Studio Reyna dipenuhi aroma cat minyak yang belum benar-benar mengering.
Pagi di Bali selalu datang lebih pelan dibanding kota-kota lain. Cahaya matahari menembus jendela besar yang menghadap langsung ke laut jauh di bawah sana, memantulkan semburat keemasan di atas lantai kayu dan kanvas-kanvas yang bersandar di sepanjang dinding. Di antara puluhan lukisan yang sudah selesai, hanya satu yang masih berdiri di atas easel utama.
Home.
Reyna berdiri cukup lama di depannya tanpa menggerakkan kuas. Lukisan itu hampir selesai.
Hampir.
Laut yang memenuhi sebagian besar kanvas telah hidup dengan gradasi biru, ungu dan merah muda yang selama bertahun-tahun menjadi ciri khasnya. Cahaya matahari pagi memantul lembut di permukaan air. Langit di kejauhan telah selesai. Garis cakrawala pun sudah terbentuk dengan rapi. Namun selalu ada bagian yang gagal ia lanjutkan.
Tangannya kembali mengangkat kuas, mengarah ke sudut kanan bawah kanvas, lalu diam.
Beberapa detik berlalu. Akhirnya ia menurunkan kembali kuas itu tanpa menambahkan satu sapuan pun.
Ia mengembuskan napas pelan. "Masih belum..."
Kalimat itu nyaris tak terdengar bahkan oleh dirinya sendiri.
Sudah berbulan-bulan lukisan itu berada di sana. Berkali-kali ia mencoba menyelesaikannya, dan berkali-kali pula ia berhenti di titik yang sama. Selalu ada sesuatu yang terasa kurang, meski ia sendiri tidak pernah tahu apa.
Suara ponsel yang bergetar di atas meja kerja memecah keheningan studio, Reyna menoleh sekilas. Nama yang muncul di layar membuat dahinya sedikit berkerut.
Raya.
Pukul sembilan pagi? Tidak biasanya kakaknya menelepon sepagi ini.
Ia segera mengangkatnya. "Halo, Kak?"
Tidak ada basa-basi. "Rey... Ines ada sama kamu?"
Reyna langsung mengernyit. "Enggak."
Jawaban itu keluar begitu cepat hingga ia sendiri baru menyadari nada bingung dalam suaranya.
"Memangnya kenapa?"
Di seberang sana terdengar embusan napas yang tidak tenang. "Dia nggak ada di kamarnya."
Reyna langsung berdiri tegak. "Maksudnya?"
"Pagi-pagi tadi aku baru sadar kamarnya kosong. Dari cctv aku lihat semalam ternyata dia keluar dari rumah bawa koper dan ransel."
Jantung Reyna berdetak sedikit lebih cepat. "Kalian udah cari?"
"Aku lagi gak bisa hubungi suamiku, dia lagi hilang sinyal. Tapi udah aku cari ke teman-temannya, tetap gak ada juga."
"Kampus?"
"Belum mulai kuliah, Rey."
Reyna terdiam.
Raya melanjutkan dengan suara yang kini terdengar semakin panik. "Aku pikir dia ke Bali ketemu kamu. Beberapa hari terakhir dia terus ngomongin kamu."
Reyna menggeleng, meski Raya tentu tidak bisa melihatnya. "Ines nggak ke sini, Kak. Kalau dia pergi malam, harusnya sekarang sudah sampai di Bali."
"Dia nggak pernah bilang apa-apa ke kamu, Rey?" tanya Raya lagi.
"Nggak."
Sejak video wawancaranya viral, Ines memang beberapa kali menghubunginya. Namun semuanya hanya lewat pesan singkat, dan gadis itu tidak pernah mengatakan akan datang ke Bali.
Keheningan singkat memenuhi sambungan telepon. Keduanya sama-sama mulai menyadari satu kemungkinan yang sejak tadi berusaha mereka hindari.
Ines benar-benar pergi, dan tidak seorang pun tahu ke mana.
"Aku coba hubungi dia dulu," kata Reyna akhirnya.
"Kalau ada kabar langsung kasih tahu aku."
"Iya."
Sambungan telepon terputus. Studio kembali sunyi.
Reyna masih berdiri di tempatnya beberapa saat sambil menatap layar ponsel yang kini hanya memantulkan bayangannya sendiri.
Reyna membuka ruang percakapannya dengan Ines, lalu menekan tombol panggil. Nada sambung terdengar beberapa kali, tapi tidak diangkat. Ia mencoba sekali lagi. Tetap sama.
Reyna menggigit bibir pelan, lalu menurunkan ponselnya.
Beberapa detik kemudian, ia membuka ruang percakapan dengan Ines dan mulai mengetik.
Nes, kamu lagi di mana? Mamamu lagi khawatir. Kalau lihat pesan ini, segera balas ya.
Ia menatap tulisan itu sesaat sebelum akhirnya menekan tombol kirim.
Pesan terkirim.
Sekitar sepuluh menit berlalu tanpa balasan. Ines tetap tidak mengangkat telepon meski Reyna sudah mencoba menghubunginya berkali-kali.
Ia meletakkan ponselnya di atas meja kerja, lalu berusaha kembali berdiri di depan kanvas. Kuas yang tadi sempat ia letakkan kembali ia genggam, tetapi pikirannya sama sekali tidak lagi berada di studio.