The Life We Never Had

Ravenska Johana
Chapter #3

#3 BAB 2. Mencari Jejak

Pagi itu Ines terbangun lebih cepat dari biasanya.

Semalaman ia tidur tidak benar-benar nyenyak. Setiap kali memejamkan mata, potongan wawancara Reyna kembali terngiang di kepalanya. Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi semakin dipikirkan justru semakin sulit dilepaskan.

Ia meraih ponsel yang masih tergeletak di samping bantal. Layar langsung menyala, memperlihatkan aplikasi TikTok yang belum sempat ia tutup sejak semalam. Video wawancara Reyna masih berada di riwayat tontonan paling atas. Jumlah penontonnya kini sudah menembus jutaan. Kolom komentar pun semakin ramai, dipenuhi berbagai dugaan yang terus bermunculan.

Namun pagi itu Ines tidak lagi tertarik membaca komentar. Rasa penasarannya sudah melewati tahap itu. Kalau semalam ia hanya bertanya-tanya, pagi ini ia ingin mencari jawaban.

Ia keluar dari TikTok, lalu membuka mesin pencarian. Jemarinya sempat menggantung beberapa detik di atas papan ketik sebelum akhirnya mulai mengetik.

Reyna pelukis.

Puluhan artikel langsung memenuhi layar.

Sebagian besar berasal dari media seni yang mengulas perjalanan karier Reyna. Ines membuka satu artikel, lalu artikel berikutnya, kemudian yang lain lagi. Isinya hampir serupa. Mereka membahas teknik melukis, kecintaan Reyna pada laut, pilihan warna, hingga kemampuannya menghadirkan kesunyian hanya lewat sapuan kuas. Namun tidak satu pun benar-benar bercerita tentang Reyna sebagai pribadi.

Ia mencoba kata kunci lain.

Pelukis Reyna Maringka keluarga.

Tidak ada hasil yang benar-benar membantu.

Reyna Maringka masa kuliah.

Hanya muncul berita tentang salah satu pamerannya bertahun-tahun lalu, dan itu pun tidak ada hubungannya dengan masa kuliah Reyna.

Reyna sebelum jadi pelukis.

Hasilnya tetap nihil.

Semakin banyak artikel yang ia baca, semakin jelas pola yang sama terus berulang. Seolah-olah kehidupan Reyna baru dimulai ketika namanya dikenal sebagai pelukis.

Ines menghela napas pelan.

"Enggak masuk akal..."

Di zaman ketika hampir semua orang meninggalkan jejak digital, rasanya mustahil seseorang bisa menghilang begitu bersih.

Bahkan dosen lamanya seharusnya pernah menyebut namanya, atau teman kuliahnya mungkin pernah mengunggah foto bersama, atau setidaknya ada dokumentasi kegiatan kampus yang masih tersimpan di internet. Namun semakin jauh ia mencari, semakin sedikit informasi yang berhasil ditemukan.

Bukan karena Reyna tidak terkenal, justru sebaliknya. Karier Reyna begitu mudah dilacak, sementara kehidupan sebelum karier itu seolah sengaja terhapus dari dunia.

Ines menyandarkan punggungnya ke kepala tempat tidur sambil menatap layar ponsel yang masih dipenuhi tab-tab artikel. Entah kenapa, ia kembali teringat ucapan mamanya semalam.

"Jangan mencari sesuatu yang memang tidak ingin ditemukan."

Kalimat itu terasa semakin mengganggu. Ia menggigit bibir pelan, lalu menutup seluruh artikel yang sejak tadi memenuhi layar.

Selama hampir satu jam berikutnya, Ines terus berpindah dari satu artikel ke artikel lain. Sesekali ia membuka wawancara lama Reyna, berharap ada satu kalimat saja yang menyebut sesuatu atau seseorang dari masa lalunya. Namun hasilnya tetap sama.

Reyna selalu berbicara tentang lukisan. Tentang bagaimana setiap karya memiliki cerita yang berbeda, tetapi tidak pernah sekalipun tentang dirinya sendiri.

Semakin banyak yang ia baca, semakin terasa bahwa semua orang mengenal Reyna sebagai pelukis, tetapi hampir tidak ada yang mengenal Reyna sebagai manusia.

"Enggak mungkin..." Ines menutup artikel terakhir, lalu menggeleng pelan.

Pasti ada teman-teman yang mengenalnya. Pasti ada seseorang yang pernah menghabiskan waktu bersamanya. Tidak mungkin seluruh masa mudanya benar-benar menghilang begitu saja.

Pikiran itu membuatnya kembali membuka TikTok.

Video wawancara Reyna kini sudah dipenuhi puluhan ribu komentar. Mencari satu komentar di antara sebanyak itu jelas bukan pekerjaan mudah. Namun ia masih ingat satu komentar yang sempat dibacanya semalam.

"Saya dulu satu kampus sama Reyna. Beda jurusan sih."

Komentar itu masih ada.

Ia mengetuk tombol Lihat Balasan.

Puluhan balasan langsung terbuka memenuhi layar.

"Kampus mana, Kak?"

"Kak Reyna emang dari dulu pendiem?"

"Cantik nggak dulu?"

"Pernah ngobrol sama Kak Reyna nggak?"

Orang yang menulis komentar itu hanya sempat menjawab beberapa pertanyaan sederhana sebelum menghilang. Tidak ada cerita panjang seperti yang diharapkan Ines.

Ia terus menggulir tanpa ekspektasi. Sampai sebuah balasan pendek membuat jemarinya berhenti.

"Ini Reyna yang dulu sama Samudera kan?"

Tidak lebih dari satu kalimat. Tidak ada penjelasan, tidak ada konteks. Hanya satu nama.

Samudera.

Jantung Ines berdetak sedikit lebih cepat. Ia membaca komentar itu sekali lagi. Nama itu tidak pernah ia dengar sebelumnya. Bukan teman atau keluarga. Bukan kolega Reyna yang pernah datang ke rumah. Bahkan tidak pernah sekalipun terlontar dalam percakapan sehari-hari. Namun anehnya, komentar itu dibiarkan begitu saja. Tidak dibantah, tidak juga dijawab.

Rasa penasaran mengalahkan keraguannya. Ines mengetuk kolom balasan.

Ia sempat berpikir beberapa detik sebelum akhirnya mengetik.

"Spill akunnya please."

Setelah memastikan tidak ada salah ketik, Ines menekan tombol kirim. Komentarnya langsung muncul di bawah komentar tadi. 

Tak butuh waktu lama sebuah balasan dari pemilik komentar masuk.

Kurang tahu akunnya. Tapi namanya Samudera Najoan kalau tidak salah ingat.”

Karena penasaran, ia keluar dari TikTok dan kembali membuka Instagram. Kali ini ia berniat memastikan sekali lagi apakah nama Samudera Najoan benar-benar nyata.

Namun, setelah mengetuk ikon Instagram, hal pertama yang ia lakukan justru bukan mencari nama Samudera. Ia membuka profil Reyna lebih dulu. Jumlah pengikut aunty-nya mencapai ratusan ribu. Angka yang cukup masuk akal untuk seorang pelukis dengan nama sebesar Reyna.

Tanpa berpikir panjang, Ines membuka daftar Following. Jarinya mulai mengetik satu kata.

Samudera.

Tidak ada hasil. Ia mencoba lagi.

Najoan.

Lihat selengkapnya