BAB 2 - Keinginan yang Tidak Bisa Dijelaskan
Xavier tidak langsung memberi tahu keluarganya bahwa ia menghabiskan hampir satu jam menatap brosur Harrowgate Imperial University malam itu.
Bukan karena ia ingin merahasiakannya.
Hanya saja, ia sendiri tidak tahu harus menjelaskan apa.
Kalau Clara bertanya, “Kenapa kamu tertarik banget sama kampus itu?”, Xavier tidak punya jawaban yang terdengar masuk akal. Kalau ibunya bertanya, “Apa yang bikin kampus itu beda?”, ia mungkin hanya bisa menunjuk foto gedung batu tua, halaman berkabut, dan jalanan basah di brosur, lalu berkata, “Nggak tahu, Bu. Rasanya kayak… aku harus ke sana.”
Dan itu jelas bukan jawaban yang cukup kuat untuk membahas kuliah ke luar negeri.
Apalagi ke Inggris.
Apalagi dengan kondisi keluarga mereka.
Karena itu, malam itu Xavier hanya membaca brosur sampai matanya perih, lalu menutup laptop tepat saat Clara mengetuk pintu kamarnya.
“Xav? Masih hidup?”
Xavier menoleh. “Masih. Tapi tinggal lima persen.”
Clara membuka pintu tanpa menunggu jawaban, membawa piring kecil berisi potongan bolu pandan.
“Chargernya mana?”
“Di meja.”
“Bukan laptop kamu. Kamu.”
Xavier menatap bolu itu. “Oh. Itu charger manusia?”
“Bolu pandan eksperimen Ibu. Makan. Kalau besok kamu sakit perut, berarti resepnya gagal.”
“Jadi aku kelinci percobaan?”
“Anak bungsu memang fungsinya begitu.”
Xavier mengambil satu potong bolu dan menggigitnya. Teksturnya agak terlalu padat, tapi rasanya lumayan. Wangi pandan langsung memenuhi mulutnya.
“Enak kok.”
“Beneran?”
“Iya. Cuma kalau dilempar ke maling mungkin malingnya pingsan.”
Clara menyipitkan mata. “Jahat banget.”
“Tapi enak.”
“Pujianmu nggak bisa berdiri sendiri, ya?”
Xavier tertawa pelan.
Clara masuk dan duduk di pinggir kasur. Matanya melirik ke laptop Xavier yang sudah tertutup, lalu ke tumpukan dokumen di meja.
“Lagi lihat kampus?”
Xavier mengangguk. “Iya.”
“Kampus yang di Inggris itu?”
“Iya.”
“Harrow… apa itu?”
“Harrowgate.”
Clara mengulangi pelan, “Harrowgate.”
Ada jeda sebentar setelah itu. Bukan jeda canggung, tapi jeda yang muncul ketika seseorang tahu bahwa pembicaraan ringan sebentar lagi akan berubah menjadi sesuatu yang lebih serius.
Clara meletakkan piring bolu di meja.
“Kamu serius mau daftar ke sana?”
Xavier menatap potongan bolu di tangannya. “Belum tahu.”
“Belum tahu karena masih mikir, atau belum tahu karena takut ngomong iya?”
Xavier mengerutkan bibir. “Kakak kalau nanya suka nusuk.”
“Karena kamu kalau ditanya muter-muter.”
“Aku nggak muter-muter.”
“Xav.”
“Oke, agak muter.”
Clara tersenyum kecil, tapi ekspresinya tetap lembut.
Xavier menarik napas pelan. Ia memutar bolu di tangannya, lalu berkata, “Aku pengen kuliah di Inggris. Dari dulu. Tapi… aku nggak tahu kenapa. Bukan cuma karena kampusnya bagus. Bukan cuma karena luar negeri. Kayak ada yang narik aja.”
“Yang narik?”
“Iya. Aneh, ya?”
“Nggak juga.”
Xavier menatap kakaknya.
Clara mengangkat bahu. “Kadang orang punya tempat yang dia pengen datangi tanpa alasan jelas. Ada yang pengen ke Jepang karena suka anime. Ada yang pengen ke Paris karena film romantis. Ada yang pengen ke Jogja karena vibes-nya. Kamu pengen ke Inggris. Ya udah.”
“Tapi rasanya bukan cuma pengen.”
“Terus?”
Xavier diam.
Bagaimana menjelaskan bahwa setiap kali ia melihat foto jalanan tua Inggris, ada rasa sesak seperti sedang mengingat sesuatu? Bagaimana menjelaskan bahwa hujan di brosur kampus itu membuatnya merasa rindu? Bagaimana menjelaskan bahwa nama Harrowgate terdengar asing di kepala, tapi familiar di dada?
Ia akhirnya hanya berkata, “Kayak ada yang nunggu.”
Clara tidak langsung menertawakannya.
Itu salah satu hal yang paling Xavier sukai dari Clara. Kakaknya bisa saja menggoda, mengejek, atau mengomel. Tapi kalau Xavier mengatakan sesuatu dengan sungguh-sungguh, Clara akan mendengarkan.
“Kamu mimpi aneh lagi?” tanya Clara.
Xavier menegang sedikit. “Mimpi?”
“Kamu beberapa kali kebangun tengah malam. Aku pernah dengar kamu ngigau. Terus paginya kamu kayak kurang tidur.”
Xavier tertawa canggung. “Kakak dengar sampai kamar?”
“Kamar kita nggak sejauh beda pulau, Xav.”
“Cuma mimpi biasa.”
“Mimpi apa?”
“Nggak jelas.” Xavier memakan sisa bolunya agar punya alasan untuk tidak langsung menjawab. “Kadang hujan. Kadang tempat tua. Kadang ada orang.”
“Orang siapa?”
“Nggak kelihatan.”
Clara menatapnya beberapa detik lebih lama, seolah ingin bertanya lagi, tetapi kemudian ia mengangguk.
“Kalau mimpi buruk terus, bilang Ibu.”
“Nanti Ibu khawatir.”
“Ibu memang hobi khawatir. Tapi kadang perlu.”
Xavier tersenyum kecil.
Clara berdiri dan mengambil piring kosong. “Besok kita cari info kampus bareng. Bukan cuma Harrowgate. Yang lain juga. Biar kamu punya pilihan.”
“Besok Kakak nggak ngajar?”
“Sore. Pagi bisa.”
“Kakak nggak repot?”
“Repot. Makanya nanti kamu bikin teh.”
“Teh pandan?”
“Jangan. Aku masih trauma.”
Xavier tertawa. Clara keluar kamar sambil membawa piring, lalu menutup pintu pelan.
Setelah kakaknya pergi, Xavier kembali membuka laptop.
Layar menyala.
Brosur Harrowgate masih ada di sana.
Ia menatap foto gedung batu itu sekali lagi.
Lalu cepat-cepat menutupnya, seolah takut foto itu akan menatap balik.
Keesokan harinya adalah hari Minggu.
Rumah keluarga Sim punya ritme yang berbeda setiap Minggu pagi. Tidak secepat hari sekolah, tidak seberisik hari kerja. Ratna biasanya lebih lama di halaman, Clara mencuci pakaian sambil memutar lagu, Nathan bangun lebih siang kecuali ada jadwal streaming pagi, dan Xavier menjadi orang yang entah membantu semua orang atau malah mengganggu semua orang dengan alasan membantu.
Pagi itu, Xavier duduk di lantai ruang tengah dengan laptop terbuka di meja kecil. Clara duduk di sampingnya, rambut diikat, kacamata baca bertengger di hidung meskipun usianya belum cukup tua untuk membutuhkannya setiap saat. Menurut Clara, kacamata membuatnya “lebih fokus”. Menurut Nathan, kacamata itu membuat Clara terlihat seperti guru killer yang suka memberi PR liburan.
Ratna duduk di kursi dekat jendela sambil memilah biji bunga matahari yang ingin ia tanam di pot baru. Meski terlihat sibuk, telinganya jelas memperhatikan pembicaraan Xavier dan Clara.
“Jadi,” kata Clara, membuka catatan di buku tulis. “Kita cari dulu kampus yang punya jurusan sesuai minat kamu.”
“Game programming,” kata Xavier.
“Iya. Tapi nama jurusannya bisa macam-macam. Game Development, Computer Games Programming, Interactive Media, Creative Computing, Software Engineering with Game Development…”
Xavier menatap kakaknya kagum. “Kakak udah riset?”
“Semalam sedikit.”
“Katanya mau tidur.”
“Aku tidur setelah sedikit panik.”
“Kok panik?”
“Adikku mau kabur ke Inggris.”
“Aku bukan kabur. Aku kuliah.”
“Sama aja. Sama-sama jauh.”
Ratna menyahut dari kursi, “Kalau bisa kuliah di luar negeri dengan beasiswa, itu bukan kabur. Itu kesempatan.”
Xavier menoleh ke ibunya. “Ibu beneran nggak keberatan?”
Ratna berhenti memilah biji. Ia menatap Xavier dengan wajah tenang.
“Keberatan pasti ada.”
Xavier langsung diam.
Ratna melanjutkan, “Berat karena kamu jauh. Berat karena biayanya pasti besar. Berat karena Ibu nggak bisa langsung datang kalau kamu sakit atau kenapa-kenapa. Tapi keberatan bukan berarti nggak mendukung.”
Clara mengangguk. “Tuh.”
Xavier menunduk. “Aku takut aja, Bu.”
“Takut apa?”
“Kalau ternyata walau beasiswa tetap butuh biaya banyak. Tiket, visa, tempat tinggal, makan. Terus kalau kampusnya mahal banget. Kalau beasiswanya nggak nutup semua. Kalau ….”
“Makanya dicari satu-satu,” potong Ratna lembut. “Jangan semua ketakutan ditumpuk di kepala. Nanti kepala kamu penuh, terus nggak muat pelajaran.”
Xavier tersenyum kecil. “Kepalaku masih luas, Bu.”
Clara menatapnya. “Kadang isinya cuma lagu TikTok.”
“Kakkk!”
Ratna tertawa pelan.
Lalu ibunya berkata dengan nada yang lebih serius, “Ibu dukung kamu, Xav. Tapi kita harus realistis. Kalau beasiswanya cuma potongan kecil, kita nggak bisa nekat. Kalau cuma bayar kuliah tapi nggak ada biaya hidup, juga susah. Kalau tempatnya nggak aman atau nggak jelas, Ibu nggak akan izinkan.”
“Iya, Bu. Aku ngerti.”
“Bukan berarti Ibu mau motong mimpi kamu. Ibu cuma mau kamu punya rencana yang bisa dijalani.”
Xavier mengangguk.
Itu yang selalu ia kagumi dari ibunya. Ratna tidak pernah mengucapkan kalimat manis kosong. Ia tidak akan berkata, “Kejar mimpimu, uang gampang dicari,” karena mereka semua tahu uang tidak pernah benar-benar gampang dicari. Tapi Ratna juga tidak pernah mematikan mimpi anak-anaknya hanya karena sulit.
Ia selalu mencari jalan tengah antara harapan dan kenyataan.
Clara membuka salah satu situs kampus di laptop.