Pukul 05.55 WITA.
Roda pesawat akhirnya menyentuh landasan Bandara Internasional Sam Ratulangi dengan hentakan ringan yang membuat sebagian penumpang spontan mengangkat kepala dari sandaran kursi. Suara mesin perlahan melemah, berganti dengan pengumuman pramugari yang mengucapkan selamat datang di Manado.
Ines menoleh ke luar jendela.
Langit timur baru saja berubah jingga. Cahaya matahari pagi memantul di antara sayap pesawat, sementara gugusan perbukitan hijau tampak membingkai kota yang masih terlihat lengang dari kejauhan.
Ia benar-benar sampai.
Perasaan itu baru benar-benar terasa ketika pesawat mulai berjalan pelan menuju apron. Semua yang terjadi selama dua hari terakhir terasa begitu cepat. Mulai dari menemukan nama Samudera, membeli tiket secara diam-diam, hingga kini berada ribuan kilometer dari rumah tanpa seorang pun mengetahui ke mana ia pergi.
Begitu lampu tanda sabuk pengaman padam, para penumpang mulai berdiri dan mengambil barang dari kompartemen atas. Ines ikut bangkit, meraih ransel yang sejak tadi ia pangku, lalu mengikuti antrean keluar pesawat.
Udara hangat langsung menyambut begitu ia memasuki area kedatangan.
Ia mengeluarkan ponselnya. Setelah menarik napas pelan, ia mematikan mode pesawat. Hanya dalam hitungan detik, ponselnya bergetar tanpa henti. Satu demi satu notifikasi memenuhi layar. Belasan pesan dan puluhan panggilan tak terjawab, hampir semuanya berasal dari satu nama.
Mama.
Dadanya langsung terasa sesak.
Jarinya sempat berhenti di atas layar, seolah ingin menekan tombol panggil. Namun bayangan wajah Raya yang pasti sedang panik membuat keberaniannya justru menguap.
Kalau sekarang ia menelepon, semuanya akan selesai. Mamanya pasti akan memintanya pulang saat itu juga.
Ines menggigit bibir bawah pelan.
"Maaf, Ma..."
Hanya itu yang sempat terlintas di kepalanya.
Ia mengunci kembali layar ponsel, memasukkannya ke dalam tas tanpa membuka satu pun pesan, lalu melangkah keluar bandara.
Udara pagi Manado terasa berbeda dengan Jakarta. Lebih lembap, tetapi juga lebih segar. Di kejauhan, samar-samar tampak siluet pegunungan yang memagari kota, sementara angin membawa aroma laut yang belum pernah benar-benar ia rasakan sebelumnya.
Setelah keluar dari area kedatangan, ia memanggil taksi menuju Pelabuhan Manado sesuai petunjuk yang sebelumnya sudah ia simpan.
Perjalanan memakan waktu hampir satu jam.
Sepanjang jalan, pemandangan kota perlahan berganti menjadi deretan rumah penduduk, deretan pertokoan, dan laut yang sesekali muncul di balik bangunan mall yang dibangun tepat di pinggir pantai. Semakin dekat ke pelabuhan, semakin ramai lalu lintasnya. Setibanya di dalam pelabuhan, banyak kapal bersandar di tepi dermaga.
Ines turun sambil memeluk ranselnya erat. Di hadapannya, laut membentang luas hingga seolah menyatu dengan langit.
Beberapa kapal cepat sedang bersiap mengangkut penumpang menuju pulau-pulau di sekitarnya. Ines berjalan menuju loket bertuliskan Pulau Siri, lalu setelah menunjukkan bukti pemesanannya, ia diinstruksikan menaiki salah satu speedboat yang sudah siap membawanya ke Pulau Siri.
Tak lama kemudian, suara mesin meraung. Speedboat mulai meninggalkan dermaga. Perlahan daratan Manado menjauh, berganti hamparan laut biru yang nyaris tak bertepi.
Sekitar satu jam kemudian, garis pantai mulai terlihat di kejauhan.
Semula hanya berupa garis hijau tipis di cakrawala, lalu perlahan berubah menjadi pulau kecil dengan deretan pohon kelapa yang melambai tertiup angin. Semakin dekat speedoat ke pulau itu, semakin jelas air laut di sekitarnya. Warnanya berubah dari biru tua menjadi hijau kebiruan yang begitu jernih hingga dasar laut dangkal di dekat dermaga masih terlihat samar.
Speedboat akhirnya merapat di sebuah dermaga kayu sederhana. Begitu turun, Ines langsung melihat sebuah papan kayu besar bertuliskan:
Titik Temu Dive Resort
Tulisan itu dipahat sederhana, dikelilingi tanaman rambat dan bunga-bunga tropis yang tumbuh di sekitarnya.
Ines menarik napas panjang.
"Akhirnya sampai juga..."
Ia menyesuaikan posisi ranselnya sebelum berjalan mengikuti jalan setapak dari papan kayu menuju area resort.
Suasana di sana jauh lebih tenang daripada yang ia bayangkan.
Beberapa cottage beratap kayu berjajar menghadap laut. Di kejauhan tampak dua orang wisatawan sedang duduk santai di kursi malas sambil menikmati kopi pagi. Dari arah restoran terbuka terdengar suara gelas beradu pelan diselingi tawa beberapa tamu yang baru selesai sarapan.