The Life We Never Had

Ravenska Johana
Chapter #7

#7 Bab 5. The First Step Home

Malam telah benar-benar turun di Bali.

Studio Reyna masih diterangi lampu berwarna kuning hangat. Reyna hanya duduk di depan meja kerja sambil memandangi layar ponselnya.

Daftar kontak itu hampir tidak berubah selama bertahun-tahun. Beberapa nama masih tersimpan, namun banyak di antaranya sudah tidak aktif. Jempolnya berhenti pada satu nama.

John.

Sudah sebelas tahun nama itu tidak pernah ia sentuh.

Ia masih ingat betul sosok John, mahasiswa tingkat akhir yang dulu memperkenalkannya kepada orang-orang di MAPALA Tarsius. Orang yang selalu paling berisik mengajak Reyna mengeksplorasi alam Sulawesi Utara, meski Reyna bukan bagian dari mereka, sekaligus orang yang paling sering mengejek Samudera karena terlalu pendiam.

Reyna mengembuskan napas panjang. Ia bahkan tidak tahu apakah nomor itu masih digunakan. Setelah beberapa detik ragu, ia akhirnya menekan tombol panggil.

Nada sambung terdengar beberapa kali. Saat Reyna hampir memutus sambungan, terdengar suara laki-laki di seberang.

"...Halo?"

Reyna terdiam sesaat. "John..."

Beberapa detik tidak ada jawaban, lalu terdengar suara yang penuh ketidakpercayaan. "...Reyna?"

Reyna memejamkan mata sejenak. "Iya."

"Holy..." John tertawa pendek, masih terdengar bingung.

"Aku kira nomormu udah nggak aktif dari dulu."

"Aku ganti nomor," jawab Reyna

"Pantes." John kembali tertawa pelan. "Sebelas tahun tiba-tiba ngilang. Terus sekarang telepon kayak nggak terjadi apa-apa."

Kalimat itu diucapkan sambil bercanda, tetapi Reyna tetap menangkap ganjalan yang tersisa di baliknya.

"Maaf." Hanya satu kata yang keluar.

John terdiam. Suasana di antara mereka kembali canggung sebelum akhirnya John yang lebih dulu memecah keheningan. "Sebenernya... aku masih sering lihat kamu, apalagi belakangan ini."

Reyna mengernyit. "Lihat aku?"

"Video wawancaramu yang kagi viral itu." John tertawa kecil. "Anak sulungku yang nunjukkin."

Reyna tidak menyangka.

"Ayahnya kenal nggak sama pelukis marga Maringka ini?" John menirukan suara anaknya sambil terkekeh. "Begitu lihat mukamu, aku langsung bilang... ya jelas kenal."

Reyna hanya tersenyum tipis.

"Ternyata kamu masih tetap melukis."

"Masih."

"Selamat ya." Nada suara John terdengar tulus. "Keren juga sekarang udah terkenal."

Reyna mengucapkan terima kasih pelan. Setelah itu, keheningan kembali muncul. Ia sadar, ia tidak menelepon untuk bernostalgia.

"Aku sebenarnya mau minta bantuan."

Nada suara Reyna berubah lebih serius, John pun ikut serius.

"Ada apa?"

Reyna menarik napas panjang. "Keponakanku... hilang."

Keheningan kembali menyelimuti sambungan.

"Hilang?"

"Iya."

Reyna menceritakan semuanya secara singkat. Tentang Ines yang diam-diam meninggalkan rumah, tiket pesawat menuju Manado, dan bagaimana hingga malam itu ponselnya sudah tidak bisa lagi dihubungi.

John tidak memotong sedikit pun. Ia baru berbicara ketika Reyna selesai. "...Kalau boleh jujur."

"Iya?"

"Kalau aku jadi keponakanmu..." John mengembuskan napas pelan. "...mungkin aku juga bakal penasaran."

Reyna tidak menjawab.

"Jawabanmu di dalam video itu bikin banyak orang penasaran." John tertawa kecil, tetapi kali ini terdengar hambar.

"Jangankan dia." Beberapa detik ia terdiam sebelum melanjutkan. "Sampai sekarang aku sendiri juga nggak pernah tahu kenapa kamu tiba-tiba menghilang dari kami semua."

Kalimat itu membuat Reyna memejamkan mata. Sebelas tahun berlalu, tetapi ternyata waktu tidak menghapus pertanyaan yang ia tinggalkan. Bukan hanya untuk Samudera, atau dirinya sendiri, melainkan juga untuk orang-orang yang pernah menjadi bagian dari hidupnya.

Reyna menarik napas pelan. Ada satu hal lagi yang sejak tadi belum sempat ia ceritakan.

"John..."

"Iya?"

"Aku mau kirim sesuatu."

Beberapa detik kemudian, sebuah foto masuk ke ruang percakapan mereka.

John tidak langsung berbicara. Reyna hanya mendengar suara notifikasi di seberang sana, lalu keheningan yang terasa semakin panjang.

"Halo?" panggil Reyna pelan.

"Sebentar..." Suara John terdengar jauh lebih serius dibanding beberapa menit sebelumnya. "Aku lagi lihat fotonya."

Reyna menunggu. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya John berkata,

Lihat selengkapnya