Bab 2 Hal yang Tidak Pernah Ia Pilih
Bel pertama berbunyi dengan nada yang lebih keras dari biasanya. Atau mungkin… hanya terasa begitu.
Ruang kelas yang tadinya dipenuhi bisikan pelan langsung berubah menjadi sunyi yang tidak nyaman. Kertas ujian dibagikan satu per satu, suara langkah pengawas terdengar jelas di antara deretan meja.
Xavier duduk tegak di kursinya.
Tangannya sudah siap di atas meja. Pulpen dipegang dengan posisi yang sama seperti biasanya stabil, tidak gemetar.
Di sekelilingnya, beberapa siswa masih tampak gelisah.
Ada yang menunduk, menggumamkan sesuatu seperti doa. Ada yang menarik napas panjang berulang kali. Bahkan ada yang menatap kosong ke depan, seolah berharap soal ujian berubah dengan sendirinya.
Xavier tidak melakukan semua itu.
Ia hanya menunggu.
Lembar soal akhirnya sampai di mejanya.
Ia menariknya pelan.
Matanya menyapu halaman pertama.
Hening.
Beberapa detik berlalu.
Lalu ia mulai menulis.
Waktu berjalan tanpa terasa.
Bagi Xavier, ujian bukan sesuatu yang menakutkan.
Bukan karena ia merasa paling pintar.
Tapi karena ia sudah terlalu terbiasa mempersiapkan diri. Ia tidak punya pilihan lain.
Setiap jawaban yang ia tulis terasa seperti sesuatu yang sudah pernah ia pikirkan sebelumnya. Tangannya bergerak tanpa ragu, ritmenya stabil, hampir seperti kebiasaan.
Di luar kelas, suara burung sesekali terdengar samar.
Di dalam, hanya suara kertas dan pena.
Dan waktu yang terus berjalan.