seorang perempuan berdiri di depan latar putih sederhana, mengenakan gaun putih tanpa banyak aksesori. Rambutnya disanggul rapi. Di belakangnya berjajar puluhan lukisan laut.
Ines langsung mengenalinya.
"Aunty Reyna?"
Alisnya terangkat pelan.
Sudah lama algoritma TikTok tidak menampilkan video tentang sang aunty. Reyna memang sesekali muncul di media sosial ketika mengadakan pameran atau menerima penghargaan, tetapi Ines jarang benar-benar memperhatikannya.
Ia hampir menggulir ke video berikutnya.
Sampai kalimat pertama yang terdengar membuat ibu jarinya berhenti.
"...laut selalu berubah. Tapi entah kenapa, selalu berhasil membuat saya merasa pulang."
Ines menaikkan volume ponselnya.
Potongan video itu berlanjut ke cuplikan lain. Seorang jurnalis bertanya sesuatu yang tidak terdengar jelas karena telah dipotong saat proses penyuntingan.
Lalu terdengar suara Reyna.
"...Saya pernah berpikir kalau kebahagiaan bisa diulang."
Video itu berhenti sejenak, memberi jeda dramatis. Kemudian potongan berikutnya muncul.
"...Ternyata saya salah."
Lalu akhirnya...
"...Bahagia tidak bisa diulang."
Video itu berakhir.
Namun Ines tidak langsung menggulir layar, ia justru memutarnya sekali lagi. Lalu sekali lagi. Entah kenapa, jawaban itu terdengar lebih seperti pengakuan daripada sekadar jawaban dalam sebuah wawancara.
"Aneh…," gumamnya pelan.
Selama ini Aunty Reyna selalu tampak baik-baik saja. Ia sukses sebagai pelukis, sering bepergian ke berbagai negara. Pamerannya hampir selalu dipenuhi pengunjung. Kalau hanya melihat kehidupan yang ditampilkan kepada publik, tidak ada alasan untuk mengucapkan kalimat seperti itu.
Kecuali...
Kalimat itu memang tidak sedang berbicara tentang lukisan.
Di sudut kanan bawah layar, jumlah penonton video itu terus bertambah. Ratusan ribu dan masih terus naik. Tanpa sadar, Ines mengetuk bagian komentar.
Kolom komentar bergerak begitu cepat hingga sulit diikuti. Setiap kali Ines menggulir layar, komentar baru terus bermunculan.
"Astaga... kalimat terakhirnya nusuk banget. 🥲"
"Adminnya mana? Tolong kasih peluk Kak Reyna. 😭"
"Pelukis kalau lagi melow emang begini ya?"
Ines tersenyum tipis. Netizen memang selalu pandai menghubungkan apa pun dengan kisah cinta.
Ia terus menggulir. Beberapa komentar mulai menyusun teori yang terdengar semakin serius.
"Ini mah bukan wawancara, sesi healing."
"Ini mah bukan bahas lukisan, ini bahas hidup."
"Yang ditanya lukisan loh, kenapa jawabannya bikin nyesek gitu, sih Reyna?"
Tatapannya bergantian berpindah dari potongan wawancara ke deretan komentar di bawahnya. Lalu sebuah komentar dengan ribuan tanda suka menarik perhatiannya.
Ines terdiam. Jemarinya berhenti tepat di komentar itu.