The Life Where We Finally End

Zayyem Myue
Chapter #1

BAB 1- Xavier Sim

BAB 1- Xavier Sim

 

           Pagi di rumah keluarga Sim selalu dimulai dari suara yang sama.

           Bukan alarm ponsel Xavier yang sebenarnya sudah berbunyi sejak pukul lima lewat tiga puluh, bukan pula suara motor tetangga yang setiap pagi batuk-batuk sebelum akhirnya menyala. Bagi Xavier, pagi selalu benar-benar dimulai saat terdengar suara ibunya dari halaman belakang.

           “Xav, kalau sudah bangun, tolong ambilkan gunting tanaman di dapur, ya!”

           Xavier Sim membuka mata pelan-pelan.

           Selimutnya masih menutupi separuh wajah. Rambutnya berantakan, pipinya sedikit merah karena terlalu lama menempel di bantal, dan selama beberapa detik ia hanya menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong khas orang yang belum sepenuhnya kembali dari tidur.

           Alarm ponselnya masih berbunyi.

           Ia mengulurkan tangan, meraba-raba meja kecil di samping ranjang, lalu mematikan alarm tanpa melihat layar. Setelah itu ia menarik napas panjang dan duduk.

           “Xavier!” suara ibunya terdengar lagi, lebih jauh sekarang, mungkin dari dekat pot cabai.

           “Iya, Bu!” jawab Xavier dengan suara serak. “Sebentar!”

           Ia mengucek mata, lalu turun dari tempat tidur. Kakinya menyentuh lantai dingin. Untuk sesaat ia bergidik, kemudian berjalan malas ke arah pintu kamar.

           Kamar Xavier tidak besar, tetapi rapi dengan cara yang sedikit kekanak-kanakan. Ada rak buku kecil berisi buku pelajaran, novel, beberapa komik, dan buku catatan dengan sampul warna-warni. Di atas meja belajarnya ada laptop tua yang sudah ditempeli stiker game, tanaman sukulen kecil pemberian ibunya, dan tumpukan kertas latihan soal yang sebagian sudah diberi stabilo.

           Di dinding dekat meja, tertempel kalender akademik sekolah. Beberapa tanggal diberi lingkaran merah.

           Ujian akhir.

           Pendaftaran beasiswa.

           Deadline dokumen.

           Xavier menatap kalender itu sebentar, lalu buru-buru mengalihkan pandangan. Pagi-pagi begini, ia belum sanggup memikirkan masa depan yang terlalu besar.

           Ia keluar kamar dan melewati lorong kecil menuju dapur. Rumah keluarga Sim tidak mewah, tetapi bersih dan hidup. Ada foto keluarga di dinding ruang tengah foto lama yang diambil ketika Xavier masih SD, ibunya duduk di tengah, Kakanya Clara berdiri di samping kanan, Abangnya Nathan di kiri dengan wajah datar, dan Xavier kecil di depan sambil tersenyum terlalu lebar sampai matanya hampir hilang.

           Di sebelah foto itu ada bingkai yang lebih kecil.

           Foto ayahnya.

           Adrian Sim.

           Xavier selalu melewati foto itu setiap pagi, dan setiap pagi juga ia meliriknya, meskipun hanya sekilas. Bagi Xavier, wajah ayahnya adalah wajah yang akrab sekaligus asing. Ia tahu bentuk matanya dari foto, tahu senyumnya dari cerita ibunya, tahu suaranya hanya dari rekaman lama yang tidak sengaja ditemukan Clara di ponsel jadul. Tapi ia tidak pernah benar-benar mengenalnya.

           Ayahnya meninggal ketika Xavier masih tujuh bulan dalam kandungan.

           Karena itu, Xavier tumbuh dengan ayah yang selalu hadir sebagai cerita, bukan sebagai seseorang yang bisa ia peluk.

           “Gunting tanaman yang mana, Bu?” tanya Xavier sambil membuka laci dapur.

           “Yang gagangnya hijau!” jawab Ratna dari halaman belakang.

           Xavier menemukan gunting itu di antara sendok takar dan karet gelang. Ia mengambilnya lalu melangkah ke halaman belakang.

           Halaman belakang rumah mereka kecil, tetapi bagi Ratna Wulandari Sim, halaman itu seperti kerajaan sendiri.

           Ada pot cabai, daun bawang, pandan, lidah buaya, bunga kertas, beberapa tanaman hias yang namanya Xavier tidak pernah ingat, dan satu pohon jeruk kecil yang sudah bertahun-tahun dirawat dengan sabar meski jarang sekali berbuah.

           Ratna sedang jongkok di dekat pot mawar, mengenakan daster rumah warna biru muda dan sandal jepit. Tubuhnya kecil, tingginya hanya sekitar seratus lima puluh lima sentimeter, dengan badan yang agak gemuk dan wajah teduh seorang ibu yang terlalu sering lelah tetapi jarang menunjukkannya. Rambutnya dicepol asal, beberapa helai sudah mulai memutih, tetapi matanya tetap tajam.

           Ia menoleh ketika Xavier datang.

           “Baru bangun?”

           Xavier memberikan gunting dengan senyum bersalah. “Sudah bangun dari tadi.”

           Ratna mengangkat alis. “Bangun dari tadi tapi matanya masih kayak anak kucing baru lahir?”

           “Bu, jangan hina anak sendiri pagi-pagi.”

           “Bukan menghina. Kenyataannya gitu kok.”

           Xavier mengerucutkan bibir. Ratna tertawa pelan, lalu kembali memangkas daun kering.

           “Mandi sana. Nanti telat sekolah.”

           “Iya, iya.” Xavier berjongkok di samping ibunya. “Ibu ngapain sih dari pagi? Ini tanaman nggak akan kabur kalau ditinggal sebentar.”

           “Tanaman memang nggak kabur. Tapi kalau nggak dirawat, mati.” Ratna menggunting ranting kecil dengan hati-hati. “Manusia juga begitu. Kalau hanya dibiarkan hidup tanpa dirawat, lama-lama layu.”

           Xavier diam sebentar.

           Ibunya sering bicara seperti itu. Sederhana, tetapi entah kenapa terdengar seperti tulisan di buku yang belum selesai.

           “Ibu cocok jadi penulis, tahu,” kata Xavier.

           Ratna meliriknya. “Memang Ibu penulis.”

           “Menulis apa?”

           “RPP. Catatan rapat. Laporan kegiatan sekolah. Surat undangan orang tua murid.”

           Xavier tertawa. “Itu mah kerjaan guru, Bu.”

           “Ya penulis juga. Bedanya pembacanya kepala sekolah.”

           “Kasihan kepala sekolahnya.”

           Ratna pura-pura hendak mencubit lengan Xavier, tetapi anak bungsunya itu sudah berdiri dan menjauh sambil tertawa.

           “Mandi!” seru Ratna.

           “Iya, Bu!”

           Ketika Xavier selesai mandi, aroma bawang putih sudah memenuhi dapur.

           Clarissa Sim berdiri di depan kompor, rambut panjangnya diikat asal, mengenakan kaus rumah dan celemek motif bunga yang sudah pudar. Tingginya sekitar seratus enam puluh empat sentimeter, tubuhnya berisi, wajahnya cantik dengan garis lelah yang membuatnya tampak lebih dewasa dari usianya. Di satu tangan ia memegang spatula, di tangan lain ia memegang ponsel yang menampilkan resep.

           “Kakak masak apa?” Xavier mendekat sambil mengintip wajan.

           “Nasi goreng penyelamat anak SMA yang suka bangun mepet.”

           “Aku nggak bangun mepet.”

           Clara menatapnya dari atas ke bawah. “Rambut kamu kayak sarang burung habis kena angin topan.”

           “Kenapa semua orang di rumah ini jahat banget sama aku pagi-pagi?”

           “Karena kami mencintaimu.”

           “Cinta yang menyakitkan.”

           “Dramatis.” Clara tertawa kecil. “Ambil telur di kulkas. Dua. Sama potong daun bawang.”

           Xavier langsung bergerak. Ia mengambil dua butir telur, mencuci tangan, lalu berdiri di samping Clara untuk memotong daun bawang di talenan kecil.

           Adegan seperti ini sudah terlalu biasa di rumah mereka. Clara memasak, Xavier membantu, Ratna mengurus tanaman atau bersiap ke sekolah, sementara Nathan entah masih tidur atau sudah duduk di depan komputer dengan headset besar menutupi telinga.

           Dapur adalah tempat yang paling disukai Xavier di rumah.

           Bukan karena dapurnya luas. Dapur mereka justru sempit. Jika Clara membuka kulkas, Xavier harus sedikit menyingkir agar pintunya tidak membentur pinggangnya. Kompor berada terlalu dekat dengan meja kecil tempat mereka menaruh bumbu. Wastafel kadang bocor jika kerannya tidak ditutup dengan posisi tertentu.

           Tetapi dapur itu hangat.

           Di sana, Clara dan Xavier sering mencoba resep kue dari internet. Kadang berhasil, kadang bantat, kadang gosong di bagian bawah tetapi tetap mereka makan sambil menertawakan hasilnya. Ratna biasanya memberi komentar paling jujur. Nathan paling jarang berkomentar, tetapi kalau kue itu habis diam-diam, mereka tahu siapa pelakunya.

           “Kamu sudah print berkas beasiswa?” tanya Clara sambil memecahkan telur ke wajan.

           “Belum semuanya. Nanti pulang sekolah aku print di dekat sekolah. Yang surat rekomendasi masih nunggu Bu Dina tanda tangan.”

           “Deadline kapan?”

           “Masih lama.”

           “Masih lama itu kapan?”

           Xavier mengiris daun bawang lebih pelan. “Dua minggu lagi.”

           Clara menoleh cepat. “Xavier.”

           “Apa?”

           “Dua minggu itu enggak lama.”

           “Untuk orang yang panik, mungkin nggak lama. Untuk orang yang optimis, itu sangat luas.”

           “Untuk anak bungsu yang suka menunda, itu bencana yang sedang melambai dari kejauhan.”

           Xavier mendesah dramatis. “Aku nggak nunda-nunda. Aku cuma… mengumpulkan keberanian.”

           Clara melembut.

           Ia mematikan api sebentar, lalu menatap adiknya. “Kamu masih takut daftar?”

           Xavier tidak langsung menjawab.

           Ia menaburkan daun bawang ke piring yang sudah disiapkan. Wajahnya yang biasanya mudah menampilkan ekspresi kini sedikit meredup.

           “Bukan takut daftar,” katanya pelan. “Takut keterima tapi nggak bisa berangkat. Takut nggak keterima dan semua orang kecewa. Takut biayanya tetap kurang walaupun dapat beasiswa. Takut kalau aku terlalu banyak mau.”

           Clara meletakkan spatula, lalu menyentuh bahu Xavier.

           “Kamu nggak terlalu banyak mau kok.”

           Xavier tertawa kecil, tetapi tidak terlalu terdengar bahagia. “Kak, kuliah ke Inggris itu bukan minta dibeliin martabak.”

           “Memang bukan. Tapi bukan berarti kamu nggak boleh ingin.”

           “Ibu sudah banyak banget berjuang.”

           “Ibu berjuang supaya kita punya pilihan, Xav. Bukan supaya kamu merasa bersalah setiap kali punya mimpi.”

           Xavier menunduk.

           Sejak kecil, ia memang terbiasa menahan diri. Bukan karena ibunya pelit. Ratna tidak pernah membuat anak-anaknya merasa tidak boleh meminta. Tapi Xavier tumbuh melihat bagaimana ibunya menghitung uang belanja, bagaimana Clara menolak ikut study tour karena “nggak terlalu pengen”, bagaimana Nathan berhenti taekwondo saat biaya kuliah mulai menekan, bagaimana rumah mereka dulu pernah terasa terlalu sunyi saat listrik mati dan Ratna duduk lama di meja makan sambil memegang amplop gaji.

           Hal-hal seperti itu tidak perlu dijelaskan kepada anak kecil. Anak kecil yang cukup peka akan mengerti sendiri.

           Xavier mengerti terlalu cepat.

           Karena itu ia menjadi anak yang mudah berkata, “Nggak apa-apa.”

           Nggak apa-apa kalau tidak beli sepatu baru.

           Nggak apa-apa kalau tidak ikut les tambahan.

           Nggak apa-apa kalau kue ulang tahunnya kecil.

           Nggak apa-apa kalau ingin sesuatu tapi nanti saja.

           Namun semakin besar, “nanti saja” itu berubah menjadi kebiasaan. Sampai ia kadang tidak yakin apakah ia benar-benar tidak menginginkan sesuatu, atau hanya sudah terlalu pandai memadamkannya sebelum tumbuh.

           Clara meremas bahunya.

           “Kamu anak pintar. Kamu rajin. Kamu punya peluang. Kita semua dukung kamu.”

           Xavier menatap kakaknya. “Kalau aku pergi, Kak Clara bakal kesepian nggak?”

           Clara menghela napas, lalu memukul pelan lengan Xavier dengan lap dapur. “Jangan mancing aku nangis pagi-pagi. Maskaraku belum kupakai.”

           “Kak Clara nggak pernah pakai maskara kalau ngajar bimbel.”

           “Justru itu. Air mataku natural.”

           Xavier tertawa.

Lihat selengkapnya