Bab 1 Pagi yang Tidak Boleh Gagal
Pagi di Kota Ardhapratama selalu datang tanpa banyak suara.
Tidak ada gemuruh kendaraan, tidak ada hiruk-pikuk yang terburu-buru. Hanya udara dingin yang menempel di kulit dan cahaya matahari yang perlahan merayap masuk melalui celah-celah rumah yang sudah menua.
Xavier sudah terjaga sebelum fajar benar-benar muncul.
Matanya terbuka, menatap langit-langit kamar yang kusam. Retakan kecil di sudut tembok itu masih ada persis seperti kemarin, dan hari-hari sebelumnya. Tidak ada yang berubah.
Tangannya mengepal pelan di atas kasur tipis.
Hari ini bukan hari biasa.
Hari ini adalah hari pertama Ujian Nasional.
Ia tidak merasa gugup.
Tidak juga merasa takut.
Yang ia rasakan… lebih berat dari itu.
Ia tidak boleh gagal.
Perlahan, Xavier bangkit duduk. Nafasnya diatur pendek, lalu dilepaskan. Ia sudah belajar mengendalikan dirinya sejak lamaterlalu lama untuk anak seusianya.
Jam kecil di samping tempat tidur menunjukkan pukul 04.18.
Lebih pagi dari biasanya.
Beberapa hari terakhir, ia memang sering terbangun seperti ini. Tanpa alasan yang jelas. Tanpa mimpi yang bisa diingat.
Hanya… terbangun.
Seolah ada sesuatu yang menariknya kembali ke kesadaran.
Xavier mengabaikannya.
Ia berdiri, melipat selimut dengan rapi, lalu meraih seragam putih abu-abu yang tergantung di balik pintu. Kainnya sudah tidak baru, tapi bersih. Disetrika dengan hati-hati oleh ibunya semalam.
Ia merapikan bagian lengan dengan telapak tangan, menghaluskan lipatan kecil yang hampir tidak terlihat.
Hari ini… semuanya harus sempurna.
Ia membuka pintu kamar.
Rumah itu langsung terasa hidup.
Dari dapur, suara minyak panas berdesis pelan. Aroma nasi dan telur menyebar ke seluruh ruangan sempit itu.
Ibunya sudah bangun.
Seperti biasa.
“Xavier, sudah bangun?” suara itu datang tanpa perlu melihat.
“Sudah, Bu.”
Xavier berjalan mendekat. Ibunya berdiri di depan kompor dengan punggung sedikit membungkuk, tangannya bergerak cepat, seolah waktu selalu kurang.
Di meja, ada piring sederhana yang sudah disiapkan.
Ia tidak langsung duduk.
Matanya sempat melirik ke arah sudut ruangan tempat ayahnya biasa duduk diam di pagi hari. Kursi itu kosong.
Belum bangun.
Dari kamar sebelah, suara benda jatuh terdengar.