Bandara Internasional Sam Ratulangi masih cukup ramai ketika Reyna melangkah keluar dari pintu kedatangan.
Jam di layar ponselnya menunjukkan tepat pukul 04.00 WITA.
Langit di ufuk timur baru mulai berubah warna. Garis tipis jingga perlahan muncul di balik deretan perbukitan yang mengelilingi Kota Manado. Udara pagi yang lembap langsung menyambut wajahnya, membawa aroma laut yang begitu akrab sekaligus begitu lama tak ia hirup.
Sebelas tahun sejak terakhir kali ia menginjakkan kaki di kota ini.
Belum sempat ia melangkah jauh, beberapa pria yang berdiri di luar area kedatangan langsung menghampirinya.
"Taksi, Bu?"
"Mau ke mana, Bu?"
"Mari, Bu."
Reyna menghentikan langkahnya.
"Pelabuhan Manado."
Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun langsung mengangguk sambil tersenyum lebar. "Ayo, Bu."
Reyna tidak bertanya soal tarif. Tidak pula mencoba menawar. Ia hanya menarik koper mengikuti pria itu menuju sebuah mobil berwarna hitam yang terparkir tidak jauh dari pintu keluar bandara.
Begitu koper dimasukkan ke bagasi, mobil segera meninggalkan kawasan bandara.
Manado masih belum benar-benar terbangun.
Sebagian besar toko masih tertutup rapat. Jalanan yang biasanya padat kini hanya dilalui beberapa kendaraan menuju pusat kota. Sesekali tampak pedagang mulai membuka lapak, sementara aroma sarapan khas Manado dan kopi hitam menguar dari warung-warung kecil di pinggir jalan.
Pandangannya mengarah keluar jendela. Deretan bangunan terus berganti. Ada yang masih ia kenali, tapi banyak yang sama sekali baru. Waktu ternyata mampu mengubah sebuah kota tanpa menghapus seluruh wajah lamanya.
"Udah lama nggak ke Manado ya, Bu?" Suara sopir memecah keheningan.
Reyna sempat berpikir beberapa detik sebelum menjawab. "Lumayan, Pak."
Sopir tertawa kecil. "Pantas kelihatan lihat-lihat terus dari tadi, kayak sudah familiar."
Reyna hanya membalas dengan senyum tipis. Ia memang sedang melihat, namun bukan karena kagum, tapi sedang memastikan bahwa kota ini masih nyata. Bahwa semua yang pernah terjadi di sini benar-benar pernah menjadi bagian dari hidupnya.
Mobil terus melaju menuju pusat kota. Sesekali laut tampak muncul di sela-sela bangunan. Setiap kali warna birunya terlihat, dada Reyna terasa sedikit lebih sesak. Dulu, laut selalu membuatnya merasa pulang. Kini, laut justru mengingatkannya pada seseorang yang selama sebelas tahun berusaha ia tinggalkan.
Ia segera mengalihkan pandangan. Tidak. Ia datang bukan untuk bernostalgia, bukan untuk mengunjungi tempat-tempat lama, apalagi untuk mencari Samudera.
Ia datang untuk satu alasan. Menjemput Ines, lalu kembali ke Bali secepat mungkin.
Mobil mulai memperlambat laju ketika kawasan pelabuhan terlihat di depan. Deretan kapal penumpang dan kapal logistik mulai sibuk bersiap menyambut pagi.
"Pelabuhan Manado, Bu."
Reyna mengangguk pelan. "Terima kasih."
Ia membayar ongkos tanpa banyak bicara, mengambil kembali kopernya, lalu berdiri beberapa saat memandangi pelabuhan yang mulai dipenuhi aktivitas.
Suasana Pelabuhan Manado sudah sibuk meski matahari belum sepenuhnya terbit.
Kapal-kapal penumpang dari pulau-pulau di utara Sulawesi baru saja selesai bersandar. Orang-orang berbondong-bondong turun membawa koper, kardus yang diikat tali rafia, hingga karung-karung besar berisi hasil kebun. Para buruh angkut saling menawarkan jasa, sementara aroma solar bercampur bau laut dan ikan segar memenuhi udara pagi.
Reyna berdiri beberapa saat di tengah keramaian itu. Sebelas tahun lalu, pemandangan seperti ini terasa begitu akrab baginya. Kini semuanya tetap sama, tetapi dirinya telah berubah.
Ia menarik koper menuju deretan loket penjualan tiket.
Baru beberapa langkah berjalan, ia menyadari satu hal yang sejak tadi sama sekali tidak terpikirkan. Ia memang tahu kemungkinan besar Ines berada di Pulau Siri. Namun, ia tidak tahu bagaimana cara menuju pulau itu.
Begitu tiba di depan loket, Reyna menyapa petugas yang baru saja selesai melayani seorang penumpang.
"Permisi."
Petugas perempuan itu mengangkat wajah. "Iya, Bu?"
"Saya mau ke Pulau Siri."
Petugas itu langsung bertanya, "Sudah ada reservasi resort?"
Reyna mengernyit. "Reservasi?"
"Iya, kalau tamu resort biasanya sudah dijadwalkan penjemputannya."
Reyna mulai merasa ada yang tidak beres. "Saya belum reservasi."
Petugas itu tampak sedikit ragu. "Kalau begitu... Ibu mau menginap di resort mana?"
Reyna terdiam.
John semalam hanya mengatakan Samudera bekerja di sebuah resort di Pulau Siri.
"Saya... kurang tahu."
Petugas mengetik sesuatu di komputernya, lalu kembali menatap Reyna.
"Kalau di Pulau Siri sih cuma ada satu resort yang masih available, tapi untuk berangkat sekarang tidak bisa, Bu."
Jantung Reyna berdetak sedikit lebih cepat. "Ada penjemputan lagi dari resort kapan ya, Kak?"
Petugas menjawab tanpa menyadari perubahan raut wajah panik perempuan di depannya. “Setiap 2 hari sekali, Bu. Jadi besok baru ada lagi. Ibu mau reservasi untuk besok?"
Reyna berpikir sejenak. Menunggu sampai besok jelas bukan pilihan yang tepat.
Akhirnya Reyna menjawab dengan gelengan, “Kalau begitu nggak jadi dulu ya, Kak.”
Petugas menjawab dengan anggukan dan senyuman sopan. Reyna hendak memutar badannya untuk menjauh dari sana tapi ia berbalik tiba-tiba, seolah ada hal penting yang harus ia tanyakan.
“Kak, kalau boleh tahu nama resortnya apa ya? Siapa tahu saya berubah pikiran dan mau memesan secara online saja nanti.’
“Oh, nama resortnya ini kak, Titik Temu Dive Resort.” Petugas menyodorkan selembar pamflet promosi, di atasnya terpampang jelas tulisan Titik Temu Dive Resort.
Tangan Reyna membeku saat menerima pamflet itu. Segalanya seolah ikut berhenti bergerak.
Titik Temu.
Dua kata sederhana itu membuat napas Reyna tercekat. Sudah bertahun-tahun Reyna meyakinkan dirinya bahwa ia telah melupakan dua kata itu. Ternyata tidak. Ia hanya tidak pernah mendengarnya lagi.
***
Dulu, bertahun-tahun yang lalu, mereka pernah duduk di atas batu karang setelah menemani Samudera menyelam hingga matahari hampir tenggelam. Reyna masih ingat bagaimana Samudera memandangi laut yang perlahan berubah jingga.
"Menurutmu kenapa orang-orang selalu bisa bertemu?" tanya Reyna waktu itu.
Samudera tersenyum kecil. "Karena setiap orang punya titik temunya masing-masing."
"Maksudnya?"
"Kamu lihat laut?"
Reyna mengikuti arah pandangnya.